Berita Bekasi Nomor Satu
Bekasi  

QRIS Jangan Asal Tempel, Ratusan Masjid di Bekasi Gunakan QRIS

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Selalu ada celah kelemahan di setiap kemajuan, hal ini dimanfaatkan orang tak bertanggung jawab. Salah satunya adalah sistem pembayaran menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Setidaknya 15 persen dari jumlah masjid di Kota Bekasi telah memanfaatkan QRIS.

Selain digunakan oleh pedagang, toko, restoran, hingga area parkir, QRIS juga digunakan oleh masjid. Berfungsi untuk mentransfer dana dari masyarakat atau jemaah ke masjid.

Belakangan heboh perilaku oknum mengganti QRIS ‘palsu’ pada kotak amal masjid di kawasan DKI Jakarta. Pelaku yang telah ditangkap ini bahkan juga mengganti QRIS di Masjid Istiqlal, masjid yang berjalan 27 km dari pusat Kota Bekasi.

Beberapa masjid di Kota Bekasi juga sudah menggunakan QRIS, sekira 15 persen dari total jumlah masjid terakhir sebanyak 1.300 masjid. Jumlah masjid di Kota Bekasi terus bertambah seiring perubahan dari mushola menjadi masjid, selain pembangunan masjid baru setelah ada tanah wakaf baru di lingkungan masyarakat.

“Yang besar-besar lah yang mungkin sudah menggunakan barcode itu. Belum (banyak), kita masih sedikit sekali yang menggunakan QRIS itu, perkiraan 15 persenan lah,” kata Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Bekasi, Jaja Jaelani.

Beberapa kali sosialisasi dilakukan oleh pihak bank kepada pengurus masjid di Kota Bekasi. Pada beberapa kesempatan juga, beberapa pengurus masjid telah mendapat QRIS dari pihak bank untuk digunakan.

Sampai dengan saat ini kata Jaja, belum ada laporan peristiwa QRIS masjid diganti oleh orang tak dikenal di Kota Bekasi. “Sampai detik ini Alhamdulillah tidak ada laporan yang berkaitan dengan penggantian kode QRIS seperti yang di Jakarta itu, mudah-mudahan jangan ada,” ungkapnya.

Kejahatan ini tergolong baru, catatan Radar Bekasi terkait dengan tindak kejahatan yang terjadi selama ini di lingkungan rumah ibadah diantaranya pembobolan kotak amal, hingga pencurian kendaraan jemaah.

Pengurus masjid yang saat ini sudah menggunakan QRIS diminta untuk berhati-hati dan meningkatkan keamanan. Beberapa upaya yang bisa dilakukan diantaranya menempatkan QRIS di tempat yang telah dipastikan aman, terlebih di area yang terpantau oleh kamera pengintai atau CCTV.

“Jangan sampai nanti ada yang menempel ulang untuk pribadi, bukan untuk masjid,” tambahnya.

Dalam menunjang keamanan masjid, keberadaan CCTV sangat diperlukan, setiap pengurus masjid diharapkan memantau secara rutin apa yang terjadi di lingkungan masjid selama periode tertentu. Sementara, belum banyak masjid di Kota Bekasi yang dilengkapi oleh CCTV.

Tawaran untuk menggunakan QRIS dari pihak bank juga pernah diterima oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Agung Al Barkah. Namun, sampai dengan saat ini QRIS urung digunakan.

Ketua DKM Masjid Agung Al-Barkah, Ismail Hasyim mengatakan bahwa kotak amal masjid agung hanya beredar kepada jemaah setelah pelaksanaan salat. Selebihnya, kotak amal tidak diedarkan.

“Kotak amal beredar hanya setelah salat, kita tidak seperti masjid yang sedang pembangunan atau segala macam, kan tidak boleh, standarnya beda. Jadi kita Alhamdulillah aman,” ungkapnya.

Peneliti Keamanan Siber, Alfons Tanudjaya mengatakan bahwa QRIS sedianya memiliki keunggulan, mampu menerima informasi sangat banyak dan sulit dipalsukan. Namun, code yang tidak bisa dibaca oleh manusia justru menjadi celah kelemahan disamping keunggulan yang dimiliki QRIS.

Setiap QRIS menyimpan informasi mulai dari nomor rekening, nama akun. Informasi ini sulit dibedakan antara QRIS yang satu dengan QRIS lain, terutama bagi masyarakat awam.

“Jadi utamanya pemalsuan QRIS itu memanfaatkan kelemahan tersebut. Karena bentuknya sama-sama kotak, dan beda bentuk titik yang muncul saja,” katanya.

Pemalsu QRIS bisa dilacak dari informasi rekening yang digunakan untuk menampung dana. Pihak bank wajib memberikan informasi rekening penampung dana dalam kasus pemalsuan QRIS kepada pihak yang berwenang untuk melacak akun.

Dalam kasus pemalsuan QRIS di rumah ibadah, hal-hal demikian bisa terjadi jika pengelola gagal teknologi, serta asal tempel QRIS. Peletakan QRIS hendaknya dilakukan di area yang sulit dijangkau, bisa dengan ketinggian yang tidak mungkin untuk dijangkau, atau ditempel dengan ukuran besar sehingga sulit diubah.

“Jadi bagi pengguna QRIS khususnya rumah ibadah, atau siapapun yang menggunakan QRIS wajib memantau stiker QRISnya dengan disiplin, dan scan teratur untuk mengidentifikasi kalau ada yang mengubah,” ungkapnya.

Penempatan QRIS di tempat terlindung kaca juga akan memudahkan identifikasi jika ada pihak yang mengubah QRIS. Atau kata Alfons, ada baiknya ditampilkan informasi rekening penerima QRIS sehingga dapat dibandingkan serta dicek ulang oleh pengirim.

Selain pengelola rumah ibadah, kehati-hatian juga wajib dilakukan oleh pengirim.”Bagi penyumbang yang ingin menyumbangkan uang ke QRIS, juga harap berhati-hati, dan sebelum melakukan transfer harus memastikan nama akun penerima QRIS tersebut. Kalau mencurigakan lebih baik tanyakan kepada pemilik akun,” tambahnya. (Sur)