Indonesia Percaya Diri, Menkes: Imunitas Tak Dapat Ditembus Covid-19 Varian Baru

Seorang pria yang mengenakan alat pelindung diri (APD) berjalan ke pintu masuk stasiun kereta api di Beijing kemarin (7/1) saat migrasi tahunan dimulai dalam rangka mudik Tahun Baru Imlek. (AFP)

RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Pemerintah Indonesia percaya diri dengan imunitas warganya terhadap Covid-19. Meskipun ada kebijakan pembukaan perbatasan Tiongkok pada hari ini (8/1/2023).

Pembukaan tersebut dikaitkan dengan potensi mutasi varian baru virus penyebab Covid-19.


Departemen Kesehatan Tiongkok pada akhir Desember lalu mengumumkan bahwa mulai 8 Januari 2023 perbatasannya akan dibuka. Mereka terbuka dengan kedatangan turis internasional.

Meski kasus baru Covid-19 di Tiongkok masih di kisaran 9.000-an, penetapan karantina turis tak berlaku lagi.


Seperti dilansir dari Nikkei Asia, pelancong dari luar negeri cukup menunjukkan hasil PCR negatif yang didapat 48 jam sebelum keberangkatan.

BACA JUGA: Malaysia Perketat Pintu Masuk Pelancong dari Tiongkok

Pemeriksaan kesehatan akan tetap dilakukan, tapi hanya di bagian imigrasi. Tidak seketat sebelumnya.

Tiongkok menutup perbatasannya sejak Maret 2020. Pembukaan perbatasan ini membuat masyarakat Tiongkok yang berada di luar negeri bisa masuk ke negaranya dengan lebih mudah.

Seperti ditulis Reuters, analis Gavekal Dragonomics di Beijing Ernan Cui menyatakan bahwa paparan Covid-19 di Tiongkok telah meluas.

Puncak infeksi telah tercapai di desa maupun kota. Dengan demikian, kekebalan secara alami telah didapat.

Pembukaan perbatasan ini ternyata tidak membuat semua warga senang. Di Hongkong masyarakat justru khawatir dengan rencana pemerintah tersebut.

Mereka khawatir adanya mutasi Covid-19 yang masuk ke wilayahnya. Dampaknya, apotek diserbu warga. Mereka membeli obat sebagai persediaan. Rak-rak apotek pun banyak yang kosong.

”Simpan persediaan obat untuk lima hari sudah cukup karena jika gejala bertahan lebih lama dari itu, masyarakat harus datang ke pihak medis,” kata Kepala Apoteker Rumah Sakit Hongkong William Chui Chun-ming seperti ditulis VOA.

Lalu bagaimana di Indonesia? Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, masyarakat telah memiliki imunitas yang baik.

Dia sempat mengatakan bahwa kebijakan lockdown di Tiongkok yang terlalu ketat menyebabkan masyarakat tidak kebal.

Sebab, faktor alami pembentuk imunitas tidak sebanyak Indonesia. Imunitas alami terjadi karena infeksi virus. ”Padahal, secara sains, imunitas paling kuat dan tahan lama adalah vaksinasi plus infeksi,” katanya.

Bukti Indonesia sudah memiliki kekebalan yang bagus adalah Indonesia tidak mengalami kenaikan kasus secara signifikan. Padahal, jika dibandingkan dengan varian virus yang menyerang Tiongkok akhir tahun ini, tidak jauh berbeda.

Budi menyatakan, di Tiongkok ada tiga varian yang menyebabkan lonjakan kasus, yakni BA.5.2, BA.2.75, dan BF 7. ”Tiga-tiganya sudah masuk ke Indonesia. Yang terakhir BF 7, masuknya 14 Juli dari Bali,” ungkap Budi.

Varian BA.5.2 dan BA.2.75 memang menyebabkan kasus Covid-19 di Indonesia naik. Namun, adanya BF 7 tidak menyebabkan hal signifikan di tanah air.

”Nah, ini membuktikan apa? Memang varian-varian baru itu tidak bisa menembus sistem pertahanan masyarakat kita,” jelas Budi. (jpc)