Asah Kemampuan Bahasa, Jalani Pendidikan di Toronto

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Bagi setiap orang, hidup jauh dari keluarga adalah pilihan sulit, tidak semua mampu memberanikan diri. Tapi, salah satu siswa yang masih duduk di kelas XII Sekolah Menengah Atas (SMA) memiliki keberanian itu. Menimba ilmu dengan para pelajar dari berbagai negara di Toronto, Kanada.

Laporan : Surya Bagus
BEKASI UTARA


Ahmad Tetuko Priambodo (17) melewati malam pergantian tahunnya jauh dari keluarga, di Toronto, Kanada. Semangat mengasah kemampuan berbahasa Inggris adalah salah satu alasannya pergi ke kota terbesar di Ibu Kota Ontario tersebut.

Tekadnya semakin bulat setelah mendapat dukungan dari kedua orang tua. Disana, Ahmad belajar di salah satu lembaga kursus bahasa Inggris dengan pelajar dari berbagai negara di dunia. Lembaga kursus tersebut juga menjadi tempat Ahmad selama ini belajar bahasa Inggris di Bekasi.


“Dia ambil program belajar ke luar negeri, dia memilih di Kanada,” kata sang ayah, Maryanto, Minggu (1/1) di Bekasi.

Maryanto tidak ingin kehilangan kabar terbaru dari anaknya yang berada di Kanada. Setiap hari, komunikasi antara anak dan orang tua tidak boleh terlewat. Setiap kali berada di tempat baru, anaknya mengirim foto berikut dengan laporan kondisinya terkini.

Pertama kali tiba di Toronto menjelang akhir tahun 2022, Ahmad belum sama sekali mengenal Warga Negara Indonesia (WNI) disana. Sehari-hari, Ahmad beraktivitas dengan transportasi publik, dari apartemen tempat ia tinggal ke berbagai lokasi di Toronto, termasuk ke tempat kursus.

Bukan dibiayai, studi Ahmad menggunakan biaya sendiri yang dikeluarkan oleh keluarga. Maryanto mengaku, ia tidak sungkan mengeluarkan uang untuk mendukung semangat belajar anaknya.

“Biaya sendiri, yang jelas kalau biaya makan lebih mahal 10 kali lipat dibandingkan di sini. Sepertinya sampai akhir Januari (berada di Toronto),” ungkapnya.

Lantaran hanya seorang diri, Maryanto berinisiatif memberikan informasi keberadaan komunitas WNI disana, tepatnya Komunitas Muslim Istiqlal.

Sebelum memutuskan untuk mengasah kemampuan berbahasa Inggris di Toronto, Maryanto bercerita anaknya juga pernah memiliki keinginan untuk melakukannya di dalam negeri, di Kampung Inggris pada masa libur sekolah tahun 2021 silam. Tapi, ada ketidakpuasan dari Ahmad, tidak sepenuhnya hari-hari di Kampung Inggris menggunakan bahasa Inggris.

Hal demikian mungkin bisa dilakukan oleh Maryanto, tapi belum tentu dengan anak-anak lain yang sama, memiliki semangat belajar tinggi. Maryanto berkeinginan pemerintah yang memiliki kewenangan di tingkat SMA, dalam hal ini Provinsi Jawa Barat bisa membuka kesempatan bagi para pelajar di Jawa Barat.

“Saya punya keinginan bagaimana pemerintah Provinsi Jawa Barat membuka akses jalur studi untuk pelajar yang berprestasi, pelajar yang mempunyai keberanian untuk belajar di luar negeri,” tambahnya.

Ahmad menyebut dirinya tukang cilok. Sejak menjadi siswa salah satu SMA negeri di Bekasi Utara, Maryanto bercerita bahwa anaknya kerap membawakan pesanan bakso dari teman-temannya.

Lambat laun, Ahmad menitipkan barang dagangannya di kantin sekolah, setiap hari Ahmad berangkat membawa buku pelajaran dan bakso cilok. Barang dagangan dititip ke kantin sekolah supaya keuntungan ekonomi juga bisa dinikmati oleh pedagang di kantin sekolah.

“Sebelum di kantin itu teman-temannya order terus dibawain. Setelah dititip di kantin, teman-temannya disuruh beli ke kantin, kata dia sih supaya kantin juga dapat untung,” imbuhnya.

Melepas anak pergi jauh ke luar negeri memang bukan perkara mudah bagi Maryanto. Tapi, kegigihan menuntut ilmu yang ada pada diri Akhmad harus terus didukung, Maryanto dan keluarga saat ini hanya menunggu jadwal Ahmad pulang ke Bekasi dan kembali bersekolah. (jpc/one)