Karya Videografi Lenong Urban Sebagai Visualisasi Budaya Lokal

Oleh : Eko Hadi Prayitno

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Karya Videografi Lenong Urban Sebagai Visualisasi Budaya Lokal disajikan dalam event Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Jakarta pada Sabtu (15/10), Menurut Rektor UNJ Komarudin, implementasi GNRM ini dapat meningkatkan kesadaran terhadap identitas dan warisan budaya Betawi dan juga melestarikan lingkungan alam. Hal ini merupakan pokok penting dari revolusi mental,” ujarnya dalam acara pembukaan Keriaan Budaya’ Betawi, yang diselenggarakan di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, Jakarta Selatan


Keriaan Budaya Betawi bertujuan memperkenalkan budaya Betawi yang hidup dan berkembang di masyarakat luas. Kegiatan ini juga untuk mempromosikan perkampungan budaya Betawi. Di samping itu juga untuk menumbuhkan rasa memiliki masyarakat Jakarta terhadap budaya Betawi, melestarikan dan kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperluas daya jangkau pelestarian budaya Betawi. Hal itu merupakan salah satu upaya menyukseskan program pemerintah melalui pendidikan dan kebudayaan. “Terkait kebudayaan ini sangat krusial dalam hal pengembangan karakter dan jati diri anak muda.

Dalam event ini terdapat sebuah tayangan tentang Lenong Urban bertemakan Satria Millenial. Lenong Urban ini menarik untuk dicermati dari sisi konsep dalam bentuk visual seperti videografi dan poster media sosial. Konsep visual videografi dari pagelaran berjudul,”to be superhero” adalah berupa drama tari dan musik yang dipadukan dengan penataan visual. Materi yang ditampilkan adalah kolaborasi materi hasil pendampingan komunitas GNRM yaitu pendampingan musik, tari, kuliner, tata busana dan rias. Lenong dines sebagai pijakan bentuk garapan dengan sentuhan kontemporer. Lenong dines merupakan pagelaran musikal yang mengandung unsur musik, tari, cerita dan komedi. Pada pagelaran ini akan dikreasikan dengan Sentuhan modern dan kontemporer dengan muatan pesan-pesan moral yang sesuai dengan tuntutan karakter profil pelajar Pancasila atau generasi muda Indonesia.


Berdasarkan tema, seniman dapat menuangkan judul, sinopsis karya yang akan dibuat. Tema yang telah dibuat menjadi sinopsis dapat dituangkan ke dalam bentuk laku, gerak, musik dan video. Tema yang diangkat dalam karya ini mengangkat tentang; 1) Integritas. 2) Etos Kerja. 3) Gotong Royong.

Ide/isi atau gagasan sebagai bagian yang tak terlihat merupakan hasil pengamatan unsur-unsur psikologis dan pengalaman emosional dituangkan menjadi konsep dengan tulisan maupun gambar yang nyata. Ide yang digagas untuk pagelaran seni dan budaya ini adalah “to be superhero”.

Kata “to be” yang bermakna menjadi disematkan sebelum kata superhero untuk menegaskan secara teatrikal bahwa komunitas GNRM adalah agen perubahan yang menjadi motor penggerak GNRM ini, guna menumbuhkembangkan karakter jiwa kepahlawanan berlandaskan nilai Pancasila (integritas, memiliki etos kerja yang tinggi, gotong royong dan berbudi luhur) dan keteladan secara halus, terutama di kalangan penonton remaja.

Konsep dramatik dalam penggarapan karya pagelaran “To be Superhero” ini adalah rangkaian scene atau adegan yang memiliki alur atau jalan cerita yang menjalin semua pagelaran menjadi sebuah rangkaian tematik terintegrasi. Tarian dalam pagelaran “To be Superhero”digunakan sebagai penyampaian pesan pagelaran secara simbolik nilai-nilai tersebut. Komposisi tarian juga digunakan sebagai opening dan closing dari pagelaran “To be Superhero”.

Penggunaan video mapping dalam pagelaran “ To be Superhero” merupakan wahana sebagai lebih memberikan sentuhan teknologi. Teknik video mapping digunakan untuk memvisualisasikan tempat, waktu, dan situasi secara lebih menarik bagi generasi Z urban Jakarta karena Teknik tersebut mampu menghasilkan efek-efek visual yang eye-catching dan mampu “menghipnotis” penonton secara visual.