Berita Bekasi Nomor Satu

MSCI Bekukan Saham Indonesia hingga Mei 2026, OJK Ngantor di BEI

Ilustrasi Gedung Bursa Efek Indonesia

RADARBEKASI.ID, JAKARTA –Morgan Stanley Capital International (MSCI) secara mengejutkan membekukan evaluasi indeks saham Indonesia sampai Mei 2026.

MSCI menegaskan jika sampai Mei 2026 tidak ada perbaikan transparansi yang signifikan maka mereka akan mengurangi bobot (weighting) seluruh saham Indonesia, dan menurunkan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market.

MSCI menyoroti kurang transparannya struktur kepemilikan saham dan ketakutan terhadap kemungkinan perilaku perdagangan yang merusak pembentukan harga tepat.

Imbasnya, selama dua hari berturut-turut IHSG ambrol ke level lebih dari 8 persen hingga menyebabkan trading halt (penghentian sementara) dua hari berturut-turut.

BACA JUGA: IHSG Anjlok 8 Persen, Perdagangan Saham Dibekukan Sementara

Di sisi lain, kebijakan MSCI berdampak secara langsung terhadap sejumlah saham milik konglomerat dan Big Caps a.l Kelompok bisnis milik Prajogo Pangestu yakni PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang turun hingga Auto Reject Bawah (ARB) 14,81 persen ke Rp2.300 sementara PT Barito Renewable Energy Tbk (BREN) melemah hingga 11,84 persen ke Rp8.375.

Merespons keputusan MSCI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengumumkan akan berkantor di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai Jumat (30/1/2026) besok.

Hal ini menyusul dengan ambruknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga membuat penghentian sementara perdagangan atau trading halt.

“Mulai besok kami juga akan berkantor di sini (BEI),” kata Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (29/1/2026).

Lebih lanjut, ia menyampaikan pindah kantor sementara dilakukan sebagai bentuk wujud nyata dalam reformasi bursa. Ke depan pihaknya akan melakukan perbaikan secara menyeluruh dan mengutamakan transparansi dan integritas.

“Kunci dasarnya adalah reformasi yang memperbaiki transparansi dan integritas. Tapi kami fokusnya bukan itu, fokusnya adalah reformasi. Perbaikannya itu seluruhnya dan berjalan cepat, tepat, dan efektif,” tambahnya. (rbs/jpc)