RADARBEKASI.ID, BEKASI – Dampak El Nino di sejumlah daerah, khususnya di Kabupaten Bekasi sudah mulai dirasakan adalah kekeringan (puncaknya diprediksi akan terjadi pada bulan Agustus hingga September 2023) dan berpotensi mengakibatkan terjadinya gagal panen.
Fenomena El Nino juga dapat memicu resiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Berdasarkan catatan Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, hingga 21 Agustus 2023, terdapat 13 wilayah pertanian mengalami kekeringan.
Area persawahan di Desa Sukaringin, Kecamatan Sukawangi, salah satu wilayah yang terdampak fenomena tersebut. Selain karena saluran irigasinya mengering, intensitas hujan yang rendah juga menjadi penyebab ratusan hektar sawah di desa itu terancam gagal panen.
Salah satu petani asal Desa Sukaringin, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi, Jeri mengaku, di Desa Sukaringin ada 100 hektare sawah yang mengalami kekeringan, disebabkan tidak adanya air pada saluran irigasi.
“Untuk lahan yang ada di wilayah Desa Sukaringin ini, kurang lebih 100 hektar kekeringan, karena pintu air yang bersumber dari Kali Cikarang, Srengseng hilir itu rusak. Selain itu terjadi pendangkalan dan banyak tumpukan sampah,” ucap Jeri, saat ditemui di area sawah garapannya, di Sukaringin.
Akibat tidak adanya air yang mengalir ke area persawahannya, membuat tanaman padi miliknya tidak tumbuh dengan baik, sehingga merugi. Dikatakan Jeri, dalam satu hektar kerugian yang dialaminya Rp 5 juta sampai Rp 7 juta. Kondisi sawah di wilayah Sukaringin ini berbagai macam, ada yang sudah menyemai dan tengah memupuk.
“Kekeringan ini terjadi sudah kurang lebih hampir satu bulan, dengan kerugian per hektar rata-rata Rp 5 – Rp 7 juta, karena petani sudah ada yang menyemai,” terangnya.
Lanjut Jeri, para petani di wilayah Utara Kabupaten Bekasi berharap, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi harus mengambil tindakan dan mencari solusinya. untuk menangani masalah air irigasi buat area persawahan. Saat ini, para petani secara swadaya memperbaiki saluran-saluran irigasi yang ada.
“Kami sudah sering kali membuat laporan secara lisan atau tulisan di dalam forum rapat. Jangan cuma janji-janji, seremonial, namun tidak ada tindakan. Kalau misalkan tidak ditangani, maka petani tidak bisa bekerja, dan kami butuh biaya sekolah anak-anak maupun yang lainnya. Penghasilan kami hanya dari pertanian,” ujar Jeri.
Sementara Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Nayu Kulsum menjelaskan, bahwa pihaknya saat ini tengah menginventarisir area persawahan yang kekeringan, termasuk mengecek saluran irigasi yang mengalami kerusakan.
“Yang dikeluhkan petani itu masalah air. Saat ini ada kurang lebih 13 kecamatan terdampak kekeringan. Kami sudah inventaris lahan-lahan yang mengalami kekeringan, khususnya di wilayah Utara Kabupaten Bekasi, seperti Cabangbungin, Sukawangi, Sukatani, Sukakarya, dan juga beberapa saluran irigasi yang rusak, sekaligus komunikasikan dengan pihak terkait,” beber Nayu, di Cikarang Pusat, Senin (21/8).
Selain melakukan inventarisir, pihaknya tengah bersinergi dengan instansi lain untuk menanggulangi kekeringan di Kabupaten Bekasi. Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, juga menyediakan bantuan benih padi bagi para petani yang terdampak fenomena El-Nino ini.
“Untuk mengurangi resiko petani gagal panen, kami memberikan bantuan benih. Insyaallah, kami sudah menyiapkan pompa, tinggal sumber airnya, dan kami akan bersinergi dengan Perum Jasa Tirta (PJT) sebagai pihak penyedia air,” terang Nayu. (ris)











