RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sepanjang tahun 2025, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kota Bekasi menangani 314 peristiwa kebakaran. Bila peristiwa kebakaran itu dirata-ratakan selama setahun atau 365 hari, maka dua hari sekali si jago merah berkobar di Kota Bekasi.
Angka tersebut terbilang menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk muasal api berkobar, peristiwa korsleting listrik masih mendominasi.
Berdasarkan data Disdamkarmat Kota Bekasi, angka kebakaran pada 2025 turun sekitar 8 persen dibandingkan 2024 yang mencatat 341 kejadian. Penurunan ini dinilai sebagai dampak meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap upaya pencegahan kebakaran.
Kepala Disdamkarmat Kota Bekasi, Abi Hurairah, mengatakan kewaspadaan warga terhadap potensi kebakaran terus menunjukkan perkembangan positif.
“Kesadaran masyarakat untuk lebih waspada terhadap penggunaan alat elektronik dan instalasi listrik terus kami tingkatkan melalui sosialisasi. Hal ini turut berkontribusi pada penurunan kejadian kebakaran,” ujar Abi dalam keterangan tertulis, Minggu (4/1).
Meski demikian, ia mengungkapkan korsleting listrik masih menjadi faktor utama penyebab kebakaran.
“Dari total 314 kejadian, sebanyak 206 kasus dipicu gangguan kelistrikan atau lebih dari 65 persen,” ujarnya
Selain korsleting listrik, kebakaran juga disebabkan oleh pembakaran sampah, kebocoran gas atau BBM, kelalaian manusia, serta faktor alam.
Dari segi lokasi, kebakaran paling banyak terjadi di permukiman dengan 121 laporan. Sektor usaha seperti swalayan, toko, dan warung menyusul dengan 48 laporan, sedangkan kebakaran di pabrik atau gudang tercatat 16 kejadian.
Sepanjang 2025, kebakaran di Kota Bekasi menimbulkan kerugian materiil yang ditaksir mencapai Rp 43,4 miliar. Namun, berkat kesigapan petugas pemadam kebakaran, aset dan harta benda senilai Rp 130,7 miliar berhasil diselamatkan.
Disdamkarmat Kota Bekasi mengimbau masyarakat untuk rutin memeriksa instalasi listrik, tidak membakar sampah sembarangan, serta meningkatkan kewaspadaan, terutama di kawasan permukiman padat.
Penurunan angka kebakaran ini diharapkan dapat terus berlanjut melalui kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah daerah dan masyarakat dalam memperkuat langkah pencegahan kebakaran.
Data Disdamkarmat Kota Bekasi menunjukkan tren penurunan kebakaran terjadi secara bertahap dalam tiga tahun terakhir.
Pada 2023, tercatat sebanyak 454 kejadian kebakaran di Kota Bekasi. Dari jumlah tersebut, korsleting listrik menjadi penyebab utama dengan 223 kejadian, disusul pembakaran sampah sebanyak 127 kejadian, human error 48 kejadian, gas atau BBM 33 kejadian, faktor alam 16 kejadian, serta penyebab lainnya 7 kejadian.
Memasuki 2024, jumlah kebakaran menurun menjadi 341 kejadian. Meski terjadi penurunan signifikan, pola penyebab kebakaran masih relatif sama.
Korsleting listrik kembali mendominasi dengan 215 kejadian, diikuti pembakaran sampah 56 kejadian, gas atau BBM 34 kejadian, human error 22 kejadian, faktor alam 3 kejadian, dan penyebab lainnya 11 kejadian. (rez)











