Berita Bekasi Nomor Satu

Ratusan Rumah Warga Kampung Paljaya Terendam Banjir

TERENDAM AIR: Sejumlah barang dan perabotan warga terendam air di Kampung Paljaya, Desa Segarajaya, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Senin (12/1/2026). ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Ratusan warga Kampung Paljaya di Desa Segarajaya, Kecamatan Tarumajaya, khawatir kampungnya akan tenggelam. Pasalnya, pemukiman yang biasanya aman dari banjir akibat air hujan deras, kini mulai terendam banjir hingga setinggi lutut orang dewasa atau sekitar 30-40 sentimeter.

Banjir yang melanda pemukiman pesisir ini, diduga akibat buruknya saluran air (drainase) pada proyek penataan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Paljaya yang sedang berjalan.

Tokoh Pemuda Kampung Paljaya, Sulaeman (26) menyampaikan, bahwa kejadian ini merupakan fenomena pertama yang mereka alami selama berpuluh-puluh tahun tinggal.

Menurutnya, selama ini warga hanya akrab dengan pasang air laut (banjir rob), namun itu pun jarang sampai masuk ke dalam rumah.

“Kalau banjir dari air hujan, seumur-umur baru kali ini terjadi di Paljaya. Biasanya kalau Jakarta atau di mana pun banjir, di sini enggak pernah. Padahal air lautnya lagi surut, tapi tempat kami banjir karena pembuangan airnya kurang lancar,” kata Sulaeman di Tarumajaya, Senin (12/1/2026).

Ia menjelaskan, sebanyak 40 rumah di Kampung Paljaya terdampak banjir dengan ketinggian bervariasi, namun yang paling parah di sekitar Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Paljaya.

Lanjutnya, banjir terjadi lantaran curah hujan yang tinggi dan tak sebanding dengan kondisi saluran pembuangan di sekitar pemukiman warga. Baik pada proyek penataan TPI Paljaya, maupun perusahaan-perusahaan di sekitar pemukiman warga.

Seperti diketahui, Kampung Paljaya merupakan kampung paling ujung yang berada di pesisir laut utara.

“Pembuangan airnya dari pipa-pipa yang ukuran kecil berapa inci gitu. Jadi, pembuangannya kan agak lambat, sementara hujannya deras. Jadi, air pembuangan dari tempat pembakaran dan pembuangan PJB, tumpahnya kesini, jadilah rumah-rumah warga banjir dan tergenang,” beber Sulaeman.

Dia juga menyoroti pembangunan dan atau tanggul penahan air di dekat Jembatan Cinta, yang diduga sebagai faktor utama lambatnya arus air keluar dari pemukiman warga.

Proyek penataan yang berada di bawah wewenang Pemerintah Provinsi Jawa Barat tersebut, dinilai kurang memperhatikan aspek dampak lingkungan bagi warga sekitar.

Kendati demikian, pihaknya juga telah berkomunikasi dengan pelaksana agar kejadian ini tak kembali terjadi dikemudian hari, mengingat intensitas hujan kini mulai tinggi.

“Penyebabnya saluran, pembuangannya lambat terutama karena ada dampak dari pembangunan. Harapan saya, itu untuk diperbaiki lagi penataan pembuangan airnya, serta juga dipikirkan dampak terhadap masyarakat sekitar,” tegas Sulaeman.

Sementara itu, berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi, curah hujan yang tinggi sejak Senin (12/1/2026) dini hari, berdampak terhadap bencana hidrometeorologi di lima kecamatan. Seperti banjir, pohon tumbang hingga angin kencang.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (Darlog) BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriyadi mencatat, pohon tumbang terjadi di empat Desa, yakni di Desa Sukaringin Kecamatan Sukawangi, Desa Setiamulya Kecamatan Tarumajaya, Desa Setialaksana dan Jayalaksana Kecamatan Cabangbungin. Kemudian bencana angin kencang di Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muaragembong terjadi pada pukul 10.10 WIB yang menyebabkan atap rumah 8 KK di RT 02/06 berterbangan.

Sedangkan banjir terjadi di enam Desa, yakni Desa Segara Makmur, dimana ketinggian air mencapai 40–60 cm dan menggenangi pemukiman di Kampung Kebon Kelapa. Lalu Kampung Tambun Magih Desa Buni Bakti dan Kampung Setiamekar Desa Huripjaya di Kecamatan Babelan.

Banjir sejak pukul 09.00 WIB, disebabkan curah hujan yang tinggi. Dan berdampak pada sekitar 400 KK dengan ketinggian air antara 30–50 cm. Selain itu di Kecamatan Cabangbungin juga terdapat tiga desa terdampak banjir, diantaranya Desa Sindangjaya, Desa Lenggahjaya dan Desa Lenggahsari.

“Kami sudah berkoordinasi dengan pihak desa dan kecamatan. Saat ini masih dalam proses pendataan,” tandas Dodi. (ris)