RADARBEKASI.ID, BEKASI – Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat, mengungkapkan dominasi platform global yang menyedot potensi pendapatan iklan menjadi penyebab utama gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai perusahaan media konvensional saat ini.
Ia menjelaskan, iklan yang selama ini menjadi sumber pendatapan utama bagi televisi dan media arus utama, kini telah beralih secara besar-besaran ke media sosial serta platform berbagi video seperti YouTube.
“Sekarang ini semua media tradisional mengalami PHK karena pendapatannya (income) menurun. Dari mana income-nya? Dari iklan. Iklan larinya ke medsos,” ujar Komaruddin dikutip dari JPNN, Senin (9/2/2026).
Atas hal itu, Dewan Pers mendorong pemerintah untuk segera menerbitkan regulasi yang adil untuk memutus hegemoni platform global, sekaligus menciptakan ekosistem bisnis media nasional yang lebih seimbang dan kompetitif.
BACA JUGA: Istana Cabut ID Jurnalis CNN Indonesia, Dewan Pers Serukan Hormati Kemerdekaan Pers
Pasalnya menurut Komaruddin, jika pemerintah tidak turut andil dalam menciptakan keadilan dan keseimbangan, maka media arus utama (mainstream) akan terus menghadapi tekanan finansial yang berujung pada gelombang pengurangan tenaga kerja secara berkelanjutan.
“Kalau pemerintah tidak ikut menciptakan keadilan, media mainstream itu kemudian mengalami kekurangan pendapatan (revenue) dan akhirnya PHK,” jelasnya. (cr1)











