RADARBEKASI.ID, BEKASI – Warga RW 29 Desa Mangunjaya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, mendesak pemerintah daerah agar lebih serius mencari solusi permanen atas persoalan banjir yang terus berulang di Perumahan Griya Syariah. Banjir yang kerap terjadi tersebut telah menimbulkan kerugian materiil serta penderitaan bagi ratusan kepala keluarga.
Ketua RW 29 Desa Mangunjaya, Sodikin, mengungkapkan bahwa aspirasi terkait penanganan banjir sebenarnya sudah lama disampaikan warga melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat desa. Namun hingga kini, belum ada realisasi konkret dari usulan tersebut.
“Sudah lama kami sampaikan aspirasi ini di Musrenbang desa, tapi sampai sekarang hasilnya masih nihil. Padahal banjir ini terus terjadi dan semakin parah,” ujar Sodikin, Sabtu (31/1).
Warga menilai salahsatu penyebab utama banjir adalah buruknya sistem drainase di kawasan perumahan Griya Syariah yang berbatasan langsung dengan wilayah Desa Mekarsari. Mereka berharap pemerintah membangun saluran drainase permanen berupa U-ditch atau gorong-gorong beton agar aliran air lebih tertata dan tidak mudah rusak.
Selama ini, saluran air yang belum berturap kerap mengalami longsor saat hujan deras. Material tanah yang longsor menutup saluran, sehingga aliran air dari Perumahan Griya Syariah ke wilayah bawah menjadi tersumbat dan meluap ke permukiman warga.
“Kalau hujan deras, saluran air longsor dan tertutup. Akibatnya air tidak mengalir dan langsung menggenangi rumah warga,” jelasnya.
Kondisi tersebut, lanjut Sodikin, bukanlah kejadian baru. Banjir sudah sering terjadi, namun hingga kini belum ada tindak lanjut nyata dari pemerintah daerah. Warga mengaku telah menyampaikan keluhan dan aspirasi tersebut kepada anggota DPRD Kabupaten Bekasi, namun penanganan yang diharapkan belum juga terwujud.
Dampak banjir dirasakan cukup serius. Sedikitnya empat RT dengan lebih dari 200 kepala keluarga terdampak langsung. Bahkan, dalam kurun waktu Januari 2026 saja, banjir disebut sudah terjadi sebanyak tiga hingga empat kali.
“Januari 2026 ini saja sudah tiga sampai empat kali kebanjiran,” kata seorang warga.
Banjir tidak hanya merendam rumah, tetapi juga merusak perabotan serta barang-barang elektronik milik warga. Selain kerugian materiil, warga juga mengeluhkan dampak kesehatan pascabanjir.
Genangan air yang bercampur lumpur dan sampah menimbulkan bau tidak sedap serta meningkatkan risiko berbagai penyakit.
Warga RW 29 berharap Pemerintah Kabupaten Bekasi segera turun tangan dengan langkah nyata dan berkelanjutan untuk menyelesaikan persoalan banjir tersebut, agar mereka dapat hidup lebih aman dan nyaman tanpa terus dihantui banjir yang berulang. (oke)











