Atasi Ekonomi Inggris, PM Rishi Sunak Pilih Aksi Ketimbang Janji

Dalam pidato perdananya sebagai kepala pemerintahan Inggris, Selasa (25/10), Rishi Sunak mengakui bahwa ada begitu banyak ’’pekerjaan rumah’’ yang harus segera dia garap. (Chris J. Ratcliffe / Bloomberg)

 

RADARBEKASI.ID, LONDON – ’’Saya tidak gentar.’’ Perdana Menteri (PM) Inggris Rishi Sunak menyampaikan kalimat itu tanpa keraguan. Dalam pidato perdananya sebagai kepala pemerintahan Inggris, Selasa (25/10), dia mengakui bahwa ada begitu banyak ’’pekerjaan rumah’’ yang harus segera dia garap.


Tokoh 42 tahun itu menjanjikan periode kepemimpinan yang tidak banyak kata-kata, melainkan berfokus pada aksi. Prioritas utamanya, tentu saja, perekonomian Inggris. PM sebelumnya yang juga rekan satu partai Sunak, Liz Truss, meninggalkan tumpukan masalah di Downing Street 10. Kini, tumpukan masalah itu menjadi tugas Sunak. ’’Saat ini negara menghadapi krisis ekonomi yang parah,’’ ujarnya, seperti dikutip BBC.

Krisis ekonomi Inggris lahir sebagai dampak serangkaian masalah yang datang berturutan. Mulai pandemi Covid-19, konflik bersenjata di Ukraina, hingga kebijakan pajak Truss yang Sunak sebut sebagai kesalahan. Kini, kekacauan pasar energi dan rantai suplai menyambut pemerintah Sunak.


Kemarin Sunak bertemu dengan Raja Charles III. Pertemuan tersebut sekaligus menjadi lambang resminya pemerintahan baru. Selama 5 menit 56 detik, Sunak berpidato. Itu merupakan pidato perdana terlama PM Inggris setelah Boris Johnson. Saat itu, dalam pidato perdananya sebagai PM, Johnson berbicara selama 11 menit 13 detik.

Dalam pidatonya, Sunak berjanji bakal membuat publik Inggris tenang. Dia juga bertekad tidak akan membebankan utang kepada generasi muda. ’’Saya akan menyatukan partai. Bukan dengan kata-kata, tapi aksi,’’ tegasnya.

Sebaiknya, PM Inggris pertama berdarah India itu memang tidak terlalu banyak ngomong. Ada ancaman perpecahan yang tinggi dalam Partai Konservatif yang harus segera dia tanggulangi. Dua menteri mengundurkan diri dari kabinet, bahkan sebelum Sunak mengumumkan siapa-siapa saja yang masuk dalam ’’gerbong’’-nya.

Rees-Mogg mengundurkan diri dari jabatannya sebagai menteri bisnis. Sementara itu, Brandon Lewis memilih hengkang dari kursi menteri kehakiman. ’’Sebuah kehormatan menjadi salah satu menteri kabinet yang paling lama menjabat. Saya telah memangku 8 pos menteri pada lima departemen, di bawah kepemimpinan empat PM,’’ terang Lewis dalam surat pengunduran dirinya.

Sunak belum merilis nama-nama menteri kabinetnya. Namun, beberapa tokoh memilih untuk tidak bergabung dalam kabinet itu. Padahal, biasanya menteri-menteri Inggris bertahan dalam kabinet ketika PM berganti. Mereka baru akan meninggalkan kabinet jika memang PM yang meminta.

Namun, Rees-Mogg dan Lewis memang bukan pendukung Sunak. Bahkan, Rees-Mogg merupakan yang paling lantang melawan Sunak saat Konservatif memilih ketua baru sepeninggal Johnson pada September lalu. ’’Menimbang perlakuannya terhadap Boris Johnson dan ketidaksetiaannya, saya tidak akan mungkin mendukungnya,’’ tutur Rees-Mogg.

Sumber internal menyebut Sunak akan mendepak beberapa menteri era Truss dari kabinetnya. Di antaranya, Menteri Dalam Negeri untuk Urusan Pekerjaan dan Pensiun Chloe Smith, Menteri Lingkungan Ranil Jayawardena, dan Menteri Pendidikan Kit Malthouse.

Di sisi lain, Sunak diperkirakan akan mempertahankan Jeremy Hunt sebagai menteri keuangan. Dia juga akan mengajak Suella Braverman ke dalam kabinet. Pun demikian dengan sekutu dekatnya, Oliver Dowden, Mel Stride, dan Dominic Raab. (jpc)