Beroperasi Akhir Tahun

ILUSTRASI : Rangkaian kereta Light Rail Transit (LRT) berada di Kawasan Jakasampurna, Kota Bekasi, Minggu (13/2) PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau PT KAI mengatakan tahap operasional komersial LRT akan dimulai pada Desember 2022 atau awal tahun 2023. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Light Rail Transit atau Lintas Raya Terpadu Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi (LRT Jabodebek) akan beroperasi akhir tahun 2022 atau awal tahun 2023 mendatang. Ada sejumlah pekerjaan yang masih harus diselesaikan terkait dengan aksesibilitas dan integrasi transportasi. Sementara itu, diperkirakan 157.749 warga Bekasi setiap hari menggunakan transportasi ini.

Secara fisik pekerjaan rel dan infrastruktur lain sudah mencapai 97 persen. Sementara, masih banyak yang harus dikerjakan pada dua prasarana lain, yakni track dan sistem modanya. Pengintegrasian prasarana, sinyal dengan sarana baru selesai 30 persen.


“Jadi ada tiga komponen, track, sarana, sistem. Ketiga ini harus diintegrasikan. Ketiga sistem ini sekarang masih dalam proses 30 persen,” terang Direktur Prasarana Perkeretaapian Kemenhub Harno Trimadi dalam sesi webinar, Kamis (12/5).

Terkait dengan aksesibilitas antar stasiun, rata-rata masih di angka 70 persen progres pengerjaannya. Ia merinci lintas satu 80 persen, lintas dua 74 persen, dan lintas tiga 79 persen. Pembangunan sarana dan aksesibilitas kata Harno harus dikerjakan bersamaan, jika tidak maka akan sulit merubahnya.


“Jadi memang progresnya baru sekitar 70 persen. Jadi kita punya waktu, sembari ada masukan terkait aksesibilitas,” tambahnya.

Ada dua rute LRT Jabodebek, rute pertama menghubungkan Cibubur sampai Dukuh Atas, rute kedua menghubungkan Bekasi Timur sampai ke Dukuh Atas. Sepanjang lintasan kereta terdapat 18 stasiun, lima diantaranya berada di Kota Bekasi.

Dalam paparan aksesibilitas transportasi Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi, ada beberapa permasalahan yang harus diselesaikan. Diantaranya adalah sempitnya jalan menuju stasiun LRT, belum tersedianya layanan angkutan umum, tidak tersedianya jalur pejalan kaki, hingga keterbatasan area parkir.

Diprediksi ada 157 ribu penumpang per hari yang akan menggunakan LRT setiap hari. Terdiri dari 35 ribu penumpang dari stasiun Jatibening Baru, 10 ribu penumpang dari stasiun Cikunir 1, 28 ribu penumpang dari stasiun Cikunir 2, 59 ribu penumpang dari stasiun Bekasi Barat, dan 23 ribu penumpang dari stasiun Jatimulya Bekasi Timur.

Plt Walikota Bekasi Tri Adhianto menyampaikan, aksesibilitas transportasi ini akan membawa pertumbuhan ekonomi dan pembangunan Kota Bekasi berjalan cepat. Hunian vertikal saat ini kata Tri, sudah bermunculan meskipun LRT belum beroperasi.

“Memang intinya adalah terkait dengan integrasinya, terkait dengan infrastruktur pendukungnya, dimana masih banyak jalan-jalan kolektor, yang kemudian harus ditingkatkan menjadi jalan arteri. Agar kemudian nanti dapat berintegrasi dengan kendaraan transpatriot yang kita miliki,” ungkapnya.

Saat ini total ada 29 unit bus Transpatriot yang dimiliki oleh Pemkot Bekasi. Rute atau koridor operasional bus masih harus optimalkan guna melayani calon penumpang LRT menuju stasiun.

Selain pengintegrasian Transpatriot dengan LRT, pekerjaan lainnya adalah menyediakan fasilitas tempat parkir untuk kendaraan pribadi, sampai dengan akses pengguna sepeda, dan pejalan kaki.

Di area stasiun Cikunir satu, Pemkot Bekasi telah melakukan pembebasan lahan untuk pembangunan jalan sebagai akses menuju stasiun. Akses jalan sempit berukuran 5 sampai 6 meter menjadi persoalan menuju stasiun Cikunir 2, dibutuhkan usaha ekstra untuk menyediakan akses jalan terutama jika ingin diintegrasikan dengan Transpariot.

