RADARBEKASI.ID, BEKASI – Penjabat (Pj) Bupati Bekasi, Dani Ramdan, bersama sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Kabupaten (Pemkab Bekasi, melakukan studi untuk mengadopsi dan memahami proses pengolahan sampah organik secara terpadu ke Sekolah Pengelolaan Sampah (SPenSa), di Kelurahan Margajaya, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, akhir pekan lalu.
Dani mengatakan, kegiatan studi tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan dialog observasi lapangan kegiatan solusi spesifik percepatan pembangunan Kabupaten Bekasi Tahun 2023-2026. Program tekno sosial sampah ini dilakukan bersama dengan tim dari Institut Teknologi Bandung (ITB).
“Dari sini kami belajar bahwa ternyata sampah organik itu bisa diolah di rumah, bahkan menjadi berguna. Ada yang jadi kompos, maggot atau larva dan bisa untuk pakan ternak, dan tekniknya juga sangat mudah,” ujar Dani.
Dalam kunjungan itu, Dani bersama tim berkesempatan melihat secara langsung sistem pengelolaan sampah organik yang dilakukan oleh SPenSa, serta treatment apa saja yang perlu dilakukan dalam mengelola sampah organik secara tepat.
“Dari berbagai cara yang kami pelajari, mungkin ini yang paling mudah. Tidak perlu ada alat tambahan dan campuran apapun, hanya menyediakan bak, jadi tidak usah dibolak-balik tinggalkan saja dua bulan, sudah beres jadi kompos sendiri. Saya kira ini yang sangat mudah untuk diterapkan di Kabupaten Bekasi,” tuturnya.
Lanjut Dani, Pemkab Bekasi akan segera mencoba mengimplementasikan teknik dan cara pengelolaan sampah organik, dengan mengambil beberapa sampel yang akan dijadikan pilot project.
“Saya sudah instruksikan pertama dimulai dari rumah dinas sendiri, dan di Kantor Komplek Perkantoran Pemkab Bekasi. Nanti sampah organiknya harus sudah di split dan dibuat fasilitas seperti ini. Dan yang kedua, saya mengajak Kadisdik, jadi di sekolah terpilih nanti juga menerapkan, tetapi targetnya semua sekolah bisa melakukan pemilahan sekaligus untuk praktek para siswa/i juga,” harapnya.
Yang ketiga, sambung Dani, adalah pasar yang ada di Kabupaten Bekasi. Seperti diketahui, karena pasar merupakan salah satu penghasil komposisi sampah organik sangat tinggi, dan penerapan pengelolaan sampah organik tentunya dapat mengurangi pengangkutan sampah terbesar ke Tempat Pembuangan Sampah (TPA) Burangkeng.
“Jadi, kebetulan ada beberapa pasar di Kabupaten Bekasi sedang direnovasi dan dibangun ulang, lalu akan kami wajibkan dalam desain yang baru itu ada instalasi pengolahan sampah organiknya, sehingga tidak perlu diangkut ke luar. Nanti diolah, dan ternyata melalui treatment ini sampah organik tidak berbau, cukup hanya dengan bioteknologi yang ada di sekitar pasar,” ucapnya.s
Dani juga menambahkan, bahwa di Kabupaten Bekasi sendiri saat ini sudah cukup banyak bank-bank sampah yang diberdayakan oleh masyarakat, dari tingkat RT/RW hingga tingkat desa maupun kecamatan. Namun demikian, melalui kegiatan studi banding ini, Pemkab Bekasi akan segera memformulasikan agar bank-bank sampah tersebut juga fokus mengolah sampah organik.
“Ada sekitar 200 lebih bank sampah di Kabupaten Bekasi, tetapi mayoritas intens mengolah sampah non organik, yang proporsinya kecil (plastik dan kertas). Nah, kami ingin dorong agar semua bank sampah juga menangani sampah organik,” imbuhnya. (and/adv)











