Rumah Subsidi di Kabupaten Bekasi Cuma untuk Investasi

RADARBEKASI.ID, BEKASI –¬†Puluhan unit rumah yang berada di Perumahaan Villa Kencana Blok J, RT 04/11, Desa Karang Sentosa, Kecamatan Karang Bahagia, terbengkalai tanpa penghuni. Pasalnya, perumahaan subsidi yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada mei 2017 lalu ini banyak yang tidak ditempati oleh penghuninya, lantaran jauh dari lokasi kerjanya. Bahkan, ada juga yang hanya sebatas investasi untuk kedepannya.

Padahal, penyaluran hingga pemanfaatan rumah subsidi sudah diatur oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Kelompok sasaran rumah subsidi ini adalah Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), dengan penghasilan Rp8 juta.


Harga jual tertinggi rumah subsidi saat ini Rp168 juta, diatur dalam Keputusan Menteri PUPR nomor 242/KPTS/M/2020 dengan spesifikasi luas tanah terendah 60 meter persegi, paling tinggi 200 meter persegi. Pemanfaatan rumah subsidi oleh penerima manfaat bantuan pemerintah juga diatur dalam Peraturan Menteri PUPR nomor 35 tahun 2021.

Penerima manfaat harus menggunakan dana bantuan subsidi sesuai dengan peruntukan. Pemilik rumah subsidi baru diperbolehkan untuk menyewakan atau mengalihkan kepemilikannya sesuai ketentuan yang diatur, yakni pewarisan, atau paling singkat setelah 5 tahun penghunian.


Pengendalian penyaluran rumah subsidi ini dilakukan oleh Satker dan Direktorat Jenderal, meliputi pelaksanaan program, pemanfaatan rumah oleh nasabah, akuntabilitas dan efektivitas penyaluran, hingga kepatuhan pelaporan.

“Saya sudah tiga tahun tinggal disini (Perumahaan Villa Kencana),” ujar warga perumahaan Villa Kencana Blok J RT 04/11, Karang Sentosa, Yudi (50), kepada Radar Bekasi saat ditemui di lokasi, Minggu (9/10/2022).

Dari pantauan di lokasi Perumahaan Villa Kencana, situasinya sudah sudah mulai ramai dengan para pedagang yang berjejer di sepanjang jalan masuk ke dalam perumahaan ini. Bahkan, pembeli yang datang bukan hanya dari warga sekitar, melainkan dari orang-orang luar, yang sengaja datang untuk mencari makanan.

“Saya yakin disini lima tahun kedepan akan ramai. Bisa buat invest, mangkannya kalau orang yang sudah biasa main jual beli rumah, pasti akan lari kesini, karena bicaranya kedepan pasti ramai,” ucup Yudi.

Rumah yang tidak ditempati kondisinya cukup mengkhawatirkan. Pria asal Surabaya ini menuturkan, rumah di blok J hampir 70 persen kosong tidak ada penghuninya. Rumah rata-rata per blok merata, mulai dari 30 sampai 35 rumah. Menurutnya, rumah yang kosong sebenarnya sudah ada penghuninya, tetapi tidak ditempati karena berbagai alasan. “Paling banyak kosong disini blok J, hampir 70 persen kosong. Kalau blok disini banyak bangat,” ucapnya.

Pada awal datang ke Perumahaan Villa Kencana dirinya memberikan uang Dp sebesar Rp5 juta untuk setoran perbulannya Rp 1,2 juta. Dengan luas 60 meter bangunan 32 meter dengan dua kamar, dengan satu kamar mandi. Kata dia, angsuran dari awal sampai sekarang tidak pernah ada kenaikan

“Kalau harga keseluruhan antara Rp 130 juta sampai Rp 145 juta. Intinya sekali cicilan Rp 1,2 juta. Kalau angsuran plate itu biasanya lima tahun subsidi awal, tapi kalau terusannya apa, sehubungan,” ucapnya.

Alasan dirinya memilih tinggal di perumahaan ini banyak faktor, pertama ada akses ke jalan raya, dari depan maupun belakang. Selain itu karena tidak banyak yang bikin resah, baik warga sekitar maupun sesama penghuni, saling menghormati.

Warga di perumahan tersebut sebagian merupakan karyawan swasta dan pedagang,”Kalau penghasilan perbulan disini tidak bisa diprediksi, karena nggak plate penghasilannya, tapi selama ini alhamdulilah teman-teman tidak ada yang bermasalah. Kalau penghasilan saya tidak menentu, maksimal Rp 7 sampai Rp 8 juta,”sambungnya.

Rumah yang diterimanya masih bangunan standar. Jika ingin lebih baik, maka harus direnovasi. Dia Mengaku, selama tiga tahun menempati rumah subsidi tidak pernah ada aksi pencurian di blok huniannya. “Selama ini baik-baik saja, kemarin ada penangan pembersihan secara ramai-ramai dari pihak pengembang. Semua kotor-kotoran dibersihkan, terutama rumput. Tidak pernah ada yang dipersulit,” tuturnya.

Sementara itu, Ibu RW di Perumahan Villa Kencana, Neng Wati menambahkan, penghuni perumahaan sebenarnya sudah sold out dari awal diresmikan Presiden, Joko Widodo (Jokowi). Tetap memang banyak yang belum ditempati.

“Memang banyak yang belum ditempati, alasannya karena kerjaan masih pada di Jakarta. Kadang-kadang ada yang dateng pemiliknya untuk dibersihkan, saat awal-awal mah. Tapi sekarang sudah jarang yang dateng bersih-bersih,” jelasnya.

General Manager SPS Group, Tuti Mugiastuti, sebagai pengembang dari perumahan tersebut mengaku, ada 7.300 unit rumah subsidi yang diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu 100 persen sudah terjual.

Pengembang mengakui bahwa setidaknya ada 100 unit rumah yang tidak dihuni oleh pemiliknya, itu setara luas tanah 1 hektar. Kata Tuti, jumlah rumah yang tidak terhuni dan ditumbuhi oleh ilalang tersebut persentasenya sangat kecil dibandingkan dengan 7.300 unit rumah yang telah dibangun.

“Ada sebetulnya yang sepi itu, ada beberapa blok yang kosong di Villa Kencana ini yang kosong. Karena kan kalau di lapangan walaupun 100 unit kelihatannya besar, padahal dibandingkan dari 7 ribu yang sudah kita bangun,” paparnya.

Rumah subsidi dipastikan sudah tidak ada lagi unit yang tersisa, sisa unit hanya rumah komersil. Ia mencatat 80 persen dari total unit yang dibangun semua dihuni oleh pemiliknya. Adapun yang tidak terhuni, ia menjelaskan bahwa pandemi Covid-19 menjadi faktor penyebab para pemilik rumah tidak segera menempati rumah yang telah diserahterimakan.

“Pertama, rumah itu sudah terjual. Kedua, pada saat sudah diserahterimakan tidak lama ada pandemi dua tahun kan, nah konsumen itu jadinya otomatis yang mau pindah nunda dulu dong,” tambahnya.

Saat ini, pihaknya tengah membangun rumah subsidi di lokasi yang lain, Grand Cikarang City 2. Sampai dengan akhir tahun ini, target penjualan total sebanyak 845 unit, ditarget terjual 100 persen sampai akhir tahun.”Kita punya target sampai Desember 845 unit yang harus diserahterimakan, dan sudah terjual 60 persen dari 845 itu,” tambahnya. (pra/sur)