Berita Bekasi Nomor Satu
Bisnis  

BCA Lanjutkan Ekspansi Kantor Cabang di Era Digital, Bidik Wilayah Indonesia Timur

BCA Ungkap Masa Depan Kantor Cabang – SVP Operation Strategy & Development BCA Setiady (kiri - foto atas) menjabarkan alasan di balik angka kantor cabang BCA yang terus meningkat di tengah ramainya digitalisasi dalam sesi Mini Studio di BCA Expoversary 2026 di ICE BSD, Tangerang pada Jumat (6/2). Ia menjelaskan bahwa BCA terus berfokus pada pelayanan terbaik dan penetrasi di sejumlah wilayah Indonesia, khususnya Indonesia Timur.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Perkembangan dunia perbankan ke arah digital berdampak pada berkurangnya sejumlah kantor cabang bank di Indonesia. Masifnya digitalisasi memang memberikan kemudahan bagi industri perbankan untuk memberikan pelayanan kepada nasabah, di mana saja dan kapan saja.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah kantor bank umum sebesar 23.538 pada Juni 2025, atau turun 632 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Lantas, bagaimana kondisinya di PT Bank Central Asia Tbk (BCA)?

“Di tengah pergerakan kondisi ke arah digital, BCA justru menganggap layanan fisik masih penting untuk nasabah. Human touch masih diperlukan dalam memberikan pelayanan yang berkualitas,” kata SVP Operation Strategy & Development BCA Setiady, saat berbincang pada program siniar di Mini Studio BCA Expoversary 2026 pada Jumat (6/2).

BACA JUGA: Optimistis KPR Tumbuh Hingga 7% pada 2026, BCA Ungkap Strateginya

Pernyataan Setiady itu tercermin dari meningkatnya jumlah kantor cabang BCA dalam empat tahun terakhir. Jumlah kantor cabang BCA sebanyak 1.242 pada tahun 2021, dan telah meningkat menjadi 1.270 pada tahun 2025.

Setiady menyebutkan aspek kepercayaan dan perilaku konsumen menjadi kunci dari peningkatan jumlah kantor cabang tersebut. “Kecenderungan masyarakat Indonesia masih mempercayakan sesuatu, terutama asetnya kepada institusi yang tampak secara fisik, sehingga kehadiran kantor cabang esensial untuk mendorong kepercayaan nasabah. Selain itu, masyarakat yang membutuhkan transaksi dalam jumlah besar dapat dengan nyaman bertransaksi langsung melalui frontliner kami di kantor cabang,” ujar Setiady.

Pernyataan Setiady tersebut dijelaskan lebih lanjut melalui pemaparan data perkembangan komposisi frekuensi dan nilai transaksi di BCA. Setiady menguraikan bahwa saat ini sekitar 99,8% frekuensi transaksi di BCA telah diproses secara digital. Artinya, secara frekuensi, kantor cabang hanya berkontribusi sekitar 0,2%. Namun, secara nilai atau nominal, transaksi di kantor cabang masih mengambil porsi lebih dari 30%.

Setiady juga mencontohkan nasabah yang bertransaksi ke kantor cabang umumnya memiliki kebutuhan terkait transaksi kompleks, misalnya advisory investasi atau kredit. Dalam transaksi yang kompleks ini, nasabah masih memerlukan pertemuan dengan frontliner supaya mendapatkan informasi yang utuh dan personal.

Hal lain mengapa BCA terus memperluas jaringan kantor cabang, menurut Setiady, karena faktor perkembangan ekonomi regional, khususnya di wilayah timur Indonesia. “Masih banyak wilayah di Indonesia Timur yang belum terjangkau oleh BCA. Bila ingin memperluas pasar, salah satu yang dapat dilakukan BCA adalah dengan mendirikan cabang-cabang baru supaya jumlah nasabah BCA yang saat ini hampir mencapai 40 juta dapat ditingkatkan,” ujar Setiady.

Penambahan cabang BCA juga relevan dengan peningkatan jumlah ATM BCA di seluruh Indonesia. Saat ini, Setiady mengungkapkan, BCA memiliki lebih dari 20.000 mesin ATM. Meningkat dari 2021 yang saat itu masih tercatat sebanyak  18.034 mesin ATM.

Pelayanan kantor cabang BCA pun telah beradaptasi dengan perkembangan teknologi, bahkan sejak tahun 2018. Saat ini, sebagian besar kantor cabang BCA telah bertransformasi menjadi cabang digital. Mesin dan aplikasi digital dapat digunakan oleh nasabah secara mandiri, seperti aplikasi eBranch yang digunakan untuk reservasi kedatangan dan kemudahan pengisian slip sebelum ke kantor cabang, mesin CS Digital untuk penggantian kartu dan registrasi fasilitas BCA, mesin eService untuk pencetakan buku dan pembukaan rekening, hingga mesin STAR Teller untuk transaksi tarikan dan setoran tunai.

Meski inovasi digital kantor cabang terus dilakukan, Setiady memastikan hal ini tidak berdampak terhadap pengurangan karyawan. “Penggunaan aplikasi digital di kantor cabang bertujuan untuk menciptakan pelayanan yang lebih cepat dan efisien. Dengan model seperti ini, karyawan di kantor cabang pun memiliki waktu yang lebih banyak untuk menjalin hubungan dengan nasabah dan memberikan pelayanan yang lebih personal. Transformasi cabang digital dan peningkatan relationship dengan nasabah akan menjadi dua pilar utama dalam pengembangan layanan BCA di kantor cabang,” tutup Setiady. (bps/*)