DBD Masih Mengancam

ILUSTRASI: Petugas PMI melakukan fogging upaya pencegahan nyamuk DBD di kawasan Mustikajaya, Kota Bekasi. Kasus DBD di Kota Bekasi meningkat di tahun 2022 data Dinas Kesehatan Kota Bekasi mencatat sebanyak 1.154 kasus. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Setelah angka kasus Covid-19 melandai, angka kasus penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Kota Bekasi justru mengalami peningkatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi Tanti Rohilawati menerangkan, terhitung sejak awal tahun hingga 16 Mei 2022, kasus DBD mencapai 1.154 kasus.


“Kasus DBD di Kota Bekasi sampai dengan tanggal 16 Mei 2022 sebanyak 1.154 kasus,” ujar Tanti Rohilawati kepada Radar Bekasi, Rabu (18/5).

Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya untuk kasus DBD sendiri terhitung bulan Januari sampai April tahun 2022 mencapai 1.011 kasus, tahun 2021 mencapai 796 kasus, tahun 2020 mencapai 871 kasus dan tahun 2019 mencapai 1.809 kasus.


Adapun berdasarkan data dari Januari sampai dengan 16 Mei 2022, wilayah yang dengan jumlah data kasus DBD tertinggi yakni Kecamatan Bekasi Utara.

“Berdasarkan data dari Januari sampai dengan 16 Mei 2022 Kecamatan Bekasi Utara (terbanyak),” tuturnya.

Dalam pencegahan kasus DBD Kota Bekasi sendiri, melakukan program satu rumah satu jumantik guna penanggulangan dan penanganan kasus DBD, khususnya bagi anak-anak dan Ibu hamil.

“Pencegahan kasus DBD kita melalui pemberantasan sarang nyamuk(PSN) dalam program Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik,” tegasnya.

Pihaknya menyarankan agar masyarakat Kota Bekasi dapat mengantisipasi penyebaran DBD tersebut, dengan menerapkan pola hidup sehat dan menjalankan 4M.

“Menjadi tanggung jawab setiap rumah untuk melakukan pemantauan Jentik tiap seminggu sekali. Pemberantasan sarang nyamuk dengan 4 M (menguras, menutup,mengubur, dan memantau ) dan membuang jentik ke tanah pada penampungan-penampungan air , reservoir tempat bersarangnya jentik nyamuk DBD,” jelasnya.

Karena dalam antisipasi penyebaran kasus DBD ini tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja, melainkan masyarakat juga harus turut berpartisipasi dalam mencegahnya.

Sementara Lurah Mustikajaya Moch Sunaryadi menerangkan, penanganan dalam kasus DBD di wilayahnya sudah lebih diperhatikan sebelum Covid-19 menerpa.

“Penanganan DBD sudah jauh sebelum ini (Covid-19), kita masih melakukan penyemprotan dan tetap 4M,” ujarnya saat dihubungi Radar Bekasi, Rabu (18/5).

Penyemprotan atau fogging sendiri dilakukan sesuai wilayah yang terindikasi DBD. Namun pihaknya tidak merekomendasikan penyemprotan dalam penanganan DBD. Melalui kader PSN pihaknya memilih memberikan himbauan kepada warga dengan tetap melakukan 4M guna terhindar dari kasus DBD.

“Tergantung wilayah yang terinfeksi DBD,Tapi kalau penyemprotan saya tidak rekomendasi, karena di medis penyemprotan DBD tidak direkomendasikan, makanya kita sering menghimbau 4M saja,” tutupnya. (cr1).