Misi Perdamaian dan Perdagangan Presiden Jokowi

Assoc.Prof. T. Syahrul Reza (Dosen Senior Institut Ilmu Sosial dan Manajemen  "STIAMI"( Institut Stiami) Jakarta,  Founder-CEO ASEAN Lecturer Community (ALC)-  www.aseanlecturer.com.  )

 

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Belum lama ini Presiden Jokowi melakukan kunjungan kenegaraan ke Ukraina dan Rusia. Kunjungan ini ramai diberitakan oleh media dalam  dan luar negeri, sebagian memuji langkah Presiden Jokowi ini sebagai bagian dari tugas Konstitusi yang mengamanatkan Perdamaian Dunia, namun sebagian yang lain justru menilai lawatan tersebut selain dianggap tidak akan bermanfaat juga beresiko secara keamanan, meskipun ke khawatiran tersebut tidak terbukti.


Misi Perdamaian

Sebagaimana telah sebut di atas bahwa misi perdamaian merupakan tugas konstitusi,  oleh karenanya tidak elok apabila Pemerintah Indonesia hanya berdiam diri dan apatis. Kontribusi dan perhatian Pemerintah Indonesia terhadap perdamaian dunia bukan hal baru, justru sudah sering sekali inisiatif perdamaian di lakukan oleh Pemerintah Indonesia, baik Afganistan, Myanmar, Somalia dan lain-lain. Bahkan Indonesia seringkali  mengikutsertakan TNI dalam misi-misi Pemeliharaan perdamaian di sejumlah Negara.


Bertolak dari hal di atas menjadi wajar misi lawatan Presiden Jokowi ke Ukraina dan Rusia belum lama ini. Hal lain yang tak kalah penting  juga adalah karena Indonesia merupakan salah satu importir gandum terbesar dari Ukraina, karena itu sekali berenang nagkap ikan sekalian.

Misi Perdagangan

Beberapa nitizen mulai “membully” misi lawatan Presiden Jakowi sebagai lawatan tanpa hasil, gagal dan lain-lain kalimat negative bahkan ada yang menuduh Presiden Jokowi berbohong atas misi yang disampaikannya dari lawatan ke Ukraina dilanjutkan ke Rusia.

Dari pidato atau statement yang di sampaikan Presiden Jokowi pada awak media dalam konferensi pers bersama Presiden Ukraina, jelas sekali presiden Jokowi lebih menekankan pentingnya kelancaran Perdagangan Dunia, sedangkan pesan perdamaian lebih terkesan tersirat saja.

Hal yang sama juga disampaikan Presiden Jokowi dalam Konferensi Pers dengan Presiden Rusia menekankan pentingnya menghindari krisis pangan atas dampak Blokade sejumlah pelabuan yang terimbas perang Ukraina dan Rusia.

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa lawatan Presiden Jokowi telah memberikan point positif dalam kerangka Politik Luar Negeri dan diplomasi Indonesia di kancah Dunia, apalagi Indonesia saat ini menjadi Presidensi G-20. Selayaknyalah kita mengapresiasi langkah dan upaya Presiden negara yang kita cintai ini, bukan sebaliknya hanya “Punya KepintaranNegative Thinking. (*)