Madrasah Ramadhan

M. Shalahuddin, S.S.I, M.Pd Kepala SMAIT Nurul Fajri /Ketua MUI Cikarang Barat

 

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Madrasah Ramadhan tentunya memiliki pedoman atau kurikulum sebagai manifestasi ketakwaan. Tujuan madrasah Ramadhan, yaitu terjadinya revolusi akhlak dan perubahan perilaku. Allah SWT., menyiapkan Ramadhan sebagai ‘madrasah’ bagi insan beriman untuk belajar, menuntut ilmu dan mengisi ulang (recharge) keimanan sebagai media untuk membangun karakter dan peningkatan ketakwaan kita sebagai hamba Allah SWT. Di madrasah ramadhan ini setiap insan belajar banyak hal berhubungan dengan Allah SWT (hablum minallah) dan dengan manusia (hablum minannas).
Saat ini insan beriman memasuki fase terakhir mendapatkan gemblengan melalui sebuah madrasah ruhaniyah bernama ramadhan. Sebagaimana dimaklumi bahwa tatkala seseorang insan beriman memasuki bulan ramadhan, sesungguhnya dia telah mempersiapkan dirinya menjadi the student of ramadhan (peserta didik madrasah ruhaniyah ramadhan). Di bulan Ramadhan ini, insan beriman  mendapatkan pelajaran berharga dari apa yang kita sebut shaum, betapa tidak. Karena tatkala kita berpuasa, kita merasakan bagaimana rasanya lapar, bagaimana rasanya haus, bagaimana rasanya lemah, letih, lesu, menahan nafsu syahwat dan lain sebagainya.
Apabila diperhatikan lebih dalam, banyak pelajaran penting dalam madrasah Ramadhan yang sudah kita laksanakan. Pertama, pelajaran syukur. Tidak semua orang dapat menginjakkan kakinya pada Ramadhan tahun ini. Pandemi covid 19 yang telah melanda bangsa kita hampir tiga tahun ini menjadikan banyak orang-orang terdekat yang kita cintai telah di panggil sang khalik. Maka berbahagialah insan beriman berkesempatan kembali bertemu dengan Ramadhan 1443 H. Maksimalkan sebaik mungkin ibadah sebagai bentuk rasa syukur. Sebab, tak ada yang tahu, apakah Ramadhan berikutnya bisa berjumpa kembali atau tidak. Kedua, Pelajaran ikhlas dan sabar. Keikhlasan menjadi modal melaksanakan berbagai aktivitas ibadah pada Ramadhan. Semua dilakukan semata-mata mengharap keridhaan-Nya. Dengan ikhlas, hati menjadi riang dan ringan menjalankan setiap peribadahan. Sementara untuk membentengi keikhlasan itu diperlukan kesabaran. Bayangkan, bagaimana seorang Muslim harus berjibaku dengan nafsunya tatkala ia sedang menjalani shaum. Bersabar menahan lapar dan dahaga, diam dalam ucapan sia-sia bahkan dosa, tunduk dari pandangan yang tak membawa berkah dan berusaha tidak melakukan hal-hal yang tak disenangi Allah SWT. Ketiga, Pelajaran amanah dan jujur. Ramadhan menjadi madrasah untuk menumbuhkan kedua sifat tersebut. Bayangkan, yang mengetahui seseorang sedang shaum ialah hanya Allah dan dirinya sendiri. Walaupun seseorang berada dalam kesempatan untuk mencicipi makanan, ketika sadar bahwa ia sedang shaum maka insan beriman tidak akan memakannya. Mengapa? Karena dilihat orang ataupun tidak, ia akan tunduk karena Allah semata.
Tentu menjadi sebuah hadiah dalam perjalanan madrasah ramadhan yang digembleng selama satu bulan penuh dengan berbagai cara dan metode yang mungkin tidak dilakukan dihari-hari biasanya, seperti puasa, shalat tarawih, qiyamul lail, tadarus al-qur’an, muhasabah, itikaf, infaq, zakat fitrah dan amal baik lainnya. Karena itulah maka, madrasah ramadhan ini harus bisa memberikan multiplayer efec kepada setiap muslim dan muslimah, minimal menjadi insan beriman yang mampu untuk peka secara sosial, memiliki empati yang tinggi atau lebih dalamnya mampu merasakan denyut hati penderitaan terhadap sesama.
Dr. Muhammad Bakr Ismail, dosen Tafsir dan Ulumul Qur’an di Universitas Al-Azhar Kairo menjelaskan : Kalau saja taqwa menjadi lifestyle, niscaya mukmin itu tidak akan pernah “bangkrut”, karena setiap kebaikan yang dia kerjakan atas dasar taqwa akan mendapatkan pahala dari sisi Allah, pahala tersebut akan menghapus jejak keburukan yang pernah dikerjakannya. Ulama besar dunia, Yusuf al-Qaradhawi, dalam bukunya Fiqh al-Shiyam menegaskan bahwa pelaksanaan puasa Ramadan merupakan institusi pendidikan moral par-excellence (madrasah mutamayyizah) atau lembaga pendidikan favorit yang dibuka oleh Allah Swt setiap tahun menjadi lembaga training tahunan bagi umat Islam yang berkadar kurikulum Ilahi. Ramadhan merupakan madrasah bagi orang beriman. Banyak pelajaran yang Allah SWT berikan pada bulan penuh berkah ini. Kurikulumnya disusun agar setiap Muslim mampu menaikan level kelas keimanannya. Wahana untuk melatih diri, menggembleng jiwa, agar menjadi pribadi berkualitas, hamba yang taat, serta mencapai derajat takwa.
Semoga kita bisa memanfaatkan momentum madrasah Ramadhan ini untuk memperbanyak pengabdian dan mengambil pembelajaran karakter untuk menata hati dan meningkatkan kompetensi dalam melaksanakan pengabdian kepada-Nya sesuai dengan kapasitas kita selaku hamba-Nya. Sebagaimana ketentuan kurikulum Allah serta selalu mengamalkan ibadah-ibadah sunah sebagaimana disyariatkan.
Pengejewantahan seluruh “kurikulum” madrasah Ramadhan apabila dilalui dengan baik sebagai tempat latihan untuk meraih gelar takwa menunjukkan sukses dan berhasil dalam menempuh ujian madrasah puasa Ramadan 1443 H. Oleh karena itu, kita patut memperoleh keuntungan yang besar, yaitu magfirah dan keselamatan siksa neraka. Kita pun nanti siap diwisuda pada hari raya Idulfitri 1443 H sebagai wisudawan paling mulia. “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu” (QS Al-Hujuraat : 13).
Wallahu A’lam Bis Shawab (*)