Gawat, Bekasi Dikuasai Gangster

Kapolres Metro Bekasi Kota Kombes Pol Hengki. “Dari 9 polsek di bawah wilayah hukum Polres Metro Bekasi Kota, hanya Mustikajaya yang belum terdata berapa gangsternya di sana.”

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Diam-diam wilayah Kota Bekasi menjadi tempat subur bertumbuhnya gengster motor. Kepolisian mencatat sedikitnya ada 35 gangster di Kota Bekasi dan kerap beraksi di kota dengan 12 kecamatan ini.

Wilayah paling banyak sebaran gangsternya ada di Kecamatan Pondokgede. Di wilayah perbatasan Bekasi dan DKI itu terdata ada 8 kelompok gangster. Selain itu, disusul Bekasi Timur 6 gengster, Bekasi Kota 6 gangster, Bekasi Utara 4 gangster, Jatisampurna 3 gangster, Medansatria 3 gangster, Jatiasih 4 gengster dan Bekasi Selatan 1 gengster.


”Dari 9 polsek di bawah wilayah hukum Polres Metro Bekasi Kota, hanya Mustikajaya yang belum terdata berapa gangsternya di sana. Dari jumlah kelompok yang berhasil diidentifikasi geng motor. Kita sudah melakukan pendataan dan akan terus kita lakukan monitoring,” kata Kapolres Metro Bekasi Kota Kombes Pol Hengki.

Hengki juga menyampaikan, saat ini dunia teknologi semakin berkembang. Kebanyakan dari mereka semua membuat akun-akun baru. Tapi tetap pihaknya akan melakukan pemantauan melalui cyber yang ada di Kepolisian.


Upaya pencegahan dan preventif dilakukan Kepolisian. Polres Metro Bekasi Kota melakukan patroli pada jam-jam rawan terjadinya tindakan kejahatan”Patroli wilayah dan juga Presisi dilakukan pada jam-jam rawan dari jam 23.00 hingga pagi hari. Itu terus kita lakukan setiap hari dan hari libur,” ungkapnya.

Pakar Kriminolog Universitas Indonesia (UI) Josias Simon mengatakan, aksi tawuran yang dilakukan oleh sekelompok remaja bangkan ganster sebagai fenomena sosial telah memiliki pola yang bisa diidentifikasi, seperti yang terjadi antar pelajar. Kecenderungan di kalangan pelajar, tawuran kerap terjadi dan ramai pada awal tahun pembelajaran.

“Kalau berpola itu kan ada nilai disitu ya, nilai itu kalau pelajar itu ada awal tahun diturunkan pelajar baru,” kata Simon.

Bukan tidak mungkin pola-pola lain dapat dipelajari dan dilakukan oleh kelompok remaja. Terutama pada pelajar, pembelajaran Dalam Jaringan (Daring) atau secara online membuat siswa lebih banyak berada di jalan.

Menurut Simon, Kepolisian maupun kepala daerah harus mempertimbangkan juga perubahan yang terjadi selama pandemi, tidak lagi menggunakan kegiatan atau gerakan lama seperti pengangkatan duta atau deklarasi bersama. Meskipun, kedua kegiatan tersebut tetap memiliki nilai positif, hanya perlu diperhatikan efektivitasnya dalam mencegah tawuran.

Perubahan aktivitas secara online kata Simon, bisa menjadi alternatif solusi untuk menyudahi tawuran, tentu setelah memperhatikan perubahan yang terjadi pada saat pandemi. Catatan Radar Bekasi beberapa waktu lalu, kalangan pelajar ini juga memanfaatkan akun media sosial untuk saling menantang lawan, bahkan mengunggah aksi mereka tawuran.

“Jadi perubahan dari pandemi juga harus diperhatikan ya, karena kan medsos sekarang mempengaruhi mindset mereka. Sehingga kalau kita pakai cara lama, ya nggak papa juga sih, tapi ya mungkin efektivitas dan coba cari yang baru gitu,” tambahnya.

Selain itu, kegiatan off line yang melibatkan massa dalam jumlah banyak juga akan berdampak positif membangun kesadaran publik. Dengan catatan, menyasar langsung kepada para pelaku atau daerah yang rawan, kegiatan yang dilakukan tidak sekedar formalitas, digandrungi oleh siswa atau remaja seperti olahraga dan music, serta melibatkan musisi yang akrab di kalangan pelajar atau remaja.

Ia juga menekankan bahwa pencegahan tawuran tidak hanya tugas kepolisian, tetapi juga pemerintah daerah, termasuk ikut melibatkan masyarakat. Simon meyakini bahwa keikutsertaan masyarakat dapat memunculkan banyak ide kegiatan yang bisa dilakukan untuk mencegah aksi tawuran.

Sementara itu, Anggota DPRD Kota Bekasi asal Fraksi Golkar Persatuan, Komarudin mendorong kepada Pemerintah Kota Bekasi untuk memperbanyak fasilitas yang bisa dimanfaatkan para remaja Kota Bekasi untuk mengembangkan bakat yang dimiliki.

Menurutnya, kondisi ini karena minimnya fasilitas serta prasarana untuk remaja. Sehingga para kesulitan mengembangkan bakat yang dimiliki.“Prasarana seperti apa yang perlu disiapkan dan difasilitasi oleh pemerintah untuk anak-anak muda, tentunya bukan sekedar tempat pelatihan, tapi tempat yang bisa dipergunakan buat semuanya, baik itu pelatihan atau uji coba, simulasi. Bahkan, sampai dengan ke tataran produksi ataupun pembentukan pasar.”paparnya. (sur/mhf)