Komunikasi telah dibangun dengan pengembang apartemen di wilayah Jatimulya, di wilayah itu akan dibangun Transit Oriented Development (TOD), beberapa pusat bisnis, shuttle bus, hingga pedestrian sehingga beban kendaraan tidak bertumpuk hanya pada Jalan HM Joyomartono.

Berbeda dengan empat stasiun lain, di Stasiun LRT Bekasi Barat Pemkot Bekasi kata Tri cukup optimis lantaran akses menuju stasiun sudah dibangun, termasuk jembatan penyebrangan yang dapat digunakan oleh pejalan kaki, terhubung ke pusat perbelanjaan. Fasilitas lainnya adalah park and ride, pihaknya tengah berupaya untuk dapat memanfaatkan lahan milik Jasa Tirta guna menambah luas area parkir.”Kalau ini bisa kita realisasikan, integrasi moda bisa kita wujudkan,” paparnya.

Situasi pandemi Covid-19 kata Tri membuat kemampuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Bekasi minim untuk pembangunan infrastruktur. Selama dua tahun belakangan, kemampuan keuangan daerah difokuskan untuk penanganan kesehatan dan pemulihan ekonomi.

“Karena tiga tahun ini dengan adanya Covid-19, pada akhirnya memang untuk infrastruktur, untuk pendanaan dari APBD sendiri menjadi sangat kurang karena konsentrasinya kita menyelesaikan persoalan kesehatan,” tambahnya.

Dua area stasiun tidak didukung oleh layanan angkutan umum, diantaranya stasiun LRT Jatibening Baru dan Cikunir 2.

Kepala Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan MTI Pusat, Djoko Setijowarno menyampaikan berbagai permasalahan ini tidak hanya terjadi di Kota Bekasi. karakter wilayah semua stasiun LRT terdapat sejumlah perumahan, kondisi ini menjadi potensi pengguna LRT.

Dengan permasalahan sempitnya lahan parkir, maka bisa tidak bisa Kota Bekasi mesti memiliki publik transport atau transportasi publik yang bisa dimanfaatkan masyarakat sebagai alat transportasi menuju stasiun LRT. Meskipun diintegrasikan dengan Transpariot, maka akses jalan yang sempit menuju stasiun harus didukung oleh transportasi pengumpan menuju stasiun.

“Nanti feeder-feeder bantu masuk ke sini (stasiun), tapi hampir semua stasiun disini lahan parkirnya tidak begitu besar. Disamping lahan parkir, justru kita bagaimana memperbanyak transport saja, termasuk di kawasan-kawasan perumahan yang kecil-kecil itu,” ungkapnya.

Djoko berpendapat pemerintah tidak perlu menyiapkan area parkir sebanyak-banyaknya, melainkan fokus pada moda transportasi massal menuju stasiun. Di area stasiun Cikunir 1, yang mesti dilakukan adalah memperbesar jalur pejalan kaki, yang ada saat ini hanya berukuran 1 meter.

Transportasi publik dan akses yang memadai menuju stasiun akan membuat LRT bisa dimanfaatkan oleh semua lapisan masyarakat.

“Jangan kesannya, saya ditanya orang Bekasi juga, pak ini jangan sampai LRT untuk orang apartemen saja, kami juga ingin menikmati, artinya mereka ingin akses angkutan umum,” tukasnya.

Ia berpesan sebelum beroperasi, musti dilakukan simulasi aksesibilitas. Hal ini berguna untuk mendapat kesimpulan dari masyarakat terkait kenyamanan dengan aksesibilitas yang sudah disediakan.

Progres pengerjaan proyek LRT Jabodebek disampaikan oleh Direktur Utama PT KAI, Didiek Hartantyo mencapai 85,75 persen. Pekerjaan rumah terbesar yang harus dikebut oleh pihaknya adalah melakukan uji coba lintasan.

Uji coba secara umum baru akan dilaksanakan pada bulan Oktober mendatang. Ditarget operasional komersial LRT Jabodebek dimulai akhir tahun ini atau awal tahun 2023.

“Bulan Agustus, nanti kami melakukan demo GoA 3 di lintasan, lalu trial and run di Oktober. Pada Desember 2022 atau awal 2023 akan dimulai tahap operasional komersial di LRT Jabodebek,” paparnya. (Sur)