Berita Bekasi Nomor Satu

Kisah Mencekam Sarmine saat Rumahnya Diterjang Banjir akibat Tanggul Sungai Citarum Jebol

CARI BARANG-BARANG: Sarta mencari perlengkapan salat dari rumah orangtuanya yang rusak setelah diterjang banjir akibat tanggul Sungai Citarum jebol, Selasa (20/1). FOTO: ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Suasana hening Senin (19/1) malam di Kampung Bendungan, Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muaragembong berubah menjadi mencekam bagi keluarga Sarmine (52). Rumah yang ia tinggali bersama suaminya selama bertahun-tahun mengalami kerusakan setelah diterjang banjir akibat tanggul Sungai Citarum jebol dan meluap ke pemukiman warga.

Sarmine mengingat dengan jelas detik-detik mengerikan saat rumahnya dihantam banjir. Saat itu, ia tengah terlelap, sementara suaminya menonton televisi. Tiba-tiba, ia terbangun karena mendengar suara keras sekitar pukul 23.00 WIB.

​”Saya sudah tidur. Suami saya lagi nonton TV. Tiba-tiba ada suara keras sekali, kayak petir, jeger! Langsung tidak lama itu rumah ambruk,” kata Sarmine kepada Radar Bekasi.

Dalam kepanikan dan kegelapan malam, nyawanya selamat berkat kesigapan sang suami.

“Saya langsung ditarik, digerek-gerek (diseret) sama suami saya keluar. Kalau tidak, mungkin saya tertimbun,” tambahnya.

Luapan Citarum tidak hanya meruntuhkan bangunan, tetapi juga menghanyutkan semua harta benda mereka. Sarmine berharap Pemerintah Kabupaten Bekasi dapat segera memperbaiki rumahnya.

​”Saya tidak bisa tidur semalaman. Harapan saya, tolong pemerintah, saya pengen rumah saya didandanin (diperbaiki) lagi. Biar saya bisa tenang,” terang Sarmine.

Sementara itu, anak Sarmine, Sarta (35), menyebut kerusakan paling parah terjadi di ruang tamu dan kamar tidur. Hampir semua barang habis terbawa arus, termasuk televisi, kulkas, dua lemari, meja, dan dipan. Dompet dan ponsel juga tidak terselamatkan.

anak Sarmine, Sarta (35) mengatakan bahwa kerusakan terparah terjadi pada bagian ruang tamu dan kamar tidur. Hanya sedikit barang yang dapat diselamatkan, sementara sisanya terbawa arus air luapan Sungai Citarum.

​”Hanya sisa-sisa pakaian sedikit yang bisa dibawa,” ucap Sarta.

Di lokasi, Sarta terlihat mengumpulkan sisa pakaian dan perlengkapan salat seperti sajadah dari kamar orang tuanya yang sudah roboh. Rumah itu tidak hanya tempat tinggal orang tuanya, tapi juga sering menjadi tempat menginap cucu-cucunya. Beruntung, saat kejadian, tidak ada anggota keluarga lain yang sedang berkunjung.

“Ini rumah orangtua saya. Alhamdulillah semuanya selamat. Kalau kerugian belum kita hitung berapa,” tuturnya.

Kini, Sarmine mengungsi ke rumah anaknya. Trauma mendalam masih menyelimuti dirinya akibat kejadian yang berlangsung begitu cepat. Rumah Ibu Sarmine menjadi salahsatu korban terparah dari jebolnya tanggul Sungai Citarum di wilayah RT 03 RW 05, Desa Pantai Bakti. (ris)