Konten Kreatif berbasis Cerita Lokal Upaya Promosi Desa Cisaat sebagai Wisata Edukasi

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Desa Cisaat, Subang Jawa Barat merupakan desa binaan Universitas Negeri Jakarta yang telah mendapatkan pengakuan secara nasional sebagai salah satu desa wisata terbaik (juara tiga nasional 2020) dengan konsep wisata edukasi. Namun demikian Desa Cisaat masih membutuhkan pendampingan dari berbagai sivitas akademika Universitas Negeri Jakarta.

Permasalahan utama desa Cisaat sebagai desa wisata edukasi adalah branding, yakni bagaimana cara mengkomunikasikan pesan sebagai desa wisata edukasi dari desa Cisaat kepada masyarakat luas. Untuk itu, melalui skema Penugasan Wilayah Binaan Unggulan program studi Sastra Inggris, Pendidikan Seni Rupa dan Magister Pendidikan Bahasa Inggris bersama-sama melaksanakan kegiatan Pengabdian pada Masyarakat (P2M) berjudul,”Branding Desa Wisata Edukasi Cisaat: Promosi Budaya melalui Pengembangan Konten Kreatif Cerita Lokal berbasis Media Sosial”.


Kegiatan P2M yang dipimpin oleh ibu Eva Leiliyanti Ph.D bertujuan untuk menggali cerita-cerita lokal di desa Cisaat dari generasi muda untuk nantinya menjadi konten kreatif dalam media berpromosi. Pelaksanaan P2M berlangsung dari hari jumat hingga sabtu, tanggal 15-17 Juli 2022 di desa Cisaat, Subang Jawa Barat. Peserta berjumlah 15 orang berasal dari kampung Cisaat, berusia 15-18 tahun.

Pertama-tama peserta diminta untuk mendokumentasikan objek-objek menarik di sekitar desa Cisaat. Kemudian setiap peserta akan mempresentasikan dalam kelompoknya masing-masing dan hasil foto dokumentasi tersebut dinilai oleh narasumber, bapak Eko Hadi Prayitno, M.Pd. Setelah itu, kelompok akan berdiskusi untuk membuat cerita baru dari cerita-cerita lokal yang sudah ada. “Hal ini memicu daya imajinasi dan kreatifitas peserta”, menurut ibu Tesaanisa.


Materi selanjutnya adalah penjelasan mengenai branding itu sendiri dan kaitannya dengan cerita lokal yang dapat menjadi konten kreatif. Dr. Rizki Taufik Rakhman memantik diskusi mengenai cerita yang sudah dibuat oleh masing-masing kelompok dan pada akhirnya direspon dalam bentuk visual.

Meskipun kegiatan P2M ini tidak berlangsung lama, namun tampak rasa puas dari pengakuan beberapa peserta. Mereka berharap kegiatan ini tidak hanya dilakukan satu kali, namun menjadi agenda tetap di desa Cisaat. Selain itu, masyarakat sekitar lokasi kegiatan juga menghimbau untuk dilibatkan dalam kegiatan P2M berikutnya, tidak terbatas pada generasi muda berumur 15-18 tahun saja.