Berita Bekasi Nomor Satu
Bekasi  

Internalisasi Nilai-nilai Kesadaran Bela Negara Melalui Kewirausahaan

Susetya Herawati

Susetya Herawati

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Generasi muda dewasa ini sering dituding sebagai generasi yang tidak peduli dan hidup di ruang dan waktunya sendiri.

Kita lupa bahwa Kebangkitan Nasional yang dimulai dengan berdirinya Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 , berlanjut pada Sumpah Pemuda 28 oktober 1928 adalah sebuah kesadaran dari kaum muda terdidik yang bangkit rasa dan semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme, serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Disinilah kita perlu menggali kesadaran generasi muda terhadap nilai- nilai tersebut, bahwa kesadaran mencintai Tanah Air (Bela Negara) tidak semestinya hanya dipahami sebagai upaya“Memanggul Senjata” atau yang berbau “Militerisme”, dan juga bukan semata-mata hanya tugas TNI, akan tetapi menjadi tugas segenap warga negara Indonesia sesuai dengan kemampuan dan profesinya dalam berkehidupan. Generasi Mudalah yang harus mengisi pembangunan sesuai dengan perkembangan peradaban yaitu secara kreatif, inovatif dan mandiri.

Konsep pembangunan yang gagal menurut Joesoef (2014: 158-162) dikarenakan, bersifat parsial dan menyendiri, mengabaikan aspek human dari rakyat (manusia) Indonesia. Manusia dalam kehidupannya tidak hanya butuh “to have more” tetapi lupa “ to be more”, berarti bahwa mereka self esteem dan ingin dihargai martabatnya dengan dilibatkan, berpartisipasi dalam pemikiran dan pelaksanaan pembangunan.

Etika pembangunan harus melihat masa depan, sehingga harus menghayati untuk dan demi masa depan. Swasono (2010) pembangunan yang berhasil dan lebih lagi dalam menghadapi globalisasi maka masyarakat khususnya generasi muda haruslah memiliki kemandirian dalam sikap dan mindset, sikap berdikari dengan menolak ketergantungan pada pihak lain, sikap subordinasi dan menolak mental pengemis.

Di sinilah dibutuhkan sebuah kebijakan publik yang dapat mendorong nalar publik untuk bersama sama membangun kesadaran bela negara bagi generasi muda untuk mandiri melalui kewirausahaan. Yang oleh Ki Hajar Dewantara direpresentasikan dalam berkarya dengan baik melalui cara Niteni, Nirokke dan Nambahi.

Indonesia tahun 2023 ini telah berusia 78 tahun, pada kenyataannya masih tertinggal dengan beberapa negara Asean, serta belum mampu mensejahterakan dan mencerdaskan rakyatnya, sesuai dengan tujuan nasional yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Hal ini dapat dilihat dari Human Development Index (HDI) Indonesia yang masih berada pada level menengah di dunia.

BKKBN( Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) menyebut indeks Pembangunan Manusia (Human Capital Index) Indonesia menduduki peringkat 130 dari 199 negara di dunia, begitu juga dengan EQ kita yang menduduki peringkat enam di ASEAN (Hasto Wardoyo, 2022) .

Dari data World Bank 2020 HCI Indonesia sebesar 54 % jauh tertinggal dari Singapura yg memiliki HCI 88% , dan bahkan kita juga tertinggal dari Palestina yg memiliki Angka HCI 58,%.
Tentu saja ini menjadi PR besar dan tantangan bagi kita warga negara Indonesia untuk mewujudkan SDM unggul menyongsong Indonesia emas 2045.

Di sisi lain Indonesia memiliki modal budaya dan kekayaan sumber daya alam yang melimpah dengan keanekaragaman hayatinya. Bangsa Indonesia juga dikenal sebagai suatu bangsa yang memiliki peradaban terbuka dengan tingkat solidaritas dan kebersamaan yang tinggi.

Bangsa yang berjiwa ”kolektivisme” (bukan individualisme), di dalamnya terkandung budaya luhur yang telah ratusan tahun berkembang, seperti: gotong-royong, kekeluargaan, toleransi, musyawarah untuk mufakat dan masih banyak lagi.

