Berita Bekasi Nomor Satu

Warga Terdampak Banjir di Buni Bakti Babelan Mengungsi di Tenda Darurat, Hawa Dingin Malam dan Minim Bantuan

MENGUNGSI DI TENDA: Siti Naimah membenahi barang-barangnya di tenda pengungsian di Kampung Tambun Inpres, Desa Buni Bakti, Babelan, Senin (26/1). FOTO: ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sejumlah warga terdampak banjir mengungsi di tenda darurat yang mereka dirikan di tepi jalan Desa Buni Bakti, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi. Mereka telah mengungsi selama beberapa hari karena rumahnya masih terendam banjir.

Angin malam yang menusuk tulang dan gigitan nyamuk kini menjadi teman akrab bagi warga Desa Buni Bakti. Mereka menatap malam dari tenda-tenda darurat yang didirikan sendiri, setelah hampir dua minggu terpaksa meninggalkan rumah akibat luapan Kali Irigasi DT 8.

Banjir ini dipicu kiriman air dari Sungai Cikarang Bekasi Laut (CBL) dan Kali Bekasi, sehingga rumah-rumah warga kini terendam setinggi pinggang orang dewasa. Siang hari, warga terdampak berkumpul di tenda-tenda yang berjajar di sepanjang Jalan Pertamina. Terpal dan bambu seadanya menjadi pelindung mereka dari hujan dan angin yang tak kenal ampun.

BACA JUGA: Harapan Warga Kampung Tambun Inpres untuk Terbebas Banjir Belum Terwujud meski Presiden Prabowo Sempat Berkunjung

Seorang pengungsi, Siti Naimah (45), berbagi kisahnya dari dalam tenda terpal yang ia bangun sendiri. Bersama delapan orang, termasuk tiga anak tetangga, ia bertahan di ruang sempit yang tak mampu sepenuhnya melindungi dari terpaan hujan dan angin malam.

“Namanya angin, dingin banget kalau malam. Sudah hampir 12 hari saya di sini. Di dalam rumah air sudah sepinggang, sekitar satu meter, sudah tidak bisa ditempati,” ucap Siti kepada Radar Bekasi, Senin (26/1).

Banjir di desanya kerap pasang surut. Siti menjelaskan, warga biasanya tidak akan mengungsi jika air hanya sedengkul orang dewasa. Namun kali ini, curah hujan tinggi dan luapan Kali Irigasi DT 8 membuat air cepat naik ke ketinggian yang memaksa mereka segera mencari perlindungan.

“Kemarin udah mulai surut naik lagi. Cuma kan kalau yang masih pendek sedengkul kita belum mengungsi ke tenda. Pas udah tinggi langsung lari ke sini, ke jalanan,” tambahnya.

Kondisi kesehatan para pengungsi, terutama anak-anak, mulai menurun. Penyakit kulit, seperti kutu air, menjadi ancaman nyata di tengah minimnya bantuan medis.

“Anak-anak kasihan, pada kena kutu air. Kami butuh selimut dan obat-obatan. Sejauh ini bantuan cuma dari orang luar yang lewat saja,” katanya.

Tidak semua warga sanggup bertahan di tenda darurat. Siti Fatonah (47) memilih menyewa rumah kontrakan bersama saudaranya, demi perlindungan yang lebih layak. Pilihan ini tidak murah; ia harus merogoh kocek Rp 600 ribu, jumlah yang berat bagi keluarga dengan suami pekerja serabutan.

“Kalau tidak ngontrak, siapa yang mau menampung. Saya patungan sama saudara, bayar Rp 600 ribu seminggu,” ungkapnya.

Meski berada di kontrakan, hawa dingin tetap menembus dinding. Anak-anak mulai terserang flu dan demam. Fatonah mengeluh banjir kali ini terasa lebih melelahkan karena air tak kunjung surut, sebagian besar daerah resapan telah hilang dan sawah-sawah berubah menjadi perumahan.

“Dulu pernah dinormalisasi, tapi tetap banjir karena ini air kiriman. Sekarang serapan sudah enggak ada, sawah-sawah sudah jadi perumahan semua. Sekarang yang penting ada beras dulu, kadang sore saja kami cuma makan pakai mi instan karena stok menipis,” keluhnya.

Warga Desa Buni Bakti sangat membutuhkan bantuan logistik berupa bahan pangan pokok, obat-obatan, dan perlengkapan tidur yang layak. Selama ini, bantuan hanya datang dari relawan yang melintas, namun tidak selalu berhenti untuk menyalurkan logistik.

“Kalau sekarang yang kita butuhkan bantuan makanan,” tandas Siti. (ris)