Warga Setu Pertahankan Tradisi Adu Bedug

ARAK DONGDANG : Warga membawa dongdang berisikan hasil bumi saat festival tonggong londok antar dua desa, di Desa Ciledug, Setu, Kabupaten Bekasi, Minggu (15/5). ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Dua kampung di Kecamatan Setu, yakni Kampug Rawa Atug, Desa Cibening, dan Kampung Cigebang Desa Cibening, Kabupaten Bekasi, mengadakan tradisi adu bedug yang biasa dilakukan setelah hari raya Idul Fitri.

Tokoh masyarakat setempat, Saco Suhanda mengatakan, tradisi adu bedug ini rutin dilakukan di wilayahnya setiap usai Lebaran, dan sudah turun temurun dari nenek moyang pada zaman dulu.


“Tradisi adu bedug ini sudah turun menurun, mulai dari nenek moyang zaman dulu,” tuturnya kepada Radar Bekasi, belum lama ini.

Kata dia, dalam tradisi adu bedug ini, ada beberapa hiburan lainnya, seperti angklung, panjat pinang, dan yang lainnya, untuk menghibur dan sebagai ajang silaturahmi setelah Lebaran. Adapun untuk biayanya, patungan dari warga.


Diakui Saco, pada dua tahun sebelumnya, tidak dilakukan tradisi adu bedug, karena ada pandemi Covid-19, sehingga harus mengikuti anjuran pemerintah. Sementara untuk sekarang, sudah kembali diperbolehkan. Oleh karena itu, dirinya berharap agar kedepannya tradisi seperti ini harus tetap dipertahankan.

“Harapan saya, tradisi seperti ini harus tetap ada, sehingga tidak menghilangkan budaya nenek moyang dan orang tua,” ucapnya.

Salah satu warga yang menyaksikan kegiatan tersebut, Rosita menuturkan, tradisi ini memang setiap tahun diadakan setelah Lebaran.

“Kegiatan ini memang sudah menjadi adat istiadat warga, sekaligus jadi ajang silaturahmi sekaligus hiburan. Apalagi dua tahun sebelumnya, tradisi ini tidak dilakukan,” terangnya. (pra)