Oleh: Dahlan Iskan
Seluruh raksasa migas diundang ke Gedung Putih: Selasa kemarin. Temanya: Velezuela. Yakni bagaimana agar minyak Venezuela bisa secepat mungkin ditarik dari perut buminya.
Maksudnya: agar uang hasil minyak itu bisa segera untuk Amerika Serikat, perusahaan minyak Amerika dan untuk rakyat Venezuela.
Presiden Donald Trump membuka acara dengan pamer proyek ballroom di komplek Gedung Putih: yang kalau sudah jadi kelak akan menjadi ballroom terbesar dan terhebat di dunia –ia biasa bicara serba ”ter” seperti itu.
Di depan para CEO minyak itu, Wakil Presiden JD Vance memuji kepemimpinan Trump setinggi langit: hanya Trump yang bisa melakukan operasi begitu besar di Venezuela: tanpa satu pun tentara Amerika kehilangan nyawa.
Wapres duduk di kanan Trump. Di sebelah kirinya: Menlu Marco Rubio –yang juga menyanjung Trump setinggi sanjungan yang diberikan wapres. Dua tokoh itu sendiri akan bersaing di Pilpres tiga tahun lagi. Utamanya manakala Trump tidak bisa nyapres kali ketiga.
Venezuela adalah pemilik cadangan minyak terbesar di dunia. Harus diamankan Amerika.
“Saya tidak mau Tiongkok dan Rusia di sana,” ujar Trump. Mereka boleh dapat minyak Venezuela hanya sebatas sebagai pembelinya.
Dengan menguasai Venezuela, terjaminlah pasok energi Amerika. Dalam jangka yang sangat panjang. Amerika menjadi yang terkuat cadangan energinya di dunia.
Trump lantas seperti mengabsen satu per satu para CEO itu: kapan mulai menggarap minyak Venezuela. Seolah Venezuela sudah menjadi negara bagian AS ke-52 –dengan ke-51-nya Kanada.
CEO Chevron diminta yang pertama bicara. Chevron sudah beroperasi di Venezuela sejak tahun 1940-an. Karyawan lokalnya mencapai 3.000 orang. Pun dalam keadaan krisis ekonomi berkepanjangan di Venezuela, Chevron tetap bertahan di sana.
Maka Chevron tidak perlu menjelaskan kapan mulai. Exxon mendapat giliran berikutnya. Lalu Conoco Philips. Dan seterusnya. Intinya: mereka sudah siap memompa minyak di Venezuela.
Saya pun menduga-duga: dengan menguasai Venezuela Trump sedang cari terobosan terbesar untuk mengatasi kesulitan mendasar Amerika.
Anda sudah tahu: Amerika menyimpan sakit kanker yang berat. Utang negara itu kini mencapai USD38 triliun. Utang itu masih naik terus. Tak peduli siapa pun presidennya. Saat partai Republik pegang kuasa, utang itu meningkat. Pun ketika partai Demokrat yang pegang kuasa ya sama saja.
Padahal semua orang tahu: utang itu akan meledak pada saatnya. Tinggal tunggu waktu.
Untuk sementara Amerika memang masih bisa mengatasi dengan cara terus menambah utang. Tapi ada waktunya kelak: Amerika runtuh karena utang.
Tentu Amerika tidak mau runtuh. Trump sangat jeli. Juga sangat sadar cara di film cowboy bisa diterapkan. Venezuela dikuasai. Minyaknya bisa dipakai mengatasi sakit kankernya.
Kalau cara itu berhasil Trump akan dicatat sebagai presiden terhebat di Amerika –bisa mengatasi utang yang fantastis itu. Soal cara memang akan dicatat sebagai “kejahatan” sejarah. Tapi kemampuannya menyelamatkan Amerika dari kanker stadium empat akan lebih diingat.
Apalagi Trump punya alasan pembenar: toh kekayaan minyak Venezuela itu, selama ini terbukti tidak bisa memakmurkan rakyatnya.
Soal caranya menguasai Venezuela kita semua pasti mencela. Tapi itulah cara terbaik bagi Amerika untuk keluar dari bom waktu: kuras minyak Venezuela.
Kalau ternyata kurang: masih ada Iran.
Bisa saja Trump menyalahkan Kanada: gara-gara Kanada tidak mau dijadikan negara bagian ke-51, Amerika “terpaksa” menyerang Venezuela. Gajah AS dan gajah Kanada bertikai pelanduk Venezuela yang mati.
Bisa saja sebenarnya Kanadalah yang diincar: negara ini kaya raya dengan energi. Tapi memang lebih sulit. Menundukkan Venezuela lebih mudah.
Dengan mengerahkan para raksasa minyak dunia ke Venezuela, Trump seperti ingin mengatakan: Amerika kini benar-benar tidak memerlukan Kanada.
Bahkan Amerika menilai Kanada itu sangat tergantung ke Amerika. “Kanada bisa hidup karena Amerika,” ujar Trump pekan lalu.
Di mata Amerika, Kanada memang kecil. Penduduknya hanya sama dengan satu negara bagian California: sekitar 40 juta. Pun kekuatan ekonominya: satu negara Kanada hanya separo kekuatan ekonomi California. GDP California USD4,5 triliun. Kanada USD2,2 triliun.
Karena itu Trump sangat pede Kanada akan sangat kesulitan tanpa Amerika. Selama ini di minyak mentah saja Kanada kirim 4 juta barrel ke Amerika. Lewat pipa. Untuk diolah di berbagai negara bagian di Amerika.
Ekspor Kanada terbanyak juga lewat pelabuhan Amerika. Itu karena infrastruktur antara Kanada-Amerika sudah seperti di satu negara.
Tapi Kanada sudah membuat keputusan: tidak mau lagi tergantung kepada Amerika. Kanada akan membangun sendiri pelabuhan-pelabuhan besar. Lalu jalan kereta api barang menuju pelabuhan itu. Dari pelabuhan itu barang Kanada akan langsung dikirim ke Asia –Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan.
Boleh dikata Kanada akan mengalihkan sebagian besar kegiatan ekonominya ke dalam negeri. Berarti Amerika akan kehilangan banyak sekali perputaran ekonomi.
Tak terbayangkan hubungan Kanada-Amerika bisa begitu berubah drastis. Perang dagang terbesar tidak lagi Amerika-Tiongkok. Sudah beralih ke tetangga sendiri.
Bagi Amerika kehilangan Kanada yang cerewet tidak apa. Ia sudah dapat ganti yang lebih patuh: Venezuela.
Masalahnya tidak hanya kehilangan. Mungkin harus berantem. Anda pernah mengalami: berantem dengan tetangga sendiri memang lebih asyik. Apalagi di sana tidak ada ketua RT yang bisa mendamaikannya.(Dahlan Iskan)











