Kadisdukcapil Taufik Hadirkan 25 Inovasi untuk Permudah Masyarakat 

Kepala Disdukcapil Taufik Rahmat Hidayat

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Bekasi, Taufik Rahmat Hidayat, mengawali kariernya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi, menjadi salah satu ajudan Wali Kota Bekasi, dari 1997-1998.

Selepas dari ajudan, karirnya terus melejit sampai dengan 2023 dan sudah menempati berbagai posisi di beberapa Organisasi Perangkat Daerah(OPD) di lingkup Pemkot Bekasi.


“Kalau bicara perjalanan karir sebagai ASN di Pemkot Bekasi, yang pasti sudah sangat panjang, karena hampir setiap tahun saya dipindah ke OPD lain,” beber Taufik kepada Radar Bekasi, Selasa, (17/1).

Tentu perjalanan yang sangat panjang ini, tidak dilaluinya dengan mudah, namun Taufik menjalani dengan enjoy, sekaligus ia jadikan sebuah pembelajaran serta pengalaman yang berharga.


“Setiap pengalaman di OPD itu, saya jadikan motivasi untuk bisa bekerja lebih baik lagi. Jadi, saya sangat menikmati proses panjang dalam menjalankan karir  sebagai ASN,” tuturnya.

Taufik mengatakan, bahwa selama menjalani karir sebagai abdi negara, dirinya telah berhasil membuat inovasi perbaikan pelayanan yang ada di Kota Bekasi.

“Bicara inovasi, saya memulainya ketika dipercaya memegang tampuk kepemimpinan, yakni Camat Medan Satria,” ucapnya.

Saat itu dia mencetuskan sebuah program inovasi layanan Satuan Tugas Pemantauan dan Monitoring ( Satgas Pamor) pada tingkat RW.

“Inovasi yang saya buat pertama kalinya adalah Satgas Pamor di tingkat RW, dan satu-satunya ada di Kota Bekasi,” jelasnya.

Sementara Satga Pamor sendiri, merupakan salah satu proyek perubahan yang dibuat dalam kajian ilmiah, saat dirinya mengikuti Diklat Kepemimpinan tingkat II pada 2017.

“Satgas Pamor ini merupakan terobosan baru yang saya buat, dan menjadi sebuah kebijakan di Pemkot Bekasi, serta disetujui sebuah program yang diterapkan oleh setiap kecamatan sejak tahun 2017 sampai dengan sekarang,” tuturnya.

Hadirnya terobosan baru tersebut, menjadikan layanan Satgas Pamor, sebagai mata dan juga telinga bagi pemerintah, agar lebih dekat melayani masyarakatnya.

“Satgas Pamor ini menjadi layanan Pemkot Bekasi sebagai mata dan juga telinga, agar bisa menjalankan peran dan fungsi pelayanan terhadap masyarakat,” terangnya.

Satgas Pamor juga sudah dibuat Peraturan Walikota (Perwal) Nomor 65 Tahun 2017, menjadi salah satu layanan dasar bidang kesehatan, pendidikan, tata ruang, administrasi dan juga social, agar bisa ditangani dengan cepat.

“Inovasi ini diperkuat dengan adanya Perwal Nomor 65 Tahun 2017, sebagai pelayanan dasar untuk segala bidang. Sehingga meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah,” beber Taufik.

Bukti dari keberhasilan adanya inovasi ini, bisa dirasakan pada saat masa pandemic Covid-19, dimana pemberian obat serta pelayanan vaksinasi yang dilakukan secara door to door, dapat berjalan dengan maksimal.

“Dengan inovasi ini, bisa terlihat dampaknya ketika masa pandemi, dimana pelayanan kesehatan dan sosial bisa berjalan dengan baik. Sehingga, Kota Bekasi menjadi kota yang paling berhasil menangani pandemi pada saat itu,” tandasnya.

Sehingga, kunci dari inovasi Satgas Pamor ini sebagai peta awal deteksi dini terhadap kebutuhan pelayanan dasar masyarakat.

“Satgas Pamor dapat mendeteksi dini pelayanan dasar untuk masyarakat di wilayah Kota Bekasi,” ungkap Taufik.

Selain itu, inovasi lain ketika dirinya menjabat sebagai Camat Medan Satria, tahun 2018 muncul sebuah inovasi pelayanan extended service, dimana setiap hari pelayanan yang ada di Kecamatan Medan Satria, diperpanjang sampai dengan pukul 20.00 WIB.

“Dengan adanya inovasi layanan extended service ini, semua layanan yang ada di kecamatan waktunya kami perpanjang mulai dari Senin- Jumat. Untuk hari Sabtu, kami ada layanan weekend service yang dibuka sampai pukul 12.00 WIB,” pungkasnya.

Sehingga, lagi-lagi dengan inovasi baru yang dicetuskan, pada tahun 2019 Pemkot Bekasi menginstruksikan seluruh kecamatan untuk melaksanakan hal yang sama.

“Tahun 2019, seluruh kecamatan melaksanakan program yang sama. Saya mengawali perubahan pelayanan di Kota Bekasi lebih awal dan hasilnya maksimal,” jelas pria kelahiran Bandung 1 Oktober 1975 ini.

Seiring berjalannya waktu, pada tahun 2019, dirinya dipercaya menjadi Kepala Disdukcapil Kota Bekasi, dimana saat dilantik dirinya disumpah dengan penuh rasa tanggung jawab.

“Saat dilantik, saya itu disumpah bukan hanya sebatas Al-Qur’an di atas kepala saya, tapi Al-Qur’an yang juga dipeluk di dada saya. Jadi memang sedikit berbeda, waktu itu pikiran saya hanya satu, ini merupakan sebuah tanggung jawab yang berat, dan amanah harus dijalankan tidak untuk main-main,” tegasnya.

