APRN Ajak Milenial Beternak dan Berkebun

PERIKSA MULUT: Petugas kesehatan memeriksa mulut kambing yang diternak dengan sistem Agroindustri Tanpa Riba, di Taman Rahayu, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Sabtu lalu (14/1). IST/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Asosiasi Peternak Rakyat Nusantara (APRN) memperkenalkan program ternak kambing dengan sistem Agroindustri Tanpa Riba (Agtari) kepada anak muda, guna menarik minat kaum milenial untuk bertani dan beternak.

Ketua APRN, Sodikun, pada saat deklarasi Agtari menyampaikan, pihaknya mengenalkan serta mengajak kaum muda milenial untuk beternak kambing tanpa harus memikirkan modal.


“Kami dari APRN melakukan sosialisasi seperti ini dengan melibatkan beberapa mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), yakni mengajak anak-anak muda untuk bisa bertani dan beternak,” ujar Sodikun, usai melakukan deklarasi di Taman Rahayu, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Sabtu (14/1).

Ia menilai, minimnya minat anak muda untuk terjun ke dalam bisnis ternak kambing, menjadi tantangan tersendiri dalam memperkenalkan sistem Agtari.


“Bagaimana caranya bisa memadukan hobi daripada anak-anak muda itu. Memang trendnya sekarang seperti apa?. Biar mereka senang dan minat untuk bertani dan beternak, bisa tumbuh dengan sendirinya,” ucapnya.

Sodikun menjelaskan, perbedaan antara program APRN bernama Agtari itu dengan sistem kemitraan lainnya. Yang mana Agro Industri yang lain banyak menggunakan sistem riba, yakni dari pembiayaan perbankan.

“Bedanya Agtari dengan sistem pembiayaan yang lain, terutama perbankan. Tentu perbankan itu menghilangkan hukum bisnis, hukum bisnis sendiri itu ada dua, pertama adalah mereka ada untung dan ada rugi, bisnis kan ada dua itu, kalau nggak untung ya rugi,” terangnya.

Dalam sistem pembiayaan yang diberikan perbankan, menurut Sodikun, hanya memberikan pinjaman modal, dan menguntungkan bagi pihak perbankan itu sendiri.

Sistem perbankan, lanjut Sodikun, telah menghapus sistem rugi bagi pihaknya. Perbankan tidak mengenal adanya kerugian, dan hanya mengambil keuntungan dari pemberian pinjaman tersebut.

“Itu nggak ada ruginya, mereka selalu mengambil untungnya terus, kadang nasabahnya mereka minta agunan, begitu usahanya nggak maju, mereka jadi punya hutang ke perbankan,” ujarnya.

Secara tegas, Sodikin menyebut, Agtari yang digagas oleh APRN, selain membangun kemitraan dengan penyertaan modal dari para investor yang tertarik dalam bisnis ternak kambing, juga lebih dulu memberikan pembekalan dalam menjalankan bisnis ternak kambing sebelum mereka memulai untuk beternak.

“Dengan sistem tersebut, kami menyertakan modal bukan meminjamkan juga tidak memberikan. Jadi kalau misal ada rugi ditanggung bersama, ya kalau ada untung nikmati bersama, porsinya nanti ada disepakati sebelumnya,” tandas Sodikin. (pra)