Berita Bekasi Nomor Satu

Camat Pebayuran Bekasi: Warga Miskin Ekstrem Jangan Selalu Diberikan Bantuan

ILUSTRASI: Buruh tani menjemur gabah di bantaran Sungai Citarum Kecamatan Pebayuran Kabupaten Bekasi, beberapa waktu lalu. Warga miskin ekstrem di Kecamatan Pebayuran sebaiknya jangan selalu diberikan bantuan, melainkan juga mendapatkan pelatihan keterampilan atau kesempatan pekerjaan. ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Warga miskin ekstrem di Kecamatan Pebayuran sebaiknya jangan selalu diberikan bantuan, melainkan juga mendapatkan pelatihan keterampilan atau kesempatan pekerjaan. Dengan begitu, dapat menambah penghasilan dan membantu mereka keluar dari kondisi miskin ekstrem.

Berdasarkan data Dinas Sosial Kabupaten Bekasi, Kecamatan Pebayuran bertengger di urutan pertama sebagai wilayah dengan warga miskin ekstrem terbanyak dibandingkan 22 kecamatan lainnya se-Kabupaten Bekasi (lihat grafis). Kecamatan yang terbagi 13 desa ini mayoritas penduduknya berprofesi sebagai buruh tani.

Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Bupati Bekasi, warga yang masuk dalam kriteria miskin ekstrem ditetapkan memiliki pendapatan Rp10.739 per kapita per hari atau sekitar Rp1,2 juta per KK. Warga miskin ekstrem ini dinilai perlu diberikan pelatihan keterampilan atau lapangan pekerjaan sehingga pendapatan mereka bertambah. Ketimbangan hanya memberikan bantuan.

Camat Pebayuran, Hasyim Adnan Adha, mengatakan sebelum menjabat sebagai orang nomor satu di Kecamatan Pebayuran, tingkat kemiskinan ekstrem sudah tinggi. Hasyim menjelaskan data tersebut berasal dari Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) yang memiliki kewenangan atas informasi tersebut.

“Memang sebelum saya datang pun jumlah miskin ekstrem yang ada di Kecamatan Pebayuran sudah banyak,” ujarnya kepada Radar Bekasi, Rabu (6/12).

Setelah melihat data kemiskinan ekstrem di Pebayuran tertinggi, Hasyim segera memerintahkan petugas TKSK dan Pekerjaan Sosial Masyarakat (PSM) untuk melakukan verifikasi lapangan ulang guna memastikan akurasi jumlah tersebut.

Hasyim berpendapat, kemungkinan orang yang sebelumnya tercatat sebagai miskin ekstrem mungkin telah meninggal, pindah, atau berhasil keluar dari kondisi miskin. Tetapi data mereka masih tercatat sebagai miskin ekstrem sebelumnya.

“Itu sudah dilakukan oleh teman-teman TKSK dan PSM di masing-masing desa. Dan sampai hari ini belum menyampaikan datanya ke kita lagi,” tegasnya.

Mayoritas penduduk Pebayuran bekerja sebagai buruh tani. Menurut Hasyim, masyarakat yang mengalami kemiskinan ekstrem rata-rata berasal dari kelompok profesi tersebut.

“Yang miskin ekstrem itu kebanyakan pekerjaannya di buruh tani,” cetusnya.

Oleh karena itu, Hasyim berharap agar buruh tani dapat memperoleh lapangan pekerjaan melalui Dinas Tenaga Kerja dan mendapatkan pelatihan keterampilan dari Dinas Pertanian. Sehingga mereka bisa mendapatkan penghasilan tambahan.

“Harapan saya yang mereka sekarang miskin ekstrem itu diberikan lapangan pekerjaan atau diberikan pelatihan keterampilan,” ujarnya.

“(Warga miskin,Red) jangan selalu diberikan bantuan, karena kalau seperti itu mereka terkesan manja. Jadi kasarnya, pengen saya itu mereka diberikan pancing (kail,Red) Bukan diberikan ikan, supaya mereka bisa mandiri,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bekasi, Hasan Basri, menyatakan perlunya sinergi dengan dinas terkait guna menekan angka kemiskinan ekstrem. Ini melibatkan pelatihan dan upaya lainnya, dengan harapan masyarakat tersebut dapat keluar dari kemiskinan ekstrem. Pihaknya hanya dapat memfasilitasi dalam hal ini.

“Harus ada sinergitas dengan dinas-dinas lainnya, supaya mereka itu ada keterampilan. Nanti dari keterampilan itu mereka punya penghasilan tambahan. Harus ada perubahaan,” ungkapnya.

“Kita juga berharap dari Kemensos ada graduasi dari masing-masing keluarga penerima manfaat. Makanya perlu ada kerjasama dengan dinas-dinas lainnya untuk memberikan keterampilan dan lain sebagainya. Karena Dinas Sosial hanya bisa memfasilitasi,” sambungnya. (pra)

Solverwp- WordPress Theme and Plugin