Selain itu, budaya bangsa Indonesia juga sangat beragam yang merangkum berbagai kebudayaan yang tumbuh di dalamnya dalam bentuk-bentuk kearifan lokal (local wisdom), ilmu pengetahuan dan teknologi, karya, keahlian, serta bentuk-bentuk kebudayaan lainnya yang bersifat unik.

Selain memiliki keunggulan yang menjadi nilai luhur bangsa, menurut Koentjaraningrat (1992), bangsa Indonesia memang memiliki kelemahan atau sisi negatif dalam hal budaya, yaitu: feodal, rendah diri, malas, munafik, dan suka mencari kambing hitam.

Bangsa Indonesia memiliki Pancasila yang digali oleh para founding fathers dari akar budaya bangsa Indonesia serta telah ditetapkan sebagai dasar negara (staat fundamental norm) dan pandangan hidup bangsa (weltanschauung) dalam upaya menjaga keutuhan bangsa-negara maupun dalam mencapai tujuan nasional.
Dalam mengekspresikan dirinya sesuai dengan ideologi Pancasila, bangsa Indonesia juga memiliki cara pandang (visi) Wawasan Nusantara yaitu visi kenegaraan sekaligus semangat yang memandang seluruh kepulauan Indonesia beserta seluruh isi dan kandungannya sebagai satu kesatuan yang utuh.

Wawasan Nusantara ini tumbuh dan berkembang secara bertahap, dibangun secara internal dengan mengikutsertakan seluruh kalangan bangsa Indonesia, dan secara eksternal dalam perjuangan di fora internasional khususnya di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Dengan melihat seluruh dinamika yang terjadi saat ini serta akan terjadinya bonus demografi seperti yang disampaikan oleh United Nation dalam laporan World Population Prospect (2011), yang menyampaikan bahwa Indonesia diperkirakan akan mendapat bonus demografi pada tahun 2020-2030 yang tentu saja akan menguntungkan dari sisi pembangunan.

Pada periode tersebut jumlah usia produktif akan meningkat mencapai 180-190 juta jiwa, dan jumlah penduduk usia non produktif akan menurun hingga 82-85 Juta jiwa.

Perubahan transisi demografi ini tentu saja membawa dampak terhadap beban tanggungan pada periode tersebut dengan mencapai titik terendah yang berkisar pada 44% yang berarti setiap 100 orang usia produktif akan menanggung beban sekitar 51 orang usia tidak produktif.

Maka sangat penting untuk melihat pemuda sebagai agen pembangunan yang perlu disadarkan dalam hal pentingnya budaya asli bangsa Indonesia.

Globalisasi dipercepat dengan sejumlah faktor pendorong seperti inovasi dibidang teknologi, deideologi perang dingin, migrasi penduduk lintas negara, kebutuhan kerjasama antar bangsa, dan penanaman modal asing ke negara-negara yang tengah berkembang. Globalisasi juga berdampak pada aspek budaya masyarakat, terutama yang ditampilkan melalui media sosial.

Apa yang terjadi di negara lain dalam waktu yang sama bisa disaksikan oleh masyarakat Indonesia. Banyak inovasi budaya karena terinspirasi oleh budaya asing, misalnya dalam dunia musik dan model busana.

Yang juga fenomenal adalah kebutuhan anak muda untuk belajar bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Mengapa Inggris? Dibanding bahasa asing lain, bahasa Inggris memiliki distingsi tersendiri, antara lain buku-buku sains paling mudah dijumpai dalam bahasa Inggris, sehingga siapapun yang ingin memasuki pergaulan global jauh akan lebih terbantu jika seseorang menguasai bahasa Inggris.

Kebutuhan dan minat belajar asing lain juga meningkat, misalnya bahasa Mandarin dan Jepang. Semua ini tidak lepas dari pengaruh globalisasi. Satu catatan penting, di era globalisasi Indonesia mesti aktif-kreatif agar tidak semata jadi obyek atau sasaran kekuatan asing, tetapi juga melihatnya sebagai peluang.

