RADARBEKASI.ID, BEKASI – Keberadaan Putra Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep sebagai nahkoda baru Partai Solidaritas Indonesia (PSI) belum memberikan efek ekor jas yang signifikan. Sejumlah lembaga survei mencatat, elektabilitas PSI masih biasa-biasa saja. Sementara PSI Bekasi menargetkan fraksi di Pemilu 2024 nanti.
Ya, Pemilu tahun 2024 ini adalah kali kedua PSI mengikuti Pemilu. Dikenal sebagai partai anak muda, kelompok milenial dan Gen Z menjadi segmen pemilih yang secara masif digaet oleh PSI. Namun basis pemilih PSI dinilai belum terbentuk, masih butuh waktu.
Beberapa hasil survei terakhir, elektabilitas PSI berkisar 1,3 hingga 2,6 persen, meningkat namun belum signifikan dibawah kepemimpinan Kaesang.”Kalau PSI hari ini baru dapat 1,5 persen dari data kita. Kali ini ia belum mendapatkan dampak elektoral sebagai partainya Kaesang yang anaknya Jokowi begitu ya,” kata Direktur Citra Publik Indonesia (CPI) LSI Denny JA Hanggoro Doso Pamungkas , Jakarta Timur, Selasa (19/12).
Hanggoro menilai, elektabilitas tersebut dipengaruhi oleh kematangan partai itu sendiri. Hal itu tercermin dari para kader yang terlibat di Masyarakat. “Faktor besar adanya (elektabilitas) partai juga dipengaruhi oleh kematangan partai itu sendiri, mesin-mesin partai politik yang sudah mengakar atau belum,” ujar Hanggoro.
Tak hanya itu, Hanggoro mengungkapkan, ketokohan para caleg juga mempengaruhi elektabilitas partai. “Semakin kuat caleg menjadi vote getter di masyarakat, dia akan meningkatkan suara caleg itu sendiri. PSI memiliki tantangan di sana bagaimana selain partai, tokoh-tokohnya, juga para calegnya yang dibawa bisa grab suara untuk meningkatkan partisipasi kelak,” sambungnya.
Pengamat Politik Universitas Al Azhar, Ujang Komarudin menilai PSI memiliki peluang untuk naik elektabilitasnya saat dipimpin oleh anak Presiden Joko Widodo. Namun secara individu atau tanpa embel-embel anak presiden, efek spesial dari Kaesang.
“Efek Kaesang sih biasa-biasa saja, makanya surveinya juga biasa-biasa saja. Kecuali ada skema belakang layar, ada skema ayahnya turun sebagai presiden untuk membesarkan PSI, baru PSI akan jalan begitu,” katanya, Selasa (19/12).
Kaesang yang tidak memiliki latar belakang aktivis, dinilai sulit berharap dalam konteks menata partai.
Namun, statusnya sebagai anak presiden tidak heran membuat banyak pihak membantu dan memberikan jalan untuk membesarkan PSI. Efek spesial ini juga diperkirakan sulit didapat di daerah.
“Jadi kalau saya sih melihatnya, efeknya biasa-biasa saja. Jadi kalau turun ke bawah pun, ke Bekasi pun, kemana pun tidak ada gaungnya,” tambahnya.
Pantauan di berbagai titik di Bekasi, Alat Peraga Kampanye (APK) Calon Anggota Legislatif (Caleg) PSI nampak sudah masif terpasang. Berbagai ukuran, mulai dari APK berukuran kecil hingga APK berukuran besar.
Hal ini membuat PSI terlihat lebih masif dibandingkan dengan beberapa partai lain yang masih tergolong baru di panggung Pemilu. Pengamat Politik Universitas Islam 45 (Unisma) Bekasi, Adi Susila menyebut hal ini didukung oleh kekuatan modal yang kuat.
Tapi, masifnya pemasangan APK di berbagai titik ini tidak begitu saja berjalan lurus dengan perolehan suara partai.Seperti pemasangan APK yang masih, efek dari kepemimpinan Kaesang juga dinilai tidak bisa menaikkan suara maupun perolehan kursi partai di parlemen dalam waktu yang singkat. Adi melihat basis pemilih PSI belum terbentuk, khususnya di Bekasi.
“Kalaupun dia membidik segmen tertentu, itu juga menurut saya butuh waktu juga, tidak bisa instan begitu,” ungkapnya.
Diperkirakan target PSI baru bisa terwujud pada Pemilu selanjutnya. Saat ini, PSI menurut Adi harus fokus menawarkan gagasannya kepada masyarakat, serta terus membangun basis pemilih.
Awal pekan kemarin, Kaesang dalam kegiatan Ngopi Santuy bersama influencer dan milenial di Banyumanik, Kota Semarang menyampaikan bahwa dirinya tidak mengajak untuk memilih PSI pada Pemilu 2024, begitu juga dengan Capres dan Cawapres. Kaesang mempersilahkan siapapun untuk datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk memilih partai apapun, serta pasangan Capres dan Cawapres manapun sesuai dengan pilihannya masing-masing.
