Berita Bekasi Nomor Satu

Denny Sumargo Hadirkan BNN dan Dokter, Bahaya Whip Pink dan Vape Terkuak!

Denny Sumargo Bongkar Bahaya Whip Pink dan Vape, Efeknya Bisa Bikin Lumpuh. Foto: Tangkap Layar/YouTube

RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Aktor sekaligus kreator konten Denny Sumargo kembali mengangkat isu serius yang tengah marak di masyarakat, khususnya di kalangan anak muda. 

Melalui tayangan terbaru di kanal YouTube miliknya, Denny membahas bahaya penyalahgunaan gas Nitrous Oxide (N2O) yang populer disebut “Whip Pink”, serta rokok elektrik (vape) yang kini tak lagi sekadar alternatif rokok, tetapi berpotensi menjadi medium penyalahgunaan narkotika.

Diskusi tersebut menghadirkan berbagai narasumber dari latar belakang berbeda, mulai dari perwakilan Badan Narkotika Nasional (BNN), tenaga medis, investigator independen, hingga mantan pengguna. 

Tujuannya satu, yaitu membedah risiko fatal di balik tren penggunaan bahan yang secara hukum legal, namun disalahgunakan hingga membahayakan nyawa.

Video yang diunggah pada Selasa (28/1/2026) itu menghadirkan Brigjen Pol. Suprianto dari BNN, Dokter Spesialis Paru dr. Samuel, investigator produk viral yang dikenal sebagai Doktif, serta seorang mantan pengguna bernama Doni. 

Fokus utama pembahasan adalah bagaimana zat-zat yang mudah diakses publik dapat berubah menjadi ancaman serius ketika digunakan di luar fungsi aslinya.

Temuan Mencurigakan di Balik Penjualan Whip Pink

Doktif memaparkan hasil investigasi independennya terkait peredaran bebas tabung gas N2O di berbagai lokapasar daring. Ia menyoroti cara pemasaran produk tersebut yang dinilai janggal dan menyimpang dari fungsi aslinya sebagai bahan dapur.

“Di web-nya itu ada gambar seperti astronaut. Apa hubungannya antara whip atau cake dengan astronaut? Astronaut itu kan orangnya terbang,” ujar Doktif, menyinggung visual produk yang seolah sengaja diasosiasikan dengan sensasi ‘melayang’.

Tak hanya itu, Doktif juga menemukan bahwa paket penjualan Whip Pink sering kali dilengkapi dengan nozzle atau corong khusus. Menurutnya, hal tersebut semakin memperkuat dugaan bahwa produk ini tidak ditujukan untuk keperluan memasak.

“Disertakan dengan (nozzle) ini. Seharusnya kalau buat cake, chef atau restoran itu kan dia punya alat sendiri. Enggak akan mungkin dong ini jadi whip cream,” tambahnya.

Kesaksian Doni, mantan pengguna gas N2O, menjadi penguat dari temuan tersebut. Ia mengaku pertama kali mengenal Whip Pink dari lingkungan pertemanan. Awalnya, ia tergiur oleh cerita tentang efek menyenangkan yang ditimbulkan.

Baca Juga: Bukan Gimmick! Prilly Latuconsina Nyalakan #OpenToWork di LinkedIn Cari Kerja Jadi Sales

“Teman saya bilang, ‘Barang ini enak lho’. Efeknya gila bang, halusinasi yang tinggi, badan lemas semua, kepala pusing,” ungkap Doni.

Namun, euforia sesaat itu justru membawa dampak serius bagi kondisi mental dan fisiknya. Doni mengaku mengalami perubahan emosi yang drastis akibat penggunaan rutin, hingga berimbas pada kehidupan rumah tangganya.

“Bawaannya cepat naik emosinya. Ribut terus akhirnya mau cerai,” katanya dengan nada menyesal.

Dari sisi medis, dr. Samuel menjelaskan secara rinci mekanisme berbahaya gas N2O saat masuk ke tubuh manusia. Menurutnya, gas tersebut dapat dengan cepat menggantikan oksigen dalam darah.

“Begitu kehirup, dari paru-paru langsung masuk ke darah lebih cepat daripada oksigen. Sehingga oksigen bisa ketinggalan, pasiennya bisa jatuh dalam hipoksia,” jelasnya.

Kondisi kekurangan oksigen ini kerap disalahartikan pengguna sebagai sensasi “fly”, padahal berpotensi memicu kerusakan serius. Lebih lanjut, dr. Samuel memperingatkan bahaya jangka panjang berupa kerusakan saraf permanen akibat terganggunya fungsi Vitamin B12, yang sangat penting bagi sistem saraf.

“Dia (N2O) akan mengganggu pembentukan selubung saraf. Efeknya itu seperti kesemutan awal-awalnya, lama-lama bisa lemah satu badannya seperti orang lumpuh,” tegasnya.

Selain Whip Pink, diskusi juga menyoroti bahaya rokok elektrik. Brigjen Pol. Suprianto mengungkapkan fakta mencengangkan bahwa vape kini kerap dimanfaatkan sebagai sarana penyelundupan narkotika dalam bentuk cair.

“Hasil penyelidikan BNN ini sangat mengkhawatirkan karena hampir setiap tangkapan selalu positif vape itu di dalamnya ada narkoba,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kemunculan zat baru bernama Etomidate, yang sejatinya merupakan obat bius. Zat ini telah disalahgunakan dan dicampurkan ke dalam cairan vape.

“Etomidate ini jelas zat anestesi. Tahun 2025 yang lalu sudah dimasukkan golongan narkotika. Sehingga siapa pun yang menggunakan Etomidate pasti kena undang-undang narkotika,” tambah Brigjen Suprianto.

Baca Juga: Tiga Bulan Rehabilitasi Berakhir, Onadio Leonardo Siap Pulang ke Rumah

Ancaman Penyakit Paru-Paru Serius

Menanggapi bahaya vape dari sisi kesehatan, dr. Samuel menambahkan risiko penyakit paru-paru berat yang dikenal sebagai Bronchiolitis Obliterans atau Popcorn Lung. Penyakit ini terjadi akibat kerusakan kantung udara paru-paru karena paparan zat kimia perasa yang dipanaskan dan dihirup.

“Alveoli yang menggerombol seperti buah anggur itu kalau terkena zat iritan dia akan jadi pecah. Akhirnya kita bilangnya Bronchiolitis Obliterans, atau secara awamnya Popcorn Lung,” jelasnya.

Menutup diskusi, Denny Sumargo mengajak masyarakat untuk tidak menyepelekan informasi medis dan hukum yang telah disampaikan para narasumber. Ia berharap tayangan tersebut dapat menjadi peringatan, khususnya bagi para orang tua, agar lebih waspada terhadap barang-barang yang dikonsumsi oleh anggota keluarganya.

Menurut Denny, kesadaran sejak dini adalah kunci untuk mencegah tren berbahaya ini terus memakan korban. (ce2)