RADARBEKASI.ID, BEKASI – Efek Pilpres diperkirakan tidak banyak berdampak pada suara Partai Persatuan Pembangunan (PPP), catatan perolehan kursi parlemen di Kota Bekasi pada Pemilu terakhir pun menunjukkan penurunan suara hingga jumlah kursi. Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PPP Kota Bekasi berharap besar pada kekuatan Caleg di tiap Dapil untuk mendongkrak perolehan suara dan perolehan kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) di Kota Bekasi.
Turunnya perolehan kursi DPRD hasil Pemilu 2019 seolah memberi gambaran bahwa PPP di Kota Bekasi berjalan terseok-seok. Pada Pemilu 2014 PPP masih bisa memiliki satu fraksi dengan empat kursi DPRD. Tapi di tahun 2019, dengan dua kursi PPP harus bergabung dengan fraksi lain.
Dalam Pemilu 2024 nampaknya perjuangan PPP masih cukup berat, elektabilitas partai dalam beberapa hasil survei nasional berada di bawah ambang batas parlemen yakni sebesar empat persen, dan terancam tidak mendapatkan kursi di senayan. Meski demikian, belakangan terdapat salah satu hasil survei yang menyebut PPP akan lolos ke parlemen dengan elektabilitas 4,2 persen.
Berharap efek Pilpres di Kota Bekasi, PPP sebagai salah satu partai pengusung Capres nomor urut tiga, Ganjar Pranowo dan Mahfud MD pun tidak bisa sepenuhnya menjanjikan lonjakan suara pada Pemilu 2024 mendatang. Sekedar diketahui, pada 2019 lalu perolehan suara Pilpres terbesar di Kota Bekasi adalah Prabowo Subianto.
Menghitung potensi suara dan kursi DPRD yang akan didapat partai berlambang Ka’bah ini Sekretaris DPC PPP Kota Bekasi, Dawam Mahfud menyebut berbagai persiapan telah disusun dan dilaksanakan guna menyongsong Pemilu 14 Februari mendatang. Mulai dari membedah kekuatan partai di tiap dapil, menjaga soliditas dan memastikan mesin partai bekerja maksimal, hingga meminta para caleg konsisten turun ke lingkungan masyarakat.
Kekuatan Caleg di tiap Dapil diharapkan dapat mendongkrak perolehan suara. Perhitungan sementara, pihaknya optimis mendapat satu kursi di tiap Dapil, dengan target maksimal enam sampai tujuh kursi di DPRD kota Bekasi.
“Sekarang ini semuanya sudah bergerak, ranting, PAC, lebih kompak lah sekarang intinya,” katanya.
Terkait dengan komposisi Caleg di tiap Dapil, mayoritas berasal dari eksternal partai dengan berbagai latar belakang, ini jadi salah satu kekuatan untuk mencapai target perolehan kursi DPRD Kota Bekasi. Ia menyebut karakter Caleg kali ini merupakan pekerja keras.
Sementara di luar kekuatan para Caleg, pihaknya berniat untuk mendatangkan Bapilu DPP PPP, Sandiaga Uno ke tiap dapil di Kota Bekasi guna mengerek elektabilitas partai. Selama menjadi Bapilu DPP PPP, Sandiaga sudah beberapa kali datang ke Kota Bekasi, terakhir kali akhir pekan kemarin di Bekasi Junction.
Dawam mengakui Pilpres berpotensi tidak memberikan banyak efek pada perolehan suara maupun kursi DPRD bagi PPP di Kota Bekasi.”Paling tidak untuk menaikkan elektabilitas (partai) nya,” ungkapnya.
Berbagai upaya ini akan dilaksanakan untuk meningkatkan perolehan kursi di DPRD Kota Bekasi. Pada Pemilu 2019 lalu, ada beberapa faktor yang membuat perolehan suara maupun kursi PPP turun di Kota Bekasi, salah satunya adalah tidak maksimalnya kinerja Caleg.
Diketahui, pasangan Prabowo dan Sandiaga Uno memperoleh suara tinggi di Kota Bekasi. Sementara saat itu PPP menjadi salah satu partai pengusung pasangan Jokowi dan Ma’ruf Amin. Belum lagi pada tahun yang sama ketua umum PPP terjerat kasus hukum.
Terkait dengan sederet hasil survei dewasa ini, Dawam menyebut fokus mesin partai maupun Caleg saat ini turun ke lingkungan masyarakat guna mendulang suara.
“Kalau kita fokus ke survei itu akan melemahkan, bikin nggak semangat para Caleg. Tapi biar bagaimanapun Caleg harus terus bergerak,” tambahnya.
Hasil survei nasional bisa menjadi gambaran mengenai elektabilitas partai di daerah. Dengan begitu, PPP di daerah pun memiliki potensi tidak mendapat kursi di DPRD Kabupaten atau Kota, termasuk Bekasi.
“Bisa terjadi (tidak dapat kursi legislatif), dan itu bisa dilawan jika pimpinan di Kota Bekasinya kuat. Sekarang pertanyaannya yang di Kota Bekasi kuat nggak?, Bisa merangkul nggak,” kata Pengamat Politik Universitas Islam 45 (Unisma) Bekasi, Adi Susila.
Terkait dengan efek Pilpres, Adi juga menyebut sulit untuk didapat oleh PPP. Selain hasil suara Pilpres 2019, perbedaan pilihan Capres di internal partai juga berpotensi memberi andil makin sulit PPP mendapat efek dari Pilpres 2024 mendatang.
Diketahui, beberapa tokoh penting PPP secara nasional tidak sejalan dengan keputusan Partai, justru merapat ke pasangan calon presiden dan calon wakil presiden lain. Situasi ini akan mengganggu soliditas pengurus dan kader partai di daerah.
“Karena konflik di atas itu kan akhirnya terpecah juga. Kita juga gak tau, apakah kader di tingkat bawah mengikuti keputusan DPP Partai atau tidak. Bisa saja memilih Capres tapi tidak memilih partai, atau sebaliknya,” tambahnya.
Sebelum pengumuman Capres – Cawapres sekitar akhir tahun 2022, ketua DPC PPP Kota Bekasi Sholihin menegaskan mendukung Anies Baswedan sebagai Capres 2024. Bentuk dukungan pun dibuktikan dengan sejumlah baliho berukuran raksasa di sejumlah sudut Kota Bekasi. Dalam baliho tersebut terpampang wajah Sholihin dan Anies Baswedan.
Namun, pada 26 April 2023 DPP PPP mendeklarasikan dukungannya terhadap Ganjar Pranowo sebagai Capres 2024. Ketua DPC PPP Kota Bekasi Sholihin mengaku, akan patuh terhadap keputusan partai,”Sebagai kader, tentunya kita harus patuh terhadap keputusan di tingkat pusat,”ungkapnya kepad Radar Bekasi beberapa waktu lalu. (sur)











