RADARBEKASI.ID, BEKASI – Jalan Kong Isah di Desa Sriamur, Kecamatan Tambun Utara, kian memprihatinkan. Aspal yang terkelupas membentuk lubang-lubang besar. Saat hujan turun, jalan itu berubah menjadi kubangan lumpur yang membahayakan pengendara.
Berdasarkan pantauan di lokasi, hampir seluruh badan jalan dipenuhi lubang berisi air kecokelatan. Pengendara terpaksa bermanuver pelan, berkelok menghindari cekungan agar kendaraan tak rusak atau terperosok.
“Kita nggak tahu mana lubang yang dalam, mana yang dangkal. Ini akses utama buat kami ke pasar dan sekolah, tapi rasanya kayak lewat medan offroad setiap hari,” ujar Nurimah (37), pengendara yang melintas, Senin (9/2).
Ia berharap pemerintah segera turun tangan. “Jangan tunggu ada korban,” ucap Nurimah. Keluhan warga itu mulai menemukan secercah jawaban.
Camat Tambun Utara, Najmuddin, mengatakan, perbaikan Jalan Kong Isah telah diusulkan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).
Perbaikan jalan akan dikerjakan pada tahun ini.
Menurutnya, Jalan Kong Isah merupakan jalan tanggul, yang sebagian sudah dibangun atau dicor.
“Suudah kita masukin (Musrembang) itu tinggal dikit lagi. Itu paling ada 200 meter tinggal ujungnya,” kata Najmuddin.
Jalan Kong Isah merupakan akses penghubung penting antara Tambun Utara dan Kecamatan Sukawangi. Pembangunan sebelumnya telah dilakukan dari batas Tambun Utara hingga Tambun Selatan. Namun, masih tersisa beberapa ratus meter ke arah Sukawangi yang belum tersambung.
“Saya pengennya nyambung sampai