Makanya sangat relevan apabila ekonomi Indonesia tidak lagi menggantungkan sepenuhnya pada belas kasih sumber alam yang semakin menipis, tetapi pada sumber daya insani yang kreatif-inovatif.

Kewirausahaan sebagai wujud kesadaran Bela Negara
Krisis ekonomi pada tahun 1997 yang melanda Indonesia dan beberapa negara ASEAN lainnya,merupakan harga mahal yang harus dibayar untuk model pembangunan yang dipilih pemerintah.

Model pembangunan tersebut pada dasarnya mengejar pertumbuhan tinggi, ekspansi usaha dan konglomerasi. Dan hal inilah yang mencerminkan rapuhnya struktur dasar atau fundamental ekonomi disamping tidak adanya kemampuan secara profesional dalam mengelola perekonomian.

Peter F. Drucker (1988) membuktikan bahwa penyumbang terbesar perekonomian di Amerika bukan perusahaan –perusahaan terbesar berteknologi tinggi, tetapi dunia wirausaha yang mampu menciptakan ribuan lapangan pekerjaan.

Oleh karena itu selanjutnya para ilmuwan ekonom perancis, Inggris dan Austria menulis tentang entrepreneur sebagai agen perubahan ( agents of change) dari ekonomi yang progresif.

Saat ini bonus demografi Indonesia perlahan digantikan dengan munculnya generasi muda yang secara substantif memiliki esensi yang sama pada usia produktif yang memiliki ciri lahir dan tumbuh diera kecanggihan, kepraktisan, serta kemudahan dari teknologi, komunikasi dan multimedia.

Setiap hari mereka berhadapan dengan arus informasi dari segala penjuru dunia melalui gawai dan jaringan media sosial. Di satu sisi hal ini tentu saja membuat mereka tidak canggung dan lebih egaliter dalam berdiskusi untuk mengetahui banyak hal.

Di sisi negatifnya adalah kendala teknologi untuk menyaring seluruh informasi terkait bahasa yang kurang patut, adu domba , SARA dengan tujuan negatif. Belum lagi dengan Revolusi Industri 4.0 yang akan menggerus ratusan ribu pekerja manual yang akan digantikan dengan tenaga mesin atau kecerdasan buatan.

Dalam acara Rembuk nasional Aksi Bela Negara pada tahun 2018, penulis mengikuti rumusan- rumusan dalam pelaksanaan implementasi Bela Negara yang kemudian menggaris bawahi program penting dalam hal ini mengajak kita semua untuk meningkatkan dan mampu mengelola sumber daya alam sebagai bagian dari mengatasi ancaman dalam bentuk ekonomi khususnya pada generasi muda.

Indonesia memiliki kekayaan yang luar biasa yang berasal dari kekayaan alam dari hasil tumbuh-tumbuhan, dari hasil hasil laut dan dari hasil dari oleh hasil dari tumbuh-tumbuhan dan laut.

Bela Negara adalah kesadaran kita secara yuridis, dalam menghadapi setiap ancaman, gangguan , hambatan dan tantangan (AGHT) . Dalam penjelasan Pasal 9 ayat (1) huruf a undang-undang Nomor 3 Tahun 2003 tentang Pertahanan Negara menyatakan bahwa Upaya Bela Negara adalah sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara.

Bela negara selain sebagai kewajiban dasar manusia, juga merupakan kehormatan bagi setiap warga negara yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran, tanggung jawab dan rela berkorban dalam pengabdiannya kepada negara dan bangsa.

Dalam melaksanakan kesadaran bela negara ini secara ideal sesuai amanat Inpres No 7 Tahun 2018 secara ideal segmentasi masyarakat yang dapat terlibat adalah elemen Pemerintah, Akademisi, Swasta, Komunitas dan Media (model PentaHelix).

Pendekatan dengan model pentahelix ini dimaksudkan untuk terbangunnya sebuah sinergi yang utuh antara pendekatan kesejahteraan (prosperity) dan Keamanan (Security). Selain itu penggunaan model pentahelix ini diharapkan untuk membangun kebersamaan segenap bangsa dan warga negara melalui aksi Bela Negara.