Adi Susila menilai pernyataan ini sebagai strategi, untuk menggambarkan Kesang sebagai sosok yang moderat dan demokratis. Waktu yang dimiliki Kaesang memimpin partai PSI pun dinilai relatif singkat sampai dengan hari pemungutan suara pada 14 Februari mendatang.
“Nah itu mungkin hasilnya belum tentu sekarang, mungkin hasilnya masih lima tahun kedepan gitu,” tambahnya.
Pernyataan Kaesang di Kota Semarang awal pekan kemarin disebut menggambarkan sosok politisi yang bijak. Ketua DPD PSI Kota Bekasi, Tanti Herawati menangkap pesan ketua umum DPP PSI tersebut sebagai ajakan kepada generasi muda untuk nyaman dalam berpolitik, menarik minat anak muda untuk melihat dunia politik tidak seseram yang dibayangkan.
Sebagai partainya anak muda kata Tanti, kelompok milenial dan Gen Z adalah segmen pemilih yang dituju. Meskipun demikian, kelompok pemilih nasionalis tidak menutup kemungkinan jadi segmen kedua yang akan disasar secara masif di Kota Bekasi.
Terkait dengan Kaesang Efek, ia menyebut sangat terasa di Kota Bekasi. Hal ini dapat dilihat dari bertambahnya kader baru hingga 1.500 orang, dibuktikan dengan jumlah kader yah mendaftar dalam sistem SIAP PSI milik partai.
Tanti juga menceritakan sulitnya mendapatkan seribu kader dalam beberapa bulan saat mendirikan PSI di Kota Bekasi.”Sejak Ketua umum Kaesang gabung, dalam hitungan sebulan sudah 1.500. Bersyukurlah, happy jalanin roda partai saat ini karena banyak yang bergabung,” ungkapnya.
Berbicara perolehan suara dan kursi legislatif, PSI pada Pemilu 2019 disebut memperoleh 48.900 suara di Kota Bekasi, hampir mendapatkan kursi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) di Dapil Bekasi Timur.
Pemilu kali ini, PSI menargetkan minimal satu fraksi di DPRD Kota Bekasi.”Berharap bukan hanya dua kali lipat, tetapi berlipat-lipat dari suara sebelumnya, dan bisa menghantarkan Caleg-caleg kami menjadi anggota legislatif 2024-2029,” tambahnya.
Dengan nada optimisme yang sama, DPD PSI Kabupaten Bekasi juga yakin kehadiran Kaesang bakal membuat PSI memiliki satu fraksi di DPRD.”Jadi dengan bergabungnya mas Kaesang, kami yakin bisa mendapat satu fraksi DPRD Kabupaten Bekasi,” ujar Wakil Sekretaris DPD PSI Kabupaten Bekasi, Monica Angel Sihombing, kepada Radar Bekasi.
Keyakinan untuk mencapai satu fraksi di Kabupaten Bekasi tergugah, karena mendapat efek elektoral dari sosok Kaesang Pangarep. Tak bisa dipungkiri, Monica melihat, elektabilitas dan popularitas Ketua Umum (Ketum) partainya ini sangat tinggi, terutama dikalangan anak muda. Otomatis, ini semakin menegaskan bahwa partainya mengedepankan politik kemaslahatan.
“Penunjukan mas Kaesang menjadi ketua umum merupakan keputusan yang sangat tepat. Itu sebagai simbol bahwa PSI sampai saat ini tetap menjadi partai anak muda, karena mas Kaesang sendiri masih berusia 28 tahun,” ucapnya.
Setelah keputusan tersebut, pengurus PSI Kabupaten Bekasi langsung memasang atribut Kaesang secara masif. Menurutnya, ini merupakan inisiatif para pengurus tanpa ada himbauan dari pengurus di tingkat pusat. “Ini sebagai inisiatif kita sebagai pengurus dan Caleg di Kabupaten Bekasi,” ucapnya.
Perihal sosok Giring Ganesha setelah diganti sebagai Ketua Umum (Ketum), kata Monica, mantan ketuanya itu naik menjadi anggota dewan pembina. Dalam artian Giring Ganesha tetap berjuang bersama PSI. Bahkan dalam waktu dekat ini Kaesang akan menyapa pengurus dan kader PSI yang berada di Kabupaten Bekasi.”Itu sudah ada perbincangan diatas dan sudah komunikasi dengan ketua di Kabupaten Bekasi. Kita tunggu saja,” tutur politikus yang juga sebagai Caleg DPRD Kabupaten Bekasi Dapil III ini. (sur/pra)











