RADARBEKASI.ID, BEKASI – Penyelenggaraan ibadah haji 2026 di Kota Bekasi memasuki fase krusial. Dengan kuota terbesar di Jawa Barat, lebih dari 4.400 calon jemaah haji telah melunasi Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BIPIH).
Namun, di balik angka besar tersebut, tersimpan persoalan mendasar: tidak semua jemaah, termasuk jemaah cadangan yang telah membayar penuh, dipastikan berangkat tahun ini.
Kepastian keberangkatan masih menjadi tanda tanya, seiring perubahan skema penetapan kuota nasional yang kini berbasis nomor urut provinsi, bukan lagi kabupaten/kota. Artinya, meskipun Kota Bekasi memiliki jumlah pelunasan terbanyak, urutan keberangkatan tetap ditentukan oleh antrean di tingkat Jawa Barat.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kota Bekasi, Rian Fauzi, mengungkapkan bahwa dari total 4.400 jemaah yang telah melunasi BIPIH, diperkirakan akan terbagi dalam sekitar 10 kelompok terbang (kloter).
Namun, ia menegaskan, jemaah cadangan belum tentu seluruhnya berangkat pada musim haji tahun ini.
“Jemaah cadangan tetap mengikuti sistem antrean provinsi. Mereka sudah menandatangani surat pernyataan kesiapan, baik jika diberangkatkan maupun jika harus menunggu,” ujar Rian, Minggu (25/1).
Di tengah ketidakpastian itu, persiapan fisik jemaah mulai digenjot. Lebih dari 3.000 calon jemaah haji Kota Bekasi dikumpulkan dalam kegiatan senam dan jalan sehat di kawasan Car Free Day (CFD) Jalan Ahmad Yani, Bekasi Selatan.
Kegiatan ini menjadi gambaran awal kesiapan fisik ribuan jemaah yang dalam beberapa bulan ke depan akan menghadapi rangkaian ibadah berat di Tanah Suci.
Rian memastikan seluruh jemaah yang telah melunasi BIPIH sudah menjalani pemeriksaan kesehatan. Hal ini menjadi krusial, mengingat jemaah Kota Bekasi dijadwalkan menjadi kloter pertama yang masuk Asrama Haji Jakarta-Bekasi pada April mendatang.
“Tahun ini tantangannya cukup besar. Kuota meningkat signifikan, sementara SDM penyelenggara terbatas. Ini kali pertama kami menangani jumlah sebesar ini,” ujarnya.
Meski demikian, Rian mengklaim pihaknya tetap optimistis pelayanan haji akan berjalan sesuai target.
Namun, keterbatasan SDM dan perubahan skema kuota memunculkan kekhawatiran tersendiri di kalangan jemaah. Selain kesiapan fisik, transparansi informasi dan kepastian keberangkatan menjadi tuntutan utama agar tidak menimbulkan keresahan.
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, yang berencana menunaikan ibadah haji tahun ini, menilai persiapan kesehatan harus menjadi perhatian utama sejak dini. Ia menyebut, ibadah haji bukan sekadar ritual spiritual, tetapi juga ujian ketahanan fisik.
“Ini momentum untuk mengingatkan bahwa haji membutuhkan kesiapan menyeluruh. Jangan sampai kendala kesehatan justru menghambat pelaksanaan ibadah,” kata Tri saat menghadiri kegiatan jalan sehat.
Kegiatan tersebut diinisiasi Forum Komunikasi Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (FK KBIHU) Kota Bekasi. Ketua FK KBIHU, Zaidun Djaelani, menyebut sekitar 3.700 jemaah berasal dari 31 KBIHU, sementara sekitar 700 lainnya merupakan jemaah mandiri.
“Ini bukan sekadar seremonial. Ini latihan awal. Haji itu ibadah fisik,” tegas Zaidun.
Dengan waktu keberangkatan yang kian dekat, tantangan penyelenggaraan haji Kota Bekasi bukan hanya soal jumlah, tetapi juga soal kepastian, kesiapan, dan kualitas layanan. Di tengah antusiasme ribuan jemaah, pemerintah dituntut memastikan bahwa besarnya kuota benar-benar diimbangi dengan pelayanan yang aman, adil, dan transparan.(sur)











