Seorang Rp500 Ribu Belanja Lebaran

ILUSTRASI : Sejumlah pengunjung memadati di salah satu pusat pembelanjaan di Kota Bekasi. Belum lama ini. Sepekan jelang Lebaran Idul Fitri antusian warga untuk berbelanja meningkat. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sudah menjadi budaya masyarakat Indonesia khususnya warga Bekasi, jika lebaran harus mengenakan pakaian baru, meskipun tradisi tersebut bukan kewajiban. Sehingga tak heran jika sejumlah pusat perbelanjaan dipadati pengunjung setiap menjelang hari raya Idulfitri. Sementara itu, secara nasional perputaran uang diprediksi mencapai Rp200 triliun selama periode lebaran.

Di Kota Bekasi, transaksi jual beli mulai ramai sejak sepekan terakhir. Meskipun saat ini sudah dimudahkan dengan belanja online, namun tidak sedikit warga memilih langsung belanja ke mall,”Sekalian lepas kangen, karena sudah lama banget nggak ke mall,”kata Hany Fitriani (25), warga kelurahan Aren Jaya Bekasi Timur.


Dia mengaku, di keluarganya memiliki tradisi membeli pakaian baru saat lebaran. Meskipun tidak mahal dan mewah, tapi yang penting baru,”Kalau nggak beli baju baru saat lebaran, sepertinya ada yang kurang. Minimal ada yang baru, meskipun murah,”katanya.

Senada juga disampaikan warga Kota Bekasi lainnya, Gina (30). Dia mengaku sudah berbelanja kebutuhan lebaran untuk keluarganya sejak pekan kemarin. Barang-barang yang dicari diantaranya pakaian untuk anak, mertua, orang tua, dan sanak keluarga sebagai hadiah lebaran. Busana muslim beserta dengan kelengkapan aksesoris lain seperti alas kaki masuk dalam daftar barang yang harus dibeli.


Untuk keperluan lebaran satu orang anggota keluarga, ia bisa menghabiskan budget Rp500 ribu.”Kaya misalnya perempuan itu gamis sama sandal dan sepatunya, atau kerudungnya. Begitu juga sama yang cowok, tapi kalau yang anak-anak itu kaya lebih lengkap lagi aja. Satu orang itu ya bisa 500 lah kurang lebih,” katanya, Senin (25/4).

Dengan total pengeluaran per satu anggota keluarga tesebut, uang Tunjangan Hari Raya (THR) sebesar satu kali gaji bulanan yang ia terima tidak cukup. Kebutuhan anggaran belanja pada hari raya ini disebut bisa membengkak tiga kali lipat dibandingkan kebutuhan anggaran untuk belanja pada hari-hari biasa.

Alhasil, ia harus merogoh tabungan untuk memenuhi kebutuhan lebaran. Uang THR hanya cukup untuk membeli kebutuhan lebaran seperti aneka makanan dan bingkisan.”Lebih ke makanan dan hampers aja ya, untuk baju-baju kita pakai savingan (uang tabungan),” tambahnya.

Data terakhir jumlah penduduk hasil sensus tahun 2020 menunjukkan, Kota Bekasi dihuni oleh 2,5 juta jiwa. Sedangkan jumlah Kepala Keluarga (KK) pada semester dua tahun 2020, ada 769.691 KK. Pengeluaran per kapita per bulan tahun 2021 Rp2,4 juta, pengeluaran masyarakat Kota Bekasi lebih besar untuk keperluan di luar makanan.

Berdasarkan data-data yang dihimpun oleh Radar Bekasi, maka ada Rp3,6 triliun uang yang akan dibelanjakan oleh masyarakat pada masa lebaran dengan asumsi kebutuhan belanja masyarakat naik dua kali lipat. Selain kebutuhan lebaran masyarakat, meningkatnya jumlah uang yang dibelanjakan juga didukung oleh tambahan pendapatan melalui yang THR yang diterima saat lebaran.

Secara nasional Ekonom Indef, Tauhid Ahmad memprediksi peredaran uang Rp200 triliun selama periode libur lebaran. Jumlah ini lebih besar dibandingkan sebelum pandemi pada tahun 2019 sebesar Rp185 triliun.

Meski tidak mengkalkulasi sampai ke tingkat daerah, ia memastikan peredaran uang di tiap daerah meningkat pada masa libur lebaran tahun ini.”Pasti besar, melonjak di semua daerah, sudah hampir menyamai tahun 2019 bahkan lebih (tinggi) sedikit money supply nya,” kata Tauhid.

Prediksi jumlah peredaran uang pada saat mudik lebaran beberapa waktu lalu juga disampaikan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno. Perputaran uang pada saat mudik lebaran yang lebih panjang dari tahun sebelumnya diperkirakan Rp72 triliun, dengan catatan akan ada 48 juta pemudik, serta pengeluaran wisatawan nusantara pada tahun 2020 Rp1,5 juta per orang.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey kepada Radar Bekasi mencatat peningkatan pengunjung pusat perbelanjaan saat ini mencapai 70 hingga 80 persen dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Diprediksi peningkatan masih akan terjadi sampai menjelang tanggal 28 dan 29 April di puncak arus mudik.

Dari hasil analisis tradisi berbelanja masyarakat Roy menjelaskan, tradisi berbelanja ini terbagi dalam tiga sesi, dimana terjadi peningkatan pengunjung di pusat perbelanjaan. Pertama dua sampai tiga hari menjelang Ramadan, kedua pada saat masyarakat sudah menerima THR, dan terakhir pada saat masyarakat berada di kampung halaman.

“Nah jadi dari yang ketiga itu, poin tertingginya adalah setelah terima THR. Itu sesuai dengan harapan pemerintah bahwa tahun ini THR harus diberikan full, bahkan tidak dicicil dan diberikan 10 hari sebelumnya (lebaran),” ungkapnya.

Traffic pengunjung pusat perbelanjaan dewasa ini kata Roy adalah rekor peningkatan terbesar jumlah pengunjung selama pandemi. Lebaran dua tahun lalu, jumlah pengunjung pusat perbelanjaan tidak sampai di angka 50 persen, peningkatan nampak sejak hari Sabtu dan Minggu kemarin.

Masyarakat disebut tidak surut minatnya untuk berbelanja ditengah harga-harga komoditas yang saat ini fluktuatif, bahkan cenderung naik. Hal ini diprediksi lantaran dua tahun masyarakat tidak boleh mudik dan memilih untuk menyimpan uang mereka untuk ditabung, sehingga pada saat masyarakat diperbolehkan untuk mudik mereka mempergunakan uang tabungan berikut dengan THR untuk berbelanja kebutuhan lebaran di kampung halaman.

“Jadi hal ini lah yang menjadi pemicu, uang saving mereka yang sudah disimpan untuk berbelanja selama ini karena tidak bisa mudik, kemudian karena adanya THR full yang diterima. Itu yang memberikan gejolak berbelanja masyarakat,” tambahnya.

Situasi ini kata Roy akan membawa dampak positif bagi perekonomian Indonesia. Pasalnya perekonomian Indonesia 56 persennya disumbang oleh konsumsi rumah tangga. (Sur)