Menjabat sebagai Kepala Disdukcapil, tentu banyak yang harus diperbaiki, salah satunya adalah dari segi pelayanan.

“Untuk sempurna itu hanya milik Allah sang Pencipta. Tapi saya berpikir untuk deradikalisasi pelayanan di Disdukcapil, dengan memotong rantai permasalahan yang ada,” kata pria yang pernah jadi Kasubag Humas Setda Kota Bekasi ini.

Saat itu, disampaikan bahwa pelayanan di Disdukcapil Kota Bekasi tidak terkondisikan dengan baik, dari segi kinerja pegawai, pelayanan yang lama, antrian menumpuk, sampai banyaknya calo.

“Memang waktu itu cukup rumit, sehingga pikiran saya hanya satu, yaitu memutus rantai masalah tersebut,” ucapnya.

Sehingga di tahun 2019, muncullah sebuah inovasi baru yang kembali dibuatnya bersama tim, yaitu aplikasi E-Open, dimana semua pelayanan dapat dilakukan melalui aplikasi tersebut.

“Pada tahun 2019 saya membuat E-Open, dengan harapan bisa mengurangi antrian dan mengurai permasalahan yang ada, sehingga pelayanan efektif,” tegasnya.

Dengan kondisi yang tidak mudah, karena ada beberapa orang yang tidak mendukung, namun pada tahun 2020, E-Open berhasil diuji coba dan langsung dipaksakan untuk digunakan dalam pelaksanaan pelayanan.

“Untuk membuat sebuah perubahan itu tidak mudah, sebab ada saja orang yang masih berada di posisi zona nyaman, namun saya berhasil melakukan perubahan itu dengan diawali dari uji coba E-Open tahun 2020, dan saat itu lagi pandemi, jadi E-Open ini langsung dipaksakan untuk digunakan dengan berbagai kompeten yang cukup tinggi, mulai trial by error saja ada kendala langsung kami perbaiki,” tuturnya.

Berkat kerja keras yang dilakukan oleh dirinya bersama dengan tim, inovasi dalam bentuk aplikasi E-Open ini, mendapat penghargaan secara nasional Top 15 Replikasi Inovasi Pelayanan Publik yang diberikan oleh Menpan-RB tahun 2021.

“Alhamdulillah, dari hasil inovasi ini kami diberi penghargaan oleh Menpan-RB, sebagai inovasi pelayanan publik yang masuk sebagai Top 15, tentu ini menjadi sebuah kebanggaan bagi kami, karena apa yang kami buat memiliki sebuah kadar nilai yang sangat baik,” jelasnya.

Tidak ingin berhenti berinovasi, dirinya kembali membuat tim percepatan inovasi pelayanan Adminduk. Sehingga, inovasi tidak hanya berhenti pada aplikasi E-Open saja.

“Jadi saya tidak ingin berhenti pada E-Open ini, saya membuat kembali tim, bagaimana pelayanan kependudukan ini harus berkembang dan tumbuh,” tuturnya.

Disdukcapil bekerjasama dengan Satgas Pamor, sebab realisasi dan bentuk pelayanan baru sampai pada tingkat kecamatan, dari kecamatan ke masyarakat langsung belum ada.

“Petugas Pamor ini menjadi sebuah jembatan, yang kami beri nama Halo Pamor, dimana pelayanannya bisa dibantu para petugas. Menjadi sebuah solusi bagi masyarakat yang gaptek, malas ataupun sudah tua, untuk dibantu pelayanannya melalui aplikasi E-Open. Karena E-Open sendiri punya dua akses, yaitu petugas dan juga publik. Untuk publik, hanya bisa dilakukan satu KK saja, tapi untuk Halo Pamor ini bisa melayani satu RW,” terangnya.

Hadirnya Halo Pamor di tengah masyarakat, mendapatkan sebuah penghargaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar), sebagai finalis Top Inovasi di tingkat Jawa Barat 2021.

“Untuk Halo Pamor, kami juga mendapatkan penghargaan tingkat provinsi, tentu ini menjadi sebuah kebanggaan lagi bagi kami,”  beber Taufik.

Selanjutnya, hadir kembali inovasi baru dengan nama Anduk Bang Bek, sebagai pelayanan kependudukan bagi warga berkebutuhan khusus, dimana pelayanan tersebut menggunakan sistem jemput bola.

“Layanan Anduk Bang Bek ini diperuntukkan bagi masyarakat disabilitas, Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), lansia, difabel, masyarakat yang sedang mengalami ujian sekolah di lapas, sampai masyarakat kaum minoritas, dengan sistem jemput bola atau datang langsung untuk memberikan pelayanan khusus kepada mereka,” jelasnya.

Dalam inovasi ini, Disdukcapil juga mendapatkan sebuah penghargaan, yaitu sebagai Top Inovator 2022, lagi-lagi menjadi sebuah kebanggaan. Lanjut Taufik, selama 2022, Disdukcapil juga telah menerima kunjungan dari 35 kota/kabupaten di Indonesia, untuk melakukan studi tiru dengan inovasi yang ada di Kota Bekasi.

Taufik menyampaikan, saat ini Disdukcapil memiliki 25 inovasi yang sudah berhasil terealisasi, dimana menurutnya, inovasi tersebut merupakan sebuah lompatan bagi sebuah perubahan yang sasarannya adalah mempermudah akses pelayanan publik.

“Inovasi merupakan sebuah perubahan yang sasarannya adalah mempermudah akses pelayanan dan juga melakukan transformasi pelayanan. Sehingga targetnya, dari 25 inovasi ini, kami ingin lebih banyak lagi inovasi lain dengan sasaran dan tujuan yang jelas serta berkelanjutan,” harap Taufik. (dew)