Sebagian Sekolah Swasta Gagal Penuhi Kuota Siswa Baru

ILUSTRASI: Suasana pelaksanaan PPDB di SMP Tulus Bhakti Kota Bekasi. Sebagian sekolah swasta dari berbagai jenjang pendidikan di Kota maupun Kabupaten Bekasi gagal memenuhi kuota siswa baru pada penerimaan peserta didik baru tahun ajaran 2022/2023. ISTIMEWA

 

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sebagian sekolah swasta dari berbagai jenjang pendidikan di Kota maupun Kabupaten Bekasi gagal memenuhi kuota siswa baru pada penerimaan peserta didik baru tahun ajaran 2022/2023. Hal itu diketahui saat batas akhir pengambilan data atau cut off data pokok kependidikan (Dapodik) pada 31 Agustus 2022.


Sekretaris Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Kota Bekasi Ayung Sardi Dauly menyampaikan, hingga cut off Dapodik tidak ada perkembangan peningkatan signifikan dalam PPDB sekolah swasta.

“Persentasenya sama saja, kalaupun meningkat persentasenya kecil,” ujarnya kepada Radar Bekasi, Rabu (31/8).


Data PPDB pada Juli minggu ketiga berdasarkan laporan yang diterima BMPS, secara persentase peningkatannya berbeda-beda. Untuk jenjang SD 100 persen, SMP 50 persen, SMA 80 persen, dan SMK 80 persen.

Ayung menyebut, peningkatan penerimaan siswa baru saat ini tak sampai lebih dari lima persen. “Masing-masing persentasenya hanya menunjukan peningkatan di angka satu sampai dengan dua persen saja, tidak banyak,” ucapnya.

Selain kecilnya jumlah peningkatan PPDB, BMPS memprediksi adanya beberapa sekolah swasta yang tidak mendapatkan siswa baru pada tahun ini.

“Dari hasil penelusuran singkat kami, ada beberapa sekolah yang memang tidak menerima siswa sama sekali. Tapi jumlahnya tidak banyak hanya 0,2 persen saja,” jelasnya.

BMPS pasrah dengan penerimaan siswa baru pada tahun ini. “Ya mau gimana lagi, dapatnya segitu kita mau gimana dengan pemerintah juga sama saja,” ucapnya.

Hal senada dikatakan Ketua BMPS Kabupaten Bekasi Ahmad Syauqi. Ia mengungkapkan, hasil evaluasi sementara BMPS masih ada beberapa sekolah yang memang belum terpenuhi jumlah kuota siswanya.

“Sama dengan di kota, Kabupaten Bekasi untuk sekolah swasta masih ada beberapa sekolah yang belum terpenuhi jumlah siswanya,” ucapnya.

Tidak terpenuhinya siswa baru terjadi paling banyak di jenjang SMP. Hal itu salah satunya disebabkan banyaknya lulusan SD yang melanjutkan pendidikan ke pesantren.

Sedangkan untuk SD, SMA, dan SMK, kata Ayung, penerimaannya cukup baik. “Ini kan untuk tingkat SD, SMA, dan SMK sudah cukup aman ya. Hanya SMP yang masih riskan sekali karena masih banyak yang belum terpenuhi dan ternyata dari hasil penelusuran siswa lulusan SD ini lebih banyak yang melanjutkan ke ponpes. Jadi mungkin ini salah satu faktor tidak terpenuhinya jumlah siswa baru tingkat SMP swasta,” jelasnya.

Capaian penerimaan siswa baru di sekolah swasta secara persentase dari kuota, untuk SD 100 persen, SMP 60 persen, SMA 90 persen, dan SMK 90 persen.

“Kalau di Kabupaten Bekasi peningkatannya di angka 10 persen semua rata-rata, jadi yang masih sangat kurang adalah SMP ini,” ucapnya.

Pihaknya mengaku legowo atas capaiannya yang tidak diharapkan, khususnya pada jenjang SMP tersebut. “BMPS merupakan salah satu perwakilan dari suara sekolah swasta, jadi hasil ini sebenarnya bukan yang kita inginkan. Namun semua ini harus kami terima juga,” tukasnya. (dew)