Berita Bekasi Nomor Satu

Kota Bekasi Kekurangan 2.500 Guru

INTERAKSI: Guru memberikan materi pelajaran di SDN Kayuringin Jaya XVI, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Senin (14/7). RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Gelombang pensiun guru mulai menghantam Kota Bekasi. Ratusan pendidik yang purnatugas tahun ini dan dua tahun ke depan membuat ruang kelas terancam kekurangan pengajar, dari tingkat taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama.

Dinas Pendidikan Kota Bekasi mencatat, kekurangan guru kini telah menembus angka 2.500 orang. Angka itu dipicu oleh dua faktor sekaligus, yakni pensiun massal dan pengangkatan tenaga honorer menjadi aparatur sipil negara (ASN) melalui skema Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang justru mengurangi jumlah guru di sekolah.

“Kalau dulu kekurangannya sekitar 1.600, sekarang bertambah karena banyak yang diangkat menjadi PPPK tenaga kependidikan, ditambah lagi guru yang pensiun,” kata Kepala Bidang Pendidik dan Tenaga Kependidikan Disdik Kota Bekasi, Wijayanti, Selasa (13/1).

Tahun lalu, sebanyak 208 guru pensiun. Pada 2026 dan 2027, jumlahnya diperkirakan melonjak hingga sekitar 300 orang per tahun.

Krisis ini bukan hanya mengganggu proses belajar mengajar, tetapi juga menghambat rencana peningkatan status tiga SMP dari Unit Sekolah Baru (USB) menjadi sekolah negeri. Selama ini, ketiga sekolah tersebut masih harus menginduk ke sekolah negeri terdekat karena kekurangan guru.

Untuk menutup celah itu, Disdik berharap pemerintah pusat membuka skema PPPK paruh waktu.

“Mau tidak mau kita harus berhitung ulang. PPPK paruh waktu bisa menjadi salah satu solusi karena laju pensiun guru sangat cepat,” ujarnya.

Upaya kerja sama dengan perguruan tinggi pun dinilai belum efektif. Mahasiswa yang mengajar di sekolah tidak tercatat dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik), sehingga tidak bisa dihitung sebagai tenaga pendidik resmi.

Sementara itu, sekolah masih mengandalkan guru honorer yang dibiayai dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Namun kemampuan tiap sekolah berbeda-beda, tergantung jumlah siswanya.

“Sekolah yang muridnya banyak tentu lebih mampu. Tapi yang siswanya sedikit dan kekurangan guru lebih dari dua orang, itu berat,” ucap Wijayanti.

Meski begitu, Disdik memastikan proses belajar mengajar di seluruh sekolah negeri Kota Bekasi tetap berjalan. Namun konsekuensinya, banyak guru harus mengajar jauh di atas batas ideal, bahkan ada yang mencapai 40 jam pelajaran per pekan.(sur)