Kado Dalam Rangka Hut Polri, Polisi Dan Lapor Kambing Hilang Sapi

Assoc.Prof. T. Syahrul Reza (Dosen Senior Institut Ilmu Sosial dan Manajemen  "STIAMI"( Institut Stiami) Jakarta,  Founder-CEO ASEAN Lecturer Community (ALC)-  www.aseanlecturer.com.  )

 

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Dalam rangka menyambut Hari Kepolisian Republik Indonesia kita semua tentu menyampaikan ucapan selamat dan mendoakan semoga Kepolisian Republik  Indonesia  terus maju, berjaya dan mampu menjadi pengayom masyarakat  sebagaimana  slogannya. Dalam kesempatan tulisan kali ini saya ingin memberikan satu tinjauan tentang Kepolisian  Republik  Indonesia  berkaitan dengan Hari Ulang Tahun  nya bagaimana phenomena dan penilaian masyarakat terhadap Kepolisian  Republik Indonesia, setidaknya dalam 10 tahun terakhir.


Sebagaimana kita ketahui bahwa  diakui atau tidak kepercayaan masyarakat terhadap Institusi Polri pada masa dahulu sangat rendah  begitu juga pada institusi lain seperti kejaksaan. Itu sebab pada reformasi  1998 salah satu yang di tuntut adalah reformasi hukum yang kemudian dari tuntutannya  melahirkan Lembaga  Superbody  yang kita kenal KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Jadi kelahiran KPK  tidak lain dan tidak bukan klimak karena ketidak  percayaan atas kemampuan Institusi Polisi dan Kejaksaan dalam mengungkap kan pidana extra ordinary yang terkait dengan penyalahgunaan  wewenang atau jabatan publik yang di kenal dengan slogan yang dahulu diperjuangkan nahasiswa yaitu KKN (Kolusi, Korupsi , dan Nepotisme)

Setelah reformasi 1998 yang sekarang sudah berusia 24 tahun, kita melihat perubahan persepsi masyarakat  terhadap kepolisian itu setidaknya terkait dengan pergantian para Kapolri atau siapa profil Kapolri. Dahulu ada phenomena yang kita sering dengar seperti judul  tulisan ini yaitu percuma kita melaporkan sesuatu kasus kepada polisi yang ketika kita melaporkan kehilangan kambing justru akan kehilangan sapi juga, ini dikarenakan  berbelit-belitnya  proses yang di lalui oleh masyarakat dan belum tentu mendapat pelayanan yang baik.


Phenomena Baru

Persepsi dan penilaian masyarakat di atas tentu harus dikikis habis oleh Kepolisian RI agar bisa mendapatkan kepercayaan kembali dari masyarakat,  namun masalahnya menjadi kembali ketitik bawah ketika terjadi kasus  KTP palsu  Djoko Tjandra, koruptor yang  melarikan diri ke Malaysia dan kembali ke Indonesia, bahkan bisa hilang red-noticenya di Kepolisian. Ini satu titik paling krusial dimana sebelumnya citra polri coba di bangun oleh Jenderal Sutanto dan beralih kepada Jenderal Tito Karnavian serta terakhir Kapolri saat ini bernama Jenderal Sulistio Sigit. Di era Kapolri baru saat ini masyarakat merasa ada harapan karena beliau di kenal orang yang punya Trach Record baik dibanding sebelumnya yang sebagian sebenarnya hanya pencitraan untuk mendapat atensi dari partai politik. Jadi Kapolri yang baru saat ini sebetulnya memberi harapan namun bagaimana ke bawahnya ini persoalan lain lagi yang harus di tunjukkan dengan kinerja yang meyakinkan, terutama tranfaransi, integritas dan profesionalisme

Phenomena Jenderal Hoegeng

Semua orang ketika berbicara tentang kepolisian maka yang di harapkan adalah kondisi ideal ketika  Jenderal Hoegeng, Kapolri yang hidupnya serba sederhana tidak tercemar oleh perilaku-perilaku yang tercela, sehingga kita pernah dengar dari (Alm) Gusdur bahwa di Indonesia hanya ada 3 polisi yang jujur yaitu  :  Polisi Tidur, Patung Polisi dan Jenderal Hoegeng. Jadi rakyat mengimpikan  polisi adalah benar-benar lembaga yang bisa di percaya dan mengayomi masyarakat, tetapi ada phenomena sejumlah lulusan-luluan Akademi Kepolisian  yang masih muda, yang pangkatnya cepat meroket, serta nila di lihat kekayaannya bergerak sangat cepat.  Masyarakat berpikir dari mana semua itu, sedangkan barapa gaji polisi semua kita mengetahuinya.

Pada hari kepolisian saat ini perlu ada sebuah perenungan bersama termasuk dari public untuk ikut membantu Lembaga Kepolisian dalam pelayanan kepada masyarakat, bisa menjadi tempat mencari keadilan, pelayanan hukum yang membuat kehidupan sosial menjadi lebih berkualitas, tertib dan lebih di yakini mempuni sebagai lembaga kepolisian yang Good Governance, Clear and Clearen.

Dirgahayu Kepolisian Republik Indonesia !!!