Materi Pendampingan Sekolah Penggerak Berbeda

AWASI PRAKTIK: Kepala SDN Jatiasih X Kota Bekasi Sadiah mengawasi kegiatan pembelajaran praktik siswa di ruang komputer. DEWI WARDAH/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sejumlah sekolah di Kota Bekasi tengah menjalani pendampingan sebagai Sekolah Penggerak angkatan pertama dan kedua. Kedua angkatan ini mendapatkan materi pendampingan yang berbeda.

Berdasarkan data yang dihimpun terdapat 85 Sekolah Penggerak yang terpilih. Rincinya, angkatan pertama 30 sekolah dan angkatan kedua 55 sekolah.


Fasilitator Sekolah Penggerak Kota Bekasi Supyanto menjelaskan, pihaknya tengah melakukan pendampingan bagi Sekolah Penggerak angkatan pertama tahun kedua dan angkatan kedua tahun pertama.

Ia menjelaskan, materi pendampingan Sekolah Penggerak angkatan pertama dan kedua berbeda. Bagi angkatan pertama, materi pendampingan meliputi orientasi pendampingan program Sekolah Penggerak satu tahun kedua dan program manajemen office level sekolah.


Sedangkan bagi angkatan kedua, materi pendampingan meliputi program manajemen office level sekolah, lokakarya kurikulum 1, dan refleksi satuan pendidikan.

“Untuk materi pendampingan angkatan pertama dan kedua itu sedikit berbeda, dimana penerapan dari awal bagi Sekolah Penggerak angkatan kedua ini akan lebih banyak dan bagi angkatan pertama hanya tinggal melanjutkan saja,” katanya kepada Radar Bekasi, Rabu, (22/9).

Pendampingan bagi Sekolah Penggerak sudah mulai dilakukan sejak 20 September 2022 dan berakhir 30 September 2022. Pendampingan dilakukan secara online atau daring.

“Proses pendampingan ini dilakukan untuk membekali sekolah dalam menjalankan program-program di Sekolah Penggerak. Setelah pembekalan akan ada implementasi yang harus dilakukan,” ujarnya.

Sementara, Kepala SDN Jatiasih X Kota Bekasi Sadiah mengungkapkan, satuan pendidikan yang dipimpinnya mengalami perubahan setelah menjadi Sekolah Penggerak.

“Alhamdulillah sekolah saya merupakan Sekolah Penggerak angkatan pertama, dimana selama menjadi Sekolah Penggerak sudah banyak perubahan yang dirasakan. Baik dari saya sebagai kepala sekolah, guru, siswa, dan orangtua siswa,” ungkapnya.

Program Sekolah Penggerak yang berhasil dijalankan bersama-sama ialah, Projek Profil Penguatan Pelajar Pancasila (P5). Dalam P5 ini, kepala sekolah, guru, siswa, dan orangtua siswa ikut terlibat.

“P5 di Sekolah Penggerak ini harus ada sebuah kegiatan yang dilakukan bersama-sama. Satu semester satu projek. Jadi saat ini kami memasuki persiapan projek ketiga di tahun kedua,” katanya.

Selain projek yang berhasil digelar atas kerjasama sekolah, sadar pendidikan melalui P5 juga sudah dirasakan manfaatnya. Saat ini siswa dapat lebih luas mengembangkan kemampuannya di dalam metode pembelajaran.

“Di program Sekolah Penggerak itu siswa lebih berani dalam berekspresi, mereka bisa lebih berkembang dalam metode-metode pembelajaran yang diberikan oleh guru,” terangnya.

Perkembangan yang sama juga dirasakan oleh para Guru Penggerak. Beberapa guru yang sudah menjalani dan menerapkan metode pembelajaran Sekolah Penggerak sudah lebih berani untuk melakukan sharing ilmu melalui pelatihan-pelatihan guru.

“Sekarang kan sekolah saya memasuki tahun kedua, dimana siswa dan guru yang ikut terlibat adalah siswa kelas 1,2,4 dan 5. Jadi lebih banyak guru yang terlibat, dan mereka yang sudah lebih dulu terlibat saat ini sudah berani untuk melakukan sharing ilmu kepada guru lain di luar sekolah,” tuturnya.

Sedangkan Kepala SMPN 1 Kota Bekasi Muktia Wahyudi Isra menyampaikan, sekolahnya saat ini yang terpilih menjadi Sekolah Penggerak angkatan kedua.

“Tahun ini sekolah saya terpilih menjadi Sekolah Penggerak angkatan kedua, dimana proses pendampingan dan persiapan sudah mulai berjalan,” ujar Muktia.

Ia optimistis, program Sekolah Penggerak yang akan dijalankan dapat berjalan dengan baik. “Saya optimistis guru, siswa, dan orang tua siswa siap bekerjasama menjalani dan menerapkan program Sekolah Penggerak ini,” ucapnya. Program Sekolah Penggerak ini akan mulai diterapkan bagi siswa kelas 7 tahun ajaran 2022/2023. “Yang akan mulai merasakan program Sekolah Penggerak ini adalah siswa kelas 7, saya yakin mereka sudah siap untuk bisa menerapkan program-program di dalamnya,” tukasnya. (dew)