Keistimewaan Bulan Dzulhijjah

M. Shalahuddin, S.S.I, M.Pd (Dewan Guru SIT Nurul Fajri)

 

“Demi fajar, dan malam yang sepuluh, hari yang genap dan ganjil.” (Qs. Al Fajr : 1-3)


RADARBEKASI.ID, BEKASI – Dzulhijjah adalah bulan kedua belas dan terakhir dalam penanggalan kalender hijriyah. Dzulhijjah identik dengan kegiatan umat Islam dalam menyempurnakan rukun Islam, Dzulhijjah memiliki arti yang menunaikan ibadah haji. Maka, umat Islam menunaikan ibadah haji ke tanah suci Makkah pada bulan Dzulhijjah. Umat Islam berbeda pendapat dalam menentukan awal Dzulhijjah. Ada yang menggunakan hisab, rukyah, maupun mengikuti penetapan awal Dzulhijah di Arab Saudi. Dzulhijjah termasuk bulan haram atau yang sangat dimuliakan, bila berbuat amal saleh, ganjaran kebaikan akan diperoleh dengan pahala yang berlipat-lipat. Begitu juga sebaliknya jika berbuat dosa pada bulan-bulan tersebut, dosanya akan lebih besar dibandingkan bulan yang lain (Latho-if Al Ma’arif, 207). Dzuhijjah bulan disempurnakanya agama Islam oleh Allah. “Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan telah Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian, dan Aku telah meridhai Islam itu agama bagi kalian.” (QS : Al-Maidah : 3). Para ulama sepakat bahwa ayat itu turun di bulan Dzulhijjah saat Rasulullah melaksanakan haji wada’ di hari Arafah. Dzulhijjah adalah bulan muktamar umat Islam tingkat dunia. Di hari Arafah, umat Islam yang datang dari seluruh penjuru dunia untuk melaksanakan haji berkumpul di padang Arafah, demi melakukan prosesi puncak pelaksanaan manasik haji, yaitu wukuf di Arafah. Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Haji itu wukuf di Arafah.” (HR. Al Jama’ah)

Di dalam bulan Dzulhijjah ada hari-hari yang dipilih Allah sebagai hari terbaik sepanjang tahun. Allah berfirman : “Demi fajar, dan malam yang sepuluh, hari yang genap dan ganjil.” (Qs. Al Fajr : 1-3). Pendapat yang rajih (kuat) menyatakan bahwa yang dimaksud adalah 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Hal ini berdasarkan Hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dari Jabir radhiyallaahu ‘anhu “Sesungguhnya yang dimaksud dengan 10 itu adalah 10 hari Al Adh-ha, dan yang dimaksud dengan “ganjil” adalah hari Arafah, dan yang dimaksud dengan “genap” adalah hari raya Idul Adh-ha. (HR. Ahmad, An-Nasaa’i)


Bulan dzulhijjah sangat istimewa, khususnya 10 hari pertama di bulan dzulhijjah, sangat dianjurkan bagi kaum muslimin untuk memperbanyak amal shaleh. Hadits Rasulullah “Tiada suatu hari pun yang amal saleh lebih disukai oleh Allah padanya selain dari hari-hari ini. Yakni sepuluh hari pertama dari bulan Zul Hijjah. Mereka para sahabat bertanya, “Dan juga lebih utama daripada berjihad di jalan Allah?” Rasulullah Saw. menjawab: Dan juga lebih utama daripada berjihad di jalan Allah, terkecuali seseorang yang keluar dengan membawa hartanya untuk berjihad di jalan Allah, kemudian tidak pulang selain dari namanya saja. (H.R. Bukhari).

Banyaknya Keutamaan dan begitu istimewanya bulan dzulihijjah ini, maka disyari’atkan amal-amal shalih serta diberikan ganjaran pahala yang luar biasa. Di antara amal-amal tersebut adalah sebagai berikut : 1.) Puasa Arafah. Di dalam bulan Dzulhijjah ada sebuah hari yang sangat agung, yaitu hari Arafah. Pada hari tersebut disunnahkan bagi yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji untuk melakukan puasa. Puasa Arafah dapat menggugurkan dosa-dosa selama dua tahun. Pahala puasa Arafah (9 Dzulhijjah) lebih afdhal daripada pahala puasa Asyura (10 Muharram). Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Puasa Asyura dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu, dan puasa Arafah itu dapat menghapuskan dosa selama dua tahun, setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. An Nasaa’i). 2.) Berkurban dan Bertalbiyah. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sebaik-baik pelaksanaan haji adalah yang paling banyak bertalbiyah dan yang paling banyak berhadyu (menyembelih hewan sebagai hadiah untuk fuqara.)” (HR. Abu Ya’la, An-Nasaa’i, Al-Haakim, dan Al-Baihaqi). 3.) Dzikir. Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Hari-hari yang telah ditentukan adalah 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.” Berdzikir yang lebih diutamakan di hari-hari yang sepuluh ini adalah memperbanyak takbir, tahlil dan tahmid. Bukan hanya dilakukan di masjid atau di rumah, namun berdzikir ini bisa dilakukan di mana dan kapan saja. Bahkan para Sahabat sengaja melakukannya di tempat-tempat keramaian seperti pasar. Imam Bukhari berkata : “Ibnu Umar dan Abu Hurairah senantiasa keluar ke pasar-pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Mereka bertakbir, dan orang-orang pun ikut bertakbir karena mendengar takbir dari mereka berdua”. 4.) Tilawah Al Qur’an. Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Al Qur’an adalah sebaik-baik dzikir.” (HR. Ibnu Khuzaimah). Adalah hal yang sangat baik jika dalam waktu 10 hari tersebut, kita dapat mengkhatamkan bacaan Al Qur’an dengan membaca 3 juz setiap harinya. Hal ini sebenarnya mudah untuk dilakukan, yaitu dengan memanfaatkan waktu sebelum dan sesudah shalat fardhu. Dengan membaca 3 lembar sebelum shalat dan 3 lembar sesudah shalat, insyaAllah dalam 10 hari kita mampu mengkhatamkan Al Qur’an. Intinya adalah mujaahadah (bersungguh-sungguh). 5.) Sedekah. Diantara yang menunjukkan keutamaan bersedekah adalah cita-cita seorang yang sudah melihat ajalnya di depan mata, bahwa jika ajalnya ditangguhkan sebentar saja, maka kesempatan itu akan digunakan untuk bersedekah. Allah berfirman menceritakan saat-saat seseorang menjelang ajalnya : “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkanku sampai waktu yang dekat, sehingga aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih.” (Qs. Al Munaafiquun: 10). 6.) Haji.  Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : “Haji itu pada bulan-bulan tertentu.” (Qs. Al Baqarah: 197). Yang dimaksud dengan haji dalam ayat di atas adalah ihram untuk haji bisa dilaksanakan dalam bulan-bulan yang sudah ditentukan, yaitu: Syawwal, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah. Selain bulan-bulan tersebut, maka ihram seseorang untuk haji tidak sah. Bahkan hampir sebagian semua prosesi manasik haji dilakukan pada bulan Dzulhijjah.

Akhirnya, kita memohon kepada Allah diberi kekuatan dan taufiq-Nya agar kita bisa mengisi sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah dengan amal-amal shalih, dan diterima oleh Allah sebagai pemberat timbangan kebaikan kita di yaumil hisaab kelak.

Washallallaahu ‘ala nabiyyinaa Muhammad. Walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.