Berita Bekasi Nomor Satu

Pemicu Banjir, Eceng Gondok di Kali Ulu Cikarang Dibabat

BERSIHKAN KALI ULU: Sejumlah warga membersihkan Kali Ulu dari tanaman eceng gondok di Perumahan Grand Cikarang City 1, Desa Karangraharja, Cikarang Utara, Rabu (28/1). FOTO: ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pasca banjir, warga Desa Karangraharja, Cikarang Utara, turun ke Kali Ulu, Rabu (28/1) pagi, untuk mengangkat eceng gondok yang menutupi sungai sepanjang 300 meter di Perumahan Grand Cikarang City 1. Tumpukan gulma ini disebut-sebut sebagai biang keladi meluapnya air ke pemukiman saat hujan deras.

Seorang warga, Nurhayani (43), mengatakan penyumbatan di cekungan Kali Ulu, yang diperparah oleh tanaman eceng gondok, membuat debit air tersumbat. Saat debit air meningkat, air melimpas ke pemukiman warga, seperti yang ia alami pada Minggu (18/1).

“Banjir kemarin kita gak nyangka akan terjadi. Biasanya cuma genangan dan cepat surut. Tapi karena debit Kali tinggi, limpas. Mampet sama eceng gondok juga,” ucap Nurhayani, Rabu (28/1).

Air yang merangsek cepat memaksa ia menyelamatkan barang-barang seadanya dan mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Ia berharap setelah eceng gondok dan sampah yang menyumbat Kali Ulu dibersihkan, segera dilakukan normalisasi agar ia dan warga sekitar tidak khawatir dengan luapan Kali Ulu.

“Kalau hujannya deras dan lama, pasti kepikiran terus. Takut kejadian lagi. Tidur juga nggak nyenyak. Bolak-balik ngeliat kondisi air, harus ngungsi,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Desa Karangraharja, Suhendra, mengungkapkan bahwa Kali Ulu melintang di antara pemukiman warga. Kondisi sungai yang dipenuhi eceng gondok dapat memicu banjir kembali terjadi.

“Banyak sampah, eceng gondok dan endapan lumpur di Kali Ulu. Ini yang menyebabkan air cepat meluap ketika hujan deras,” kata Suhendra.

Menurutnya, kondisi sungai dan sistem drainase yang kurang optimal menjadi pemicu genangan di Desa Karangraharja. Oleh sebab itu, pihak desa berupaya meminimalkan risiko agar debit air lancar.

“Penanganan banjir ini tidak bisa hanya oleh pemerintah, perlu peran bersama. Yang kami lakukan saat ini masih penanganan darurat dan pencegahan awal. Untuk solusi jangka panjang, kami terus berkoordinasi dengan kecamatan dan kabupaten, terutama terkait normalisasi sungai dan perbaikan drainase,” tambahnya.

Camat Cikarang Utara, Enop Can, mengatakan normalisasi saluran air secara swadaya ini merupakan respons cepat pascabanjir yang sempat melanda beberapa titik di wilayahnya. Banjir yang terjadi di lima desa di Kecamatan Cikarang Utara disebabkan oleh meluapnya Kali Ulu dan ketidaksiapan saluran irigasi perumahan menerima luapan air.

“Desa yang dampaknya paling berat itu Karangraharja, Tanjungsari, dan Karangasih. Selain curah hujan tinggi, luapan Kali Ulu membuat perumahan seperti Puri Cikarang Hijau dan Sakura tergenang. Bahkan, lahan pertanian warga juga terdampak, meski untuk kerugian materilnya masih kami hitung,” terang Enop Can.

Aksi bersih-bersih Kali Ulu diharapkan dapat mengembalikan fungsi sungai secara optimal. Pemerintah setempat pun mengimbau masyarakat untuk menjaga konsistensi gotong royong dan tidak membuang sampah ke aliran sungai agar musibah banjir serupa tidak terulang di masa mendatang. (ris)