Hampir Empat Dekade di Luar Angkasa, Satelit NASA Diprediksi Jatuh ke Bumi, Ini Jadwalnya

Satelit tua NASA yang sudah mati diprediksi akan segera jatuh ke bumi. (NASA)

RADARBEKASI.ID, AMERIKA SERIKAT – Satelit luar angkasa Earth Radiation Budget Satellite (ERBS) milik NASA berusia hampir empat dekade, tepatnya 38 tahun. Diprediksi satelit tersebut bakal segera jatuh ke bumi.

Jatuhnya satelit tersebut lantaran benda ruang angkasa itu sudah tidak lagi berfungsi alias sudah mati.


Meski ada ancaman jatuh ke Bumi, pada hari Jumat (6/1/2023) badan antariksa milik Amerika Serikat (AS) itu tersebut mengatakan bahwa kemungkinan puing-puing dari ERBS membahayakan siapapun di Bumi “sangat rendah”.

NASA mengharapkan sebagian besar satelit seberat 2,4 ton lebih itu akan terbakar saat masuk kembali.


Dilansir dari laman Space, satelit NASA yang mati itu diperkirakan akan memasuki kembali atmosfer Bumi pada Minggu (8/1/2023) malam.

Satelit ERBS disebut akan jatuh kembali ke planet asalnya pada hari Minggu (8/1/2023) sekitar pukul 18:40 EST (2340 GMT), plus atau minus 17 jam.

“NASA memperkirakan sebagian besar satelit akan terbakar saat bergerak melalui atmosfer, tetapi beberapa komponen diperkirakan akan bertahan saat masuk kembali,” tulis pejabat NASA dalam pembaruan di laman resminya

Untuk diketahui, ERBS, bagian dari misi Eksperimen Anggaran Radiasi Bumi tiga satelit NASA, diluncurkan ke orbit rendah bumi dengan pesawat ulang-alik Challenger pada tahun 1984 silam. Sudah tua.

Secara teknis, satelit ERBS menggunakan tiga instrumen ilmiah untuk mempelajari bagaimana planet kita menyerap dan memancarkan energi matahari. Satelit ini dirancang untuk beroperasi hanya selama dua tahun tetapi terus berdetak hingga 2005, setelah itu menjadi bongkahan sampah luar angkasa yang besar dan kuat.

Satelit tua atau benda ruang angkasa lainnya yang sudah tidak berguna lalu jatuh ke Bumi sendiri merupakan hal yang biasa. Pada tahun 2022, misalnya, dua inti roket Tiongkok, Long March 5B seberat kira-kira 23 ton jatuh kembali ke bumi tanpa terkendali.

Kecelakaan ini terjadi masing-masing pada bulan Juli dan November, dalam setiap kasus sekitar seminggu setelah roket membantu meluncurkan modul baru ke stasiun luar angkasa, Tiangong, Tiongkok. (jpc)