Oleh: Dahlan Iskan
Antarumat itu terlihat begitu rukun. Gereja Katolik Katedral Malang sampai mengurangi ibadah misa: dari enam kali tinggal dua kali. Demi Nahdlatul Ulama (NU).
Sekolah dan masjid Muhammadiyah Malang disediakan untuk transit pengunjung dari luar kota: Demi NU.
Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) menyediakan layanan singgah lengkap dengan makanan dan minuman: Demi NU.
NU punya acara besar Sabtu-Minggu lusa di Malang: Mujahadah Akbar dalam rangka HUT ke-100 tahun –versi kalender Masehi.
Sebetulnya HUT ke-100 tahun itu sudah dilaksanakan di Jakarta. Di Istora Senayan. Pekan lalu. Tepat di hari kelahirannya: 31 Januari 1926.
Dua HUT itu juga sama: Demi NU. Yang di Jakarta demi NU-nya Gus Yahya. Yang di Malang demi NU-nya Kiai Akhyar.
“Sudah tidak bisa dirukunkan lagi,” ujar KH Imam Jazuli, pendiri pondok pesantren terkemuka Cirebon, Bina Insan Mulia (BIMA).
Kiai Imam adalah doktor lulusan Al Azhar, Cairo. Pernah menjadi ketua cabang PDI-Perjuangan di Mesir.
Maksudnya: kubu Gus Yahya (Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf) dan kubu Kiai Akhyar (Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar) itu. Upaya mendamaikannya sudah begitu masif. Sampai berhasil. Kelihatannya. Mereka sudah saling bertemu. Cipika. Cipiki. Tapi masih ada dua HUT.
“Secara visi dan misi sudah tidak bisa bersatu,” tambah Kiai Imam Jazuli.
Kiai Imam adalah garis politik di NU. Ia tidak menjadi politikus, tapi membiayai banyak kader NU yang ingin jadi anggota DPR dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Naik drastisnya kursi PKB di Pemilu lalu, antara lain berkat jasanya.
Imam masih belum puas. Harusnya PKB jadi pemenang Pemilu –kalau semua orang NU mendukung PKB. Ia terlihat begitu jelas anti kubu Gus Yahya. Gus Yahya dinilainya sebagai tokoh yang menjauhkan NU dari PKB.
Tapi Imam juga tidak hadir di perhelatan besar di Malang nanti. “Ada kunjungan duta besar ke pondok kami,” katanya.
Rasanya dikatakan tidak bisa lagi bersatu juga tidak. Rabu kemarin tepat pleno lengkap bisa diadakan. Semua pihak hadir –meski Kiai Akhyar hadir secara zoom. Tapi hadir. Dan suasananya enak. Membicarakan agenda muktamar persatuan akan datang.
Tapi melihat gencarnya publikasi, acara yang di Malang lusa memang terlihat akan sangat meriah. Akan jauh mengalahkan yang di Jakarta.
Momentumnya juga lebih pas: krisis bursa saham sudah mulai pulih. Presiden Prabowo sudah bisa hadir di Malang. Persiapan kehadirannya sudah terlihat matang.
Kehadiran Presiden Prabowo di HUT NU di Malang itu bisa ditafsirkan sangat dalam: pemerintah berpihak ke kubu yang mana.
Waktu Gus Yahya mengadakan acara yang sama di Istora, presiden tidak hadir. Konon Presiden mau hadir kalau undangan untuknya ditandatangani empat orang: Kiai Akhyar (rais aam), Kiai Said Asrori (katib aam), Gus Yahya (ketua umum), dan Gus Ipul (sekjen).
Waktu itu, dari pihak pemerintah yang hadir adalah Menteri Agama Prof Dr Nasaruddin Umar. Tokoh NU moderat. Tidak berpihak ke mana pun.
Wartawan Disway yang meliput acara di Senayan itu mencatat suasana yang kurang meriah. Tidak seperti biasanya kalau NU bikin acara massal.
Mungkin karena hujan mengguyur Jakarta berhari-hari tiada henti. Mungkin juga karena harga saham lagi jatuh sedalam-dalamnya di tanggal itu. Siapa tahu banyak warga NU yang main saham sehingga mereka sedang dalam suasana sangat berduka.
Mungkin juga mereka sudah menangkap sinyal bahwa presiden tidak hadir di acara itu. Anda, yang NU pun bisa membaca suasana kebatinan presiden yang lagi tidak mood untuk berada di tengah kemeriahan masa.
Maka acara di Malang nanti tidak mau seperti di Istora Senayan yang kecil –bukan di Gelora Bung Karno yang besar. Acara di Malang nanti di stadion sepak bola Gajayana –di pusat kota Malang. Hanya kurang dari satu kilometer dari Gereja Katedral Malang.
Sebagai antisipasi besarnya acara itu, 12 jalur jalan ditutup sepanjang Sabtu sampai Minggu siang. Karena itu misa Sabtu dan minggu pagi di Katedral itu ditiadakan. Sebenarnya tetap boleh dilaksanakan tapi lokasi parkirnya sangat jauh. Gereja akhirnya memutuskan hanya menyelenggarakan dua misa: Minggu sore dan Minggu malam.
Sabtu siang masa NU dari berbagai daerah memang sudah berdatangan ke Malang. Diperkirakan lebih 100.000 orang. Data resmi yang masuk ke panitia kemarin pagi sudah 104.541.
Acaranya sendiri dimulai Sabtu malam. Bersalawat –memuliakan Nabi Muhammad dalam kalimat-kalimat berbagai irama. Tepat tengah malam, pukul 00.00, diadakan khataman Quran –membaca Quran sampai tamat– sebanyak 999 kali: biasanya waktunya sangat cepat karena dilakukan secara borongan oleh ribuan orang.
Dini hari dilakukan salat malam sampai menjelang subuh. Acara inti dilakukan setelah salat subuh itu: Presiden Prabowo hadir dan memberi sambutan. Pukul 08.00, Minggu, sudah selesai.
Presiden Jokowi hadir di acara HUT 100 Tahun NU –versi tahun Hijriah– dua tahun lalu. Di Sidoarjo. Macet total –pun di jalan tol. Pesta. Meriah. Penuh kenangan indah. Juga kenangan politik dan ekonomi: NU dapat konsesi tambang batu bara. (Dahlan Iskan)