Dalam praktiknya berbasis pada antropologi budaya dan kearifan lokal melalui penerapan skill, strategi, sistem dan struktur dalam mencapai target yaitu kemakmuran rakyat melalui gotong royong.

Untuk menyemangati generasi Milenial yang akan berhadapan dengan bonus demografi, dicontohkan dalam acara rembuk Nasional Bela negara tersebut adalah peran penting dari masyarakat khususnya generasi muda untuk mampu memberdayakan potensi lokal dalam memperkokoh ketahanan pangan.
Sebagai contoh adalah pemberdayaan makanan sagu yang diolah sedemikian rupa yang kemudian dapat membantu masyarakat lainnya di luar papua sehingga mengurangi ketergantungan pada beras secara nasional, yang kemudian juga dapat sebagai ajak kebersamaan atau mengenal daerah lain di Indonesia melalui pengenalan tata boga.

Program ini sudah dilaksanakan melalui peningkatan Produksi sagu sebagai Makanan Pokok alternatif. Adapun rumusannya seperti mendorong intensifikasi produk varietas pangan pokok lokal guna mendorong diversifikasi pangan nasional.

Wujud kewirausahaan dalam kehidupan bermasyarakat adalah bagaimana mereka mampu berkontribusi melalui kreativitas, inovasi yang dituangkan melalui gagasan-gagasannya untuk mampu mengatasi problem krisis ekonomi yang sampai saat ini masih kita rasakan.

Kemampuan ini kita butuhkan untuk mengantisipasi perubahan yang selalu terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, perubahan tata kehidupan global yang sewaktu-waktu selalu mempengaruhi kemampuan seseorang dalam beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.

Relevansi kewirausahaan sebagai wujud kesadaran bela negara, adalah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, ciri masyarakat yang gemar berwirausaha adalah masyarakat yang mampu menjawab setiap bentuk perubahan, perkembangan, dan tuntutan zaman di era globalisasi ini.

Kelompok generasi muda ini optimis bahwa setiap kesulitan yang dihadapi pasti akan teratasi, tidak mudah terprovokasi dan mempunyai keyakinan diri yang tinggi. Perilaku tersebut akan tercermin dari kegiatan keseharian yang ditaklukkan oleh kelompok generasi muda tersebut.

Kewirausahaan sebagai wujud kesadaran Bela Negara merupakan perwujudan keseimbangan antara keaslian dan substansi nilai –nilai luhur bangsa Indonesia yang kemudian dengan pemikiran kreatif dan inovatif generasi milenial sesuai dengan kondisi kekinian dikemas dengan kemasan yang dapat diterima dengan tidak menghilangkan budaya asli dan tidak tertinggal dengan kemajuan zaman, sehingga menjadi kegiatan yang produktif.

Karakteristik kepribadian dari individu generasi muda yang melakukan wirausaha dikembangkan sesuai dengan konsep ketahanan nasional yaitu, Kegigihan dan Ketangguhan sebagai individu dan sebagai bangsa ( dalam konteks yang lebih luas) yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional yang menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara untuk mencapai tujuan negara yaitu adil dan makmur.

Untuk menanamkan jiwa kegigihan dan keteguhan ini tidaklah mudah, tidak bisa hanya dilakukan melalui seminar, ceramah atau training, akan tetapi ditanamkan melalui kebiasaan, praktek kerja, latihan, pemagangan , dengan menggunakan metode partisipatif aktif dari semua aktor dalam membangun generasi muda wirausaha.

Dari kondisi kondisi tersebut di atas Kewirausahaan sebagai bagian dari Bela negara dapat dimaknai dengan baik oleh generasi muda dimana saluran media benar benar digunakan untuk hal hal yang mampu membantu dirinya untuk lebih kreatif dan inovatif dalam menggerakan pikiran pikiran produktif dalam meningkatkan ketahanan pangan.

