Berita Bekasi Nomor Satu

Indahnya Kepribadian Islam

Oleh : Maimunah, Rahma Sari Aulia, Eka Sri Pujianti, Nurhasanah

Maimunah, Rahma Sari Aulia, Eka Sri Pujianti, Nurhasanah

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Akhir–akhir ini, banyak berita tentang perselingkuhan, perzinahan, LGBT suka dengan sejenis, dan masih banyak hal–hal yang diharamkan dalam Islam, tapi dilakukan oleh sebagian umat Islam, karena mengikuti negara–negara sekuler.

Tentunya ini menjadi hal yang meresahkan, dan perlu tindak lanjut yang serius untuk menghindarkan para pemuda Islam agar tidak mengikuti kepribadian dan pola hidup yang kurang baik.

Perkembangan zaman sekarang begitu pesat, sehingga memunculkan beraneka ragam teknologi, salah satunya teknologi informasi dan komunikasi. Perkembangan itu, ditandai dengan maraknya aneka media sosial (medsos) yang mempermudah masyarakat untuk mengakses segala informasi, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, apakah itu positif ataupun negatif dengan sangat mudahnya.

Sehingga tentunya, mudah bagi siapa saja untuk meniru atau menelan mentah-mentah segala hal yang disajikan dalam medsos itu, salah satunya bagi umat Islam, terutama pemuda Muslim meniru kepribadian barat yang kurang baik, seperti free sex, LGBT, minum-minuman keras.

Oleh sebab itu, perlu kiranya mengenalkan kembali pemahaman kepada para pemuda Islam tentang indahnya kepribadian Islami, serta menumbuhkan kebanggaan berkepribadian Islami.

Kepribadian seseorang, menurut Syekh Taqiyuddin An Nabhani, dipengaruhi oleh cara seseorang berfikir dan berbuat untuk memenuhi kebutuhan–kebutuhan atau keinginan-keinginannya.

Kepribadian Islami atau yang lebih dikenal dengan Syakhsiyah Islamiyah, adalah perpaduan cara berpikir yang Islami ( Aqliyah Islamiyah ) serta perilaku atau keinginan yang Islami (Nafsiyah Islamiyah), sehingga diharapkan seorang muslim mempunyai pola pikir serta sikap yang didasarkan pada ajaran Islam, dengan berpedoman pada Al-Quran dan Sunnah.

Ciri – ciri Kepribadian Islami:

1. Pribadi yang tawadhu, tunduk pada ketetapan Allah , dengan senantiasa pemikiran serta hawa nafsunya didasarkan pada ajaran Islam.

2. Siap berjihad, membela agama Islam dengan harta dan jiwa mereka, sebagaimana Allah telah berfirman dalam surat Al hujurat ayat 15

“Sesungguhnya orang–orang yang beriman, yaitu orang–orang yang beriman kepada Allah dan Rasulnya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar” ( QS. Al hujurat,49 : 15 ).

3. Senantiasa senang beramar ma’ruf nahi munkar, yaitu senang melaksanakan dan menyuruh kebaikan dan mencegah dari yang munkar.

4. Lemah lembut kepada sesama muslim, namun tegas kepada orang-orang kafir “ Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang–orang yang bersama dengan dia (Muhammad) adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka (Q.S. Al-Fath : 29 ). Untuk membentuk kepribadian Islami, maka harus ada sinergi antara hati (qalbu), pikiran (akal) serta sikap (nafsu).

1. Hati menjadi cerminan baik buruknya seseorang, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

“ Ketahuilah bahwa dalam jasad, terdapat mudghah yang apabila rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, bahwa mudghah itu adalah hati” ( HR Al Bukhari ).

Dari hadis ini, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa hati itu ibarat cermin, bila cerminnya bersih, maka dengan mudah menangkap cahaya yang datang. Namun bila cerminnya kotor, tentu tidak akan dapat menangkap cahaya walau setitik.

2. Pikiran (akal) , yaitu kemampuan untuk memahami serta memikirkan sesuatu, yang mampu ditangkap oleh panca indera.

3. Sikap ( Nafsu ), yaitu kemauan, kehendak atau dorongan hati untuk memuaskan kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani. Tahap memperkuat kepribadian Islami

1. Meningkatkan kualitas aqliyah Islamiyah atau kualitas pikiran dengan rajin menambah khazanah ilmu–ilmu Islam (Tsaqofah Islamiyah) . Hal yang penting disini adalah, menanamkan aqidah Islam sejak dini sebagai ide dasar untuk menjadi landasan umat Islam dalam menjalani semua aktivitas kehidupan yang dijalani serta memahami bahwa semua yang dilakukannya sebagai ibadah mengharap keridhaan Allah SWT.

Islam telah mendorong umatnya untuk rajin menuntut ilmu, dari kecil hingga maut menjemput, kapanpun dan dimanapun. Karena dengan ilmu, maka umat Islam bisa menangkal berbagai pemikiran yang merusak dan pemikiran yang bertentangan dengan agama, salah satunya pemikiran LGBT.

2. Melatih pola perilaku sesuai nafsiyah Islamiyah. Pola perilaku Islami, dengan melatih diri melakukan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya seperti membiasakan melaksanakan amalan ibadah wajib serta amalan sunnah, membiasakan diri meninggalkan perkara yang syubhat atau makruh, sehingga bisa menjaga diri dari perkara yang haram.

Semua metode pembentukan kepribadian Islam, bisa dibentuk melalui pendidikan sebagai tempat transfer nilai, pandangan hidup ( aqidah ), pemahaman serta berbagai pengetahuan, sehingga peserta didik dapat memilah mana yang benar dan mana yang salah, agar dia mampu mengambil jalan hidup yang benar.

Peran pendidikan menjadi penting dalam perspektif Islam sebagai transfer ilmu, penanaman, pembentukan serta pembinaan nilai–nilai keislaman yang bersumber dari Al-Quran dan hadist, transfer aqidah Islamiyah (Keimanan) serta berbagai pengetahuan Islam, seperti Ulumul Qur’an, Ulumul hadits, Tafsir, Fiqh, sirah nabawiyah, serta aneka ilmu pengetahuan dan keterampilan, sehingga setiap peserta didik mampu menjalani kehidupannya dengan baik, sesuai syariat Islam, dan tidak terpengaruh budaya atau pemikiran lain yang merusak dan bertentangan dengan agama Islam.

Seseorang yang berkepribadian Islam, memiliki syakhsiyah Islamiyah yang baik, dia kan menjadi pusat perhatian di tengah masyarakat, karena ketinggian ilmu dan kekuatan jiwanya. Selain berkepribadian Islam yang menjadi ciri khasnya, begitupun penampilan fisiknya yang mempesona, karena senantiasa menjaga penampilan fisik, senang akan keindahan dan kebersihan, karena Rasulullah SAW dan para sahabat beliau, telah memberikan teladan yang baik, sebagai orang–orang yang berkepribadian Islami yang paripurna dan kokoh, serta teladan bagi seluruh umat Islam, khususnya dan umat manusia pada umumnya. (*) Mahasiswa program pasca sarjana Universitas Panca Sakti Bekasi

Solverwp- WordPress Theme and Plugin