Rawit dan Telur Meroket

HARGA NAIK : Pedagang memilih cabai rawit merah di Pasar Baru, Kota Bekasi, Kamis (16/12). Pedagang mengaku harga cabai rawit merah naik drastis dari harga Rp 50 ribu mencapai Rp 100 ribu. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sederet harga komoditi pangan di pasar mengalami kenaikan, mulai dari sayur mayur sampai telur. Kenaikan harga komoditas ini dirasakan oleh masyarakat, terutama pedagang disaat daya beli menurun. Kenaikan paling tinggi terjadi pada cabai rawit merah, harganya disebut mencapai Rp90 sampai Rp100 ribu per kg, sementara telur mencapai Rp30 per kg.

Pantauan daftar harga komoditas di beberapa pasar di Bekasi kemarin, kenaikan terjadi pada cabai keriting, cabai merah besar, cabai rawit hijau, cabai rawit merah, sampai buncis. Disamping kenaikan harga sejumlah komoditas tersebut, ada tiga komoditas yang turun harganya, yakni gula putih, gula merah, dan daging sapi.


Laporan mingguan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, komoditas pasar yang mengalami penurunan harga di Bekasi hanya daging sapi dan minyak goreng, masing-masing turun Rp1.250 dan Rp50 rupiah. Beras, daging sapi, dan gula pasir tidak mengalami perubahan harga, sedangkan ada lima komoditas yang naik harganya, paling tinggi adalah cabai rawit, naik Rp17.950 dalam sepekan.

Belakangan, cuaca, distribusi, hingga harga pangan hewan ternak disebut menjadi sederet faktor yang menyebabkan naiknya harga sejumlah komoditas. Kenaikan harga telur diakui oleh salah satu pedagang warung kopi di kawasan Bekasi Timur.


“Telur aja yang naik, naik Rp1.000 dari Rp38 menjadi Rp39 ribu. Yang lain seperti mie dan kopi masih sama harga belinya,” kata Husnul (28), Selasa (7/6).

Kenaikan harga bahan pangan lebih banyak dirasakan oleh pedagang Warung Tegal (Warteg) di Kota Bekasi. Mulai dari printilan seperti sayur mayur juga naik, kenaikannya berkisar seribu rupiah, tidak kurang dari 70 persen jenis sayur-sayuran yang harganya naik.

Komoditas lainnya yang naik harganya dan menjadi bahan baku pedagang Warteg adalah ayam potong, semula Rp28 ribu menjadi Rp38 sampai Rp40 ribu per kg. Telur naik dari kisaran harga Rp19 sampai Rp21 ribu, naik menjadi Rp29 ribu hingga Rp30 ribu.

Kenaikan harga yang paling signifikan adalah cabai rawit merah, pedagang mengaku membeli komoditas ini mulai dari harga Rp90 sampai Rp100 ribu per kg, dari harga normal berkisar di Rp30 ribu. Kenaikan harga ini disebut sangat memukul para pedagang di tengah turunnya daya beli masyarakat akhir-akhir ini.

“Akrobat ini, sudah 4 kali lipat,” kata Bendahara Komunitas Warteg Nusantara (Kowantara), Rojikin.

Ada yang aneh tahun ini, biasanya harga komoditas akan beranjak naik sebelum hari raya idul fitri beberapa waktu lalu, setelahnya turun. Namun tahun ini, fenomena yang terjadi justru sebaliknya.

Kenaikan harga sangat terasa satu pekan belakangan. Sementara itu, pemerintah disebut oleh Rojikin seolah-olah adem ayem di tengah situasi yang dialami oleh masyarakat saat ini.”(Naik sejak) habis lebaran, tapi yang terasa banget ini sudah seminggu ini lah, itu cabe (harganya) naik, naik, naik,” kata pedagang warteg di kawasan Mustikajaya ini.

Asosiasi, paguyuban, komunitas, hingga koperasi pedagang tengah berupaya mengurai benang kusut ini. Mereka sedang berupaya untuk membangun ekosistem perdagangan dengan membentuk Komite Ekonomi Rakyat Indonesia Semesta (Keris) dewasa ini.

“Kita gandeng asosiasi petani, asosiasi pasar, asosiasi pedagang, jadi biar dari hulu ke hilirnya itu kita nyambung. Tujuannya itu, tapi kan nggak semudah membalikkan telapak tangan,” tukasnya.

Satu permasalahan terpecahkan, yakni mengatasi tingginya harga minyak goreng di pasaran beberapa waktu silam. Rojikin yang juga merupakan ketua Koperasi Usaha Nusantara Jaya (Kuntara) dipercaya menyalurkan minyak goreng subsidi bekerjasama dengan perusahaan BUMN kepada pedagang di Jabodetabek.

Salah satunya adalah pedagang Warteg di Bekasi, total minyak goreng yang didistribusi sebanyak lima ribu liter. Harga per liter Rp14 ribu.

Terpisah Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Bekasi, Tedy Hafni membenarkan ada sejumlah komoditas di pasar yang mengalami kenaikan harga di Kota Bekasi. Kenaikan harga terutama terjadi pada cabai rawit merah.

“Iya, lagi pada naik lagi, nasional sih bukan hanya di kita saja. Cabe yang pasti mah, naiknya lumayan juga sih, di kita ada yang Rp70 ribu sampai Rp70 ribu lah itu per Kg,” katanya.

Sedangkan komoditas jenis telur, harganya terpantau berkisar dibawah Rp30 ribu per kg. Ia menyebut banyak hal yang menjadi faktor kenaikan komoditas di pasar, salah satunya cabai dilatarbelakangi cuaca hujan sehingga distribusi berkurang, ditambah dengan kenaikan harga pakan ternak dan biaya distribusi untuk komoditas lain.

Situasi ini tidak sebanding dengan tingginya jumlah permintaan di Kota Bekasi. Komoditas lain disebut relatif stabil harga dan pasokannya.”Relatif stabil sih kalau yang lain, cuma (pasokan) cabai menurun banget,” tambahnya.

Harga jual minyak goreng mulai membaik, harga rata-rata minyak goreng curah di pasar berkisar Rp16 ribu. (Sur)