Di sini generasi muda juga mampu memberikan perhatian untuk dapat mensukseskan pembangunan berkelanjutan yang menitik beratkan pada 17 program yaitu : (1) Tanpa Kemiskinan, (2). Tanpa Kelaparan, (3) Kesehatan yang baik dan kesejahteraan, (4). Pendidikan berkualitas, (5) Setara Gender, (6) Air Bersih dan Sanitasi, (7) Energi Bersih dan Terjangkau, (8). Pertumbuhan ekonomi dan Pekerjaan yang layak, (9) Industri, Inovasi dan Infrastruktur , (10) Mengurangi Kesenjangan, (11) Keberlanjutan Kota dan Komunitas , (12) Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab (13) Aksi terhadap iklim, 14. Kehidupan Bawah Laut, 15. Kehidupan di darat. 16. Institusi Peradilan yang kuat dan Damai, 17. Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Kewirausahaan bagian dari bela negara ini juga dapat menjadi passion, generasi muda yang penuh kesadaran dalam meniti karirnya. Mereka tidak ingin menjadi beban masyarakat atau bahkan negara dengan mengejar sesuatu sesuai hobi dan passion.

Mereka membutuhkan sebuah ruang kebebasan, pembuktian sosial dan aktualisasi diri, namun disisi lain mereka ingin segera meraih kemapanan dan kepastian mengenai kondisi ekonominya.

Disinilah kewirausahaan mampu memberikan jawaban bahwa pekerjaan yang bersifat kreatif. Industri kreatif dalam persepsi generasi muda akan mendatangkan profit yang optimal.

Sehingga pada masa ini dan yang akan datang profesi bagi generasi muda itu berubah akan semakin kuat pada ranah industri kreatif , hal ini didukung dengan berbagai fasilitas e-bisnis, media sosial, serta platform penyedia sarana bisnis.

Dan kita semua tahu bahwa tahun 2017 mulailah bermunculan inkubator startup yang mendukung tumbuh kembangnya pengusaha digital atau idea- ide baru . Menurut Farid ada empat hal yang mendorong generasi muda bertransisi menjadi seorang wirausaha yaitu, Merdeka secara Finansial serta merdeka secara pemikiran, Melestarikan lingkungan pertemanan (tongkrongan anak muda), Memberikan kontribusi kepada komunitas ( menciptakan perubahan), pembuktian kepada orang tua, dan saya menambahkan satu lagi kecintaan pada tanah air sebagai nilai Mulia dalam membela negaranya.

Keberadaan industri kreatif yang lahir dari inisiatif bottom-up dari komunitas kreatif tersebut, merupakan dinamisasi dari budaya. Selanjutnya jika industri kreatif yang belum berdasarkan pada perkembangan teknologi tersebut kemudian diintegrasikan dengan teknologi kekinian.

Dengan berintegrasi pada teknologi, kewirausahaan di Indonesia akan menjadi lebih baik dan juga lebih berkelanjutan. Paradigma baru dalam sinergi kewirausahaan dan teknologi, selama ini terjadi dua bentuk inovasi yang lazim dikenal.

Inovasi tradisional atau tertutup dan inovasi terbuka. Inovasi secara tradisional melakukan penelitian dan pengembangan secara tertutup dengan alasan untuk menjaga kerahasiaan. Semboyan mereka adalah the lab is our world.

Inovasi kedua adalah inovasi terbuka. Inovasi ini disebut terbuka karena menggunakan pengguna, atau supplier, atau bahkan investor dalam fase inovasi. Semboyan bagi inovasi ini adalah the world is our lab. Inovasi terbuka dapat dikatakan mampu memutar balikan paradigma yang ada sebelumnya.

Pada proses inovasi terbuka terdapat proses yang disebut sebagai user centric cooperation phase secara berkala. Dimana di dalamnya terdapat interaksi dengan user, serta memperbaiki produk dan tahap lainnya.

Dalam realitasnya, inovasi ini sudah mulai terjadi saat menggunakan teknologi. Sebagai contohnya, melaksanakan kompetisi untuk berinovasi bagi semua orang di dunia melalui internet, pemenang yang terbaik yang mendapat hadiah uang.
Internalisasi Nilai Nilai Kesadaran Bela Negara

Dalam menghadapi era globalisasi human capital sebagai sumber daya utama menjadi sangat penting, mengembangkan kemampuan sumber daya manusia sangatlah penting untuk menjawab seluruh persaingan yang terjadi akibat globalisasi, dan kewirausahaan generasi milenial merupakan salah satu jawaban untuk dapat mengatasi hal –hal tersebut.
Thomas et.al (2001) dalam bukunya yang berjudul The Quality of growth, menegaskan bahwa aset paling penting diera global adalah human capital yaitu intelektual kapital.

