Berita Bekasi Nomor Satu

Pemkab Bekasi Ogah Disalahkan Soal Pencemaran di Muaragembong

Dani Ramdan Pj Bupati Bekasi

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi ogah atau tidak mau disalahkan soal pencemaran limbah yang mengotori perairan laut Muaragembong sehingga berdampak pada berkurangnya tangkapan para nelayan. Ini karena air di sejumlah sungai Kabupaten Bekasi yang mengalir ke Muaragembong mengalami peningkatan mutu.

Penjabat (Pj) Bupati Bekasi, Dani Ramdan, menyampaikan status mutu air sungai di Kabupaten Bekasi yang mengalir ke perairan laut Muaragembong pada 2023 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.

“Menurut data yang saya terima dari DLH, status mutu air sungai di wilayah Kabupaten Bekasi 2023 mengalami kenaikan mutu dari sebelumnya. (2022) masih ada cemar berat, tahun ini statusnya jadi cemar sedang dan ringan,” ujar Dani, kepada Radar Bekasi, Selasa (28/11).

Menurut data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) 2023, terdapat 24 sungai yang mengalir ke perairan laut Muragembong. Puluhan sungai itu, Ulu Hulu, Ulu Hilir, Jambe Hulu, Jambe Hilir, Cikadu Hulu, Cikadu Hilir, Cilemahabang Hulu, Cilemahabang Hilir, Cibeureum Hulu, Cibereum Hilir, Ciherang Hulu, Ciherang Hilir.

Kemudian, Blencong Hulu, Blencong Hilir, Blencong Tengah, Pisangan Tengah, Babakan Tengah, Cibeureum Tengah, Jambe Tengah, Sadang Tengah, Ulu Tengah, Cilemahabang Tengah, Cikadu Tengah, dan Ciherang Tengah,

Dani menegaskan, untuk memastikan penyebab pencemaran di perairan Muara Gembong harus melibatkan pengujian kualitas air laut di wilayah tersebut. Namun, untuk melakukan hal tersebut, wewenangnya (hingga 12 Mil laut) berada di tangan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat.

Mengenai penurunan hasil tangkapan ikan yang diakui Nelayan, salah satunya yang disebabkan oleh pencemaran, Dani tak sepakat. Ia menegaskan, terdapat beberapa faktor yang berkontribusi pada penurunan tingkat produktivitas perikanan.

Berdasarkan hasil kajian dari Dinas Perikanan Kabupaten Bekasi, terdapat faktor hidro-oceanografi yang mencakup perubahan musim tangkapan (Baratan, Timuran, dan Peralihan), kecepatan angin, tinggi gelombang, kecepatan dan pola arus laut, suhu permukaan air laut, salinitas air laut, serta banjir rob. Selain itu, faktor lingkungan juga ikut berperan, seperti pencemaran perairan laut, sampah laut, dan sedimentasi.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi produksi perikanan tangkap meliputi peningkatan jumlah ikan yang ditangkap dan di daratkan (baik di pelabuhan maupun non-pelabuhan), peningkatan sarana dan prasarana penangkapan ikan, peningkatan keterampilan nelayan dalam menangkap ikan, dan perbaikan pencatatan data produksi penangkapan ikan.

“Menurut kajian Dinas Perikanan, tingkat produktivitas perikanan tangkap bisa disebabkan banyak faktor, bukan hanya masalah pencemaran,” ucapnya.

Upaya dari Dinas Perikanan Kabupaten Bekasi, Dani menuturkan, peningkatan kompetensi dan keterampilan nelayan melalui pelatihan, seperti penyerahan 94 bahan unit API dan Pelatihan Pembuatan Alat Penangkapan Ikan (API) Ramah Lingkungan 2023, Perbaikan Mesin Kapal 2022, dan Laminasi Kapal 2021.

“Upaya-upaya sudah dilakukan, mulai dari pemberian bntuan sarana dan prasarana penangkapan ikan, bantuan sosial bagi nelayan kecil,” ucapnya.

Menurutnya, penangkapan ikan cenderung meningkat. Rata-rata produksi sejak 2019-2022 sebanyak 8.120 ton per tahun. Sedangkan rata-rata produksi sejak 2013-2018 hanya 2.296 ton per tahun.

Sementara tren produksi Bulanan Pelabuhan (TPI Paljaya, Muara Jaya, Muara Bendera dan Muara Bungin), pada Januari sampai Oktober 2022 sebanyak 1.500 ton per tahun. Kemudian pada Januari sampai Oktober 2023 mencapai 1.800 ton per tahun

Lalu tren produksi bulanan (Pelabuhan dan Non Pelabuhan), pada Januari sampai Oktober 2022 kisaran 7,200 ton per tahun. Kemudian pada Januari sampai Oktober 2023 mencapai 7.250 ton per tahun.

“Jadi ada tren peningkatan produksi kalau data di Dinas Perikanan Kabupaten Bekasi,” katanya. (pra)

Solverwp- WordPress Theme and Plugin