Implementasi Mata Pelajaran Kewirausahaan Belum Optimal

ILUSTRASI: Sejumlah siswa salah satu SMPN di Kota Bekasi menjual produk di sekolah. Implementasi mata pelajaran Kewirausahaan belum optimal. DEWI WARDAH/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI Implementasi mata pelajaran (mapel) Kewirausahaan belum optimal. Selama ini, dalam praktiknya siswa hanya membuat produk dan berjualan.

Kepala SMA Tulus Bhakti (TB) Kota Bekasi Margo Cahyono mengaku, mata pelajaran Kewirausahaan perlu dioptimalkan. Terutama dalam praktik wirausahanya. “Memang dalam metode atau penerapan dari mata pelajaran kewirausahaan ini masih butuh dioptimalkan, salah satunya adalah dari segi wirausaha nyata,” ujarnya kepada Radar Bekasi, Minggu (6/11).


Menurut Margo, peserta didik perlu diberikan waktu yang lebih lama untuk mengembangkan jiwa wirausahanya serta kebebasan dalam menentukan jenis dan metode wirausaha yang diinginkan.

Saat ini, kata Margo, penerapan dalam mata pelajaran Kewirausahaan hanya berfokus pada penyelesaian atau penuntasan materi. Sehingga waktu yang dimiliki untuk proses praktiknya masih terbilang sangat minim.


“Karena dalam kenyataannya siswa hanya termotivasi membuat sebanyak-banyaknya produk dan menjual sebanyak-banyaknya produk tersebut. Bukan lagi menonjolkan inovasi baru, karena pola pembelajarannya hanya berpatokan pada penjualan produk dan penuntasan materi saja,” tuturnya.

Sementara, Guru Kewirausahaan SMK Bisnis dan Teknologi (Bistek) Kota Bekasi Adestian Ramadhan membenarkan, penerapan dari mata pelajaran Kewirausahaan memang masih butuh dioptimalkan.

“Memang masih butuh sekali pengoptimalan, bahkan perlu adanya wadah lain kewirausahaan selain dari murid belajar di sekolah,” ujarnya.

Dikatakan, saat ini masih banyak siswa yang salah mengartikan tentang kewirausahaan. Menurutnya, siswa menilai kewirausahaan hanya sebagai mata pelajaran yang mempelajari tentang cara berdagang atau menjual saja.

“Padahal jika lebih dioptimalkan dalam materi ini siswa bisa menghasilkan inovasi yang bisa terus dikembangkan, bukan hanya stak dalam lingkup penilaian saja,” jelasnya.

Menurutnya jika siswa dapat mengoptimalkan mata pelajaran kewirausahaan, maka akan memiliki inovasi baru dan kesempatan untuk mengembangkan usahanya

“Kalau benar-benar dipelajari secara optimal, mata pelajaran kewirausahaan ini dapat membantu siswa untuk mencetuskan inovasi baru. Jadi setelah lulus siswa bisa memiliki usaha yang dikembangkan melalui mata pelajaran kewirausahaan ini,” ucapnya.

Hal senada dikatakan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPN 3 Kota Bekasi Harsan. Ia mengatakan, dalam mata pembelajaran Kewirausahaan siswa hanya sebatas menghasilkan dan menjual produk dagangan saja.

“Menghasilkan dan menjual hanya itu fokus dari mata pelajaran Kewirausahaan, jadi memang dibutuhkan pengoptimalan dari penerapannya,” tuturnya.

Sehingga dalam hal ini siswa diharapkan bukan hanya mempelajari cara berjualan, akan tetapi diarahkan untuk dapat mencetuskan sebuah inovasi yang bisa dikembangkan melalui mata pelajaran Kewirausahaan tersebut.

“Memang dibutuhkan keberanian sehingga siswa bukan lagi diminta untuk membuat atau menjual barang yang memang sudah ada, contoh seperti makanan atau minuman yang sudah pasaran. Akan tetapi siswa diarahkan untuk membuat inovasi baru yang dapat dikembangkan melalui mata pelajaran Kewirausahaan ini,” ucapnya. (dew)