Suatu bangsa yang memiliki keunggulan komparatif dalam sumber daya alam, akan tidak banyak berbuat dalam kancah persaingan global tanpa didukung oleh keunggulan sumber daya manusia yang akan dapat berkiprah dan menguasai pengetahuan dan penerapannya dalam wujud nyata pemecahan masalah yang dihadapi dalam kehidupan.

Kesadaran adalah suatu kondisi psikologis yang tanggap terhadap suatu hal. Bela negara adalah sikap dan perilaku serta tindakan warga negara yang dijiwai oleh kecintaan pada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa.

Internalisasi jiwa kewirausahaan sebagai wujud kesadaran bela negara , akan menggerakan seluruh partisipasi dan pemberdayaan generasi milenial dalam mencintai negara bangsa nya melalui aktivitas produktif yang dia lakukan.

Kecintaan pada tanah air ini akan menjadikan generasi muda mampu menerima kehadiran globalisasi sebagai peluang hal ini karena semangat menjaga tanah dan pekarangan serta seluruh ruang wilayah Indonesia melalui kreativitas dan inovasinya dalam mewujudkan hasil –hasil produksi dan jasa.

Dan ini akan tertanam nilai-nilai nasionalisme yang tertanam dalam jiwa dan raga generasi milenial. Dan mampu memberikan kontribusi secara nyata dari seluruh aktivitas wirausaha yang dilakukannya.

Internalisasi nilai-nilai kesadaran bela negara melalui kewirausahaan akan memiliki karakter yang gigih , ulet dan tanggung yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, percaya dengan hasil yang didapat setelah melakukan usaha dengan sekuat tenaga dan pikirannya, dan mampu menguasai diri atas setiap keadaan yang dihadapi atas dasar keyakinan bahwa semua itu kehendak Tuhan.

Dengan jiwa kewirausahaan bagian dari bela negara maka generasi muda akan memiliki akhlak mulia , memiliki keahlian dalam bidang yang dikembangkannya, seorang wirausaha harus jujur untuk mempertahankan eksistensi dan hubungannya dengan sesama manusia, seorang wirausaha harus memiliki kedisiplinan yang baik.

Tanpa disiplin yang baik seorang wirausaha akan sulit mendapatkan pencapaian yang direncanakan . Seorang wirausaha juga harus bersikap demokratis terbuka terhadap setiap perkembangan yang terjadi, memiliki tanggung jawab yang baik terhadap mitra kerjasamanya.

Karakter yang kuat dari seorang wirausaha akan mampu membawa dirinya mampu menghadapi persaingan global dengan baik tanpa lupa akan dirinya sebagai individu yaitu warganegara yang harus mencintai negara bangsanya.

Karakter yang unggul dengan kesadaran mencintai negara bangsanya inilah yang akan menjadi modal penting bagi kemajuan individu generasi muda dan juga kemajuan bangsanya.

Kunci keberhasilan kewirausahaan pada generasi muda adalah investasi pendidikan dengan mengedepankan norma, moral dan etika , untuk selanjutnya mampu memodernisasi infrastruktur informasi, kemampuan generasi muda dalam mengembangkan kreatifitas, inovasi sebagai agen pembangunan, Inpres No. 7 Tahun 2018, menunjukkan bahwa bela negara menyangkut segala sektor kehidupan.
Dan melalui Kewirausahaan ini generasi muda mampu mencintai negara bangsanya dalam menciptakan iklim ekonomi yang kondusif. (*) Ketua Lembaga Pengembangan Kreativitas dan Kebangsaan Dosen Magister Teknik Kajian Pembangunan Perkotaan dan Wilayah Universitas Krisnadwipayana

Solverwp- WordPress Theme and Plugin