RADARBEKASI.ID, BEKASI – Warga bantaran Kali Bekasi di Gang Mawar, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Selatan, mengaku telah ‘berdamai’ dengan situasi banjir. Kendati demikian, mereka tetap menuntut solusi pasti yakni pembangunan tanggul yang tinggi dan kokoh. Untuk itu, mereka siap membongkar sendiri sebagian bangunan rumah demi merealisasi pembangunan tanggul tersebut.
Saari (72), warga setempat, mengaku siap membongkar sebagian dapurnya—yang selama ini dipakai memproduksi tempe—demi proyek penguatan bantaran sungai. Baginya, kehilangan ruang usaha lebih ringan dibanding kerugian akibat banjir yang terus berulang.
“Silakan dibagusin, tapi jangan tanggung-tanggung. Biar debit besar juga ketahan. Yang penting tanggulnya tinggi,” ujarnya, Senin (2/1).
Menurutnya, banjir rutin datang tiap tahun dengan ketinggian sekitar satu meter. Banjir besar lima tahunan bahkan bisa menenggelamkan lantai satu rumah warga. Dua peristiwa terparah terjadi pada 2020 dan 2025. Tahun lalu saja, Saari menghabiskan sekitar Rp100 juta untuk memperbaiki bangunan yang rusak dihantam arus deras.
Di sepanjang bibir kali, berdiri bangunan semi permanen milik warga yang mayoritas menggantungkan hidup dari usaha tahu dan tempe. Saat banjir datang, produksi terhenti dan pelanggan tercerai-berai.
“Bukan cuma soal rugi hari itu, tapi langganan bisa hilang. Sekarang cari pembeli tetap susah,” keluhnya.
Meski begitu, solidaritas warga tetap terjaga. Setiap banjir surut, mereka bergotong royong membersihkan lumpur agar aktivitas usaha bisa segera berjalan kembali.
Pasca kunjungan Wali Kota Bekasi pada Jumat (30/1), tim dari DBMSDA, Distaru, dan Kelurahan Margahayu melakukan pengukuran area bantaran yang akan ditertibkan. Ketua RW 03, Suwarjo, menyebut jarak bangunan warga terdekat ke bibir kali mencapai sekitar 19 meter dari batas tanah asli.
Ia memastikan warga yang bangunannya paling dekat dengan kali bersedia menertibkan secara mandiri demi pembangunan tanggul.
“Warga sangat menunggu tanggul ini. Kalau tidak ada pengaman, usaha mereka pasti terus terganggu,” katanya.
Data sementara mencatat sedikitnya 18 kepala keluarga bermukim atau beraktivitas usaha di area bantaran kali. Saat banjir besar 2025, air bahkan merendam kawasan dataran lebih tinggi hingga setinggi dagu orang dewasa, ketika debit Kali Bekasi disebut mencapai 1.200 kubik.
Ironisnya, banjir bisa datang meski langit Bekasi cerah, akibat derasnya kiriman air dari wilayah hulu.
Warga kini berharap rencana pembangunan tanggul benar-benar terealisasi pada 2026. “Masyarakat sudah terlalu lama menunggu. Jangan sampai cuma wacana,” tandas Suwarjo.(sur)
INFOGRARIS
🌊 WARGA GANG MAWAR DIKEPUNG BANJIR KIRIMAN
📍 Lokasi
Gang Mawar, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Bantaran Kali Bekasi
⚠️ FAKTA BANJIR
- Banjir terjadi setiap tahun
- Tetap banjir meski Bekasi tidak hujan (air kiriman dari hulu)
- Genangan rutin: ± 1 meter
Banjir besar 5 tahunan:
- Air bisa mencapai lantai 1 rumah
- Banjir besar terakhir: 2025
- Ketinggian air: setinggi dagu orang dewasa
- Debit Kali Bekasi saat itu: ± 1.200 kubik
📏 KONDISI BANTARAN
- Jarak bangunan warga terdekat ke kali: ± 19 meter
- Jumlah warga terdampak di bantaran: 18 KK
- Mayoritas bangunan: semi permanen
🏭 DAMPAK KE EKONOMI WARGA
Mayoritas warga punya usaha:
- Produksi tahu & tempe rumahan
Saat banjir:
- Produksi berhenti total
- Tidak bisa berjualan
- Pelanggan tetap bisa hilang
💸 Kerugian contoh warga:
- Perbaikan bangunan pascabanjir 2025: ± Rp100 juta
🧱 TUNTUTAN WARGA
Warga minta pemerintah:
✔️ Bangun tanggul tinggi & kokoh
✔️ Mampu menahan debit air besar
✔️ Tidak setengah-setengah
Bahkan warga:
➡️ Siap bongkar bangunan sendiri
demi pembangunan tanggul
LANGKAH PEMERINTAH
Sudah dilakukan:
- Peninjauan oleh Wali Kota Bekasi
Pengukuran oleh:
- DBMSDA
- Distaru
- Kelurahan Margahayu
Status warga:
✔️ Bersedia penertiban mandiri
✔️ Menunggu realisasi tanggul
HARAPAN WARGA
- Target yang diharapkan: Realisasi 2026
Tujuan: - Hentikan banjir tahunan
- Lindungi rumah & usaha warga
- Cegah kerugian berulang











