Berita Bekasi Nomor Satu

Ketua Buruh Kecewa dengan Gubenur Jawa Barat Dedi Mulyadi

Ketua DPW FSPMI–KSPI Jawa Barat, Suparno

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Ketua DPW FSPMI–KSPI Jawa Barat, Suparno, menyatakan kekecewaannya dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM. Ia menilai janji-janji yang disampaikan Dedi Mulyadi kepada kaum buruh saat masa pencalonan tidak terbukti setelah memenangkan kontestasi Pilgub Jawa Barat.

Suparno mengungkapkan, dirinya bukan sekadar pendukung, melainkan menjabat sebagai Wakil Ketua Tim Pemenangan Dedi Mulyadi pada saat pencalonan. Menurutnya, peran tersebut membuat dirinya dan serikat buruh bekerja serius memenangkan KDM di wilayah basis buruh.

“Saat pencalonan Dedi Mulyadi jadi Gubernur Jawa Barat, saya sebagai Wakil Ketua Pemenangan. Jadi kami bukan hanya pendukung, bukan hanya simpatisan,” ujar Suparno, dikutip dari video yang diunggah akun Instagram kspi_citu, Kamis (1/1).

Ia menyebut, saat itu Dedi Mulyadi menjanjikan kesejahteraan buruh di Jawa Barat, termasuk komitmen menerapkan Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK) sebagaimana mestinya. Namun, setelah terpilih, janji tersebut dinilai tidak terealisasi.

“Janji-janji Dedi Mulyadi dulu mau membuat sejahtera buruh di Jawa Barat, mau menerapkan UMSK sebagaimana mestinya. Nggak ada satu pun yang terbukti,” katanya.

Suparno mengaku sangat kecewa karena dirinya turut berkeliling hampir ke seluruh kabupaten/kota berbasis industri dan buruh di Jawa Barat. Ia melakukan sosialisasi, bertemu langsung dengan buruh, hingga membuat berbagai konten dan video dukungan untuk memenangkan Dedi Mulyadi.

“Hampir semua kabupaten/kota yang berbasis buruh, saya putar, saya sosialisasi, saya buat video-video untuk bagaimana mendukung dan alhamdulillah hampir semuanya wilayah kabupaten/kota yang basis buruh, Dedi Mulyadi menang,” tuturnya.

Namun, setelah kemenangan tersebut, Suparno menilai sikap Dedi Mulyadi justru berbalik dan menyakiti hati kaum buruh. Ia menyebut, hingga kini Gubernur Jawa Barat itu dinilai tidak membuka ruang dialog dengan pimpinan serikat buruh.

“Tapi setelah menang ternyata menyakiti hati buruh. Tidak mau ketemu sama pimpinan-pimpinan buruh, tidak mau mendengarkan masukan dari pada buruh,” pungkasnya. (oke)