RADARBEKASI.ID, BEKASI – Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) ditemukan menjangkit belasan hewan ternak di Bekasi. Penyakit ini sudah ada di 20 kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Barat (Jabar), meski saat ini sudah menyebar di sebagian besar daerah, penanganan diklaim sudah terkendali. Ditemukan sederet kendala lalu lintas hewan ternak antar daerah dalam penanganan penyakit ini.
Sejak awal, pemerintah telah mengantisipasi penyebaran penyakit pada hewan ini, termasuk Pemerintah Kota Pemkot (Pemkot) melalui pembentukan satgas hingga penyediaan call center. Namun, usaha yang telah dilakukan nampaknya masih bisa ditembus, ada belasan hewan ternak terpapar.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan pada Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP), Wadi Rima menyampaikan bahwa belasan hewan ternak yang terpapar tersebut bulan lagi dugaan, sudah dibuktikan hasil uji laboratorium sampel yang diambil oleh Balai Veteriner Subang. Kasus ini ditemukan pada hewan milik peternak atau pedagang di dua kawasan Kecamatan, tepatnya di Kelurahan Aren Jaya dan Jatiluhur.
“Kami koordinasi dengan balai pengujian yang ada di Subang untuk pengambilan sampel, kami dampingi ke Aren Jaya dan Jatiluhur untuk ambil tiga sampel, dan hasilnya positif,” kata Wadi, Minggu (29/5).
Awalnya, pedagang mendatangi DKPPP untuk berkonsultasi terkait dengan kesehatan 40 hewan ternak di Kelurahan Aren Jaya. Puluhan hewan ini sudah dipelihara selama 10 bulan. Pedagang sempat berencana untuk menambah jumlah hewan ternak miliknya sebelum DKPPP meminta yang bersangkutan untuk bersabar dan berhati-hati lantaran pemerintah sedang mewaspadai penyakit PMK.
Tepat pada tanggal 20 Mei lalu, tim dari DKPPP Kota Bekasi mendatangi lokasi peternak untuk memeriksa kesehatan puluhan sapi disana. Satu hari setelahnya, pemilik hewan ternak melaporkan gejala klinis, saat delapan ekor sapi mengeluarkan banyak air liur.
Belakangan diketahui peternak ini mendatangkan sapi dari luar Kota Bekasi. Padahal, telah diperingatkan untuk tidak mendatangkan sapi dalam waktu dekat dari luar Kota Bekasi.
Dalam rentang waktu yang sama, DKPPP Kota Bekasi juga menerima laporan gejala klinis mengarah pada penyakit PMK di tempat lain. Total sapi yang ditemukan terpapar PMK berjumlah 19 ekor, beruntung sapi yang terindikasi terjangkit PMK sudah dalam keadaan terpisah dengan sapi lain yang berstatus sehat.
“Yang Aren Jaya pengambilannya dari Purwakarta, itu sudah rawan. Yang Jatiluhur pengambilannya dari Semarang,” tambahnya.
Petugas masih menunggu perkembangan 17 ekor sapi yang tengah dalam perawatan selama dua pekan kedepan, dua ekor lainnya dipotong bersyarat. Belasan sapi ini diberi vitamin, desinfeksi kandang, dijemur dibawah sinar matahari, hingga pemberian pakan secara rutin dalam masa perawatan.
Selain sapi, pengelola lokasi hewan ternak juga diminta untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat seperti mandi, disinfeksi, dan ganti pakaian sebelum beraktivitas. Dikhawatirkan virus menempel di badan pengelola kandang.
Pasca temuan kasus ini, lalu linta keluar masuk hewan di Kota Bekasi lebih diperketat, setiap pedagang atau peternak diminta untuk lebih aktif berkomunikasi dengan DKPPP Kota Bekasi terkait dengan kesehatan hewan miliknya.
Selain itu, peternak atau pedagang juga diminta untuk memperhatikan status daerah asal pengiriman hewan ternak, juga memastikan hewan ternak yang datang sudah dilengkapi dengan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH), sesampainya di Bekasi hewan ternak mesti menjalani karantina.
“Jangan lupa untuk sering berkoordinasi dengan kami selaku dinas, agar apabila terjadi wabah PMK kepada hewan ternak bisa segera ditindaklanjuti,” tukasnya.
Terpisah, dalam kegiatan yang disiarkan secara virtual, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Provinsi Jabar, Muhammad Arifin Soedjayana menyebut kondisi per 26 Mei hewan yang terjangkit PMK di Jabar sebanyak 2.816 ekor sejak awal ditemukan pada 7 Mei silam. Terdiri dari sapi potong, sapi perah, domba dan kambing.”Jadi secara total kabupaten kota memang kita sudah tersebar di 20 Kabupaten dan Kota,” katanya.
Kondisinya, tingkat kesembuhan hewan ternak saat ini di angka 6,85 persen atau sudah 193 ekor hewan ternak yang dinyatakan sembuh. Sedangkan tingkat kematian ada di angka 1,17 persen, atau 33 ekor hewan ternak mati akibat terjangkit PMK.
Disamping itu, ada 69 hewan ternak yang dipotong bersyarat, sekira 2,45 persen dari total kasus yang ditemukan. Dengan data ini, Arifin menyebut penanganan PMK di Provinsi Jabar terkendali.”Jadi kalau dilihat secara keseluruhan, sebenarnya sudah terkendali lah,” tambahnya.
Kendala yang dialami dalam penanganan PMK ini kata Arifin, salah satunya adalah pengawasan lalu lintas hewan ternak yang masuk ke Jawa Barat. Terlebih, kebutuhan hewan ternak hidup di Jabar 80 persennya berasal dari luar daerah.
Pada sisi bisnis ini, pengiriman hewan ternak bagaimanapun akan dicari jalannya, mulai dari jalur alternatif hingga jalur tol Trans Jawa yang menghubungkan daerah di wilayah Timur hingga Barat Pulau Jawa.
Pihaknya telah menjalin kerjasama dengan kepolisian untuk melakukan mobile check point di pintu masuk tol dan di pintu masuk Jawa Barat.
Terkait dengan kemunculan wabah penyakit pada hewan ini, sebelumnya Epidemiolog Griffith University, Dicky Budiman menyampaikan bahwa potensi lompatan virus ke hewan tetap ada seiring dengan perubahan iklim, perilaku manusia, dan ekosistem. Pemerintah bisa belajar dari pandemi Covid-19 untuk merespon lebih kuat, termasuk mitigasi.
Karantina yang saat ini dipilih dalam penanganan wabah PMK kata Dicky memang dikenal dalam dunia hewan. Strategi ini logis dilakukan di wilayah yang terpapar.
Selain itu, Dicky juga menyampaikan mesti ada sinergitas antara ahli kesehatan hewan dan manusia, pendekatan yang dilakukan tidak bisa parsial. Istilah yang ia sebut One Health Approach kata Dicky tidak bisa dielakkan lagi untuk mencegah ancaman munculnya wabah berikutnya pada manusia yang berasal dari hewan.
“Jadi dunia ini sudah mulai menerapkan yang namanya pendekatan One Health Approach, dimana harmonisasi kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan ini sudah tidak bisa dielakkan lagi,” ungkapnya belum lama ini kepada Radar Bekasi. (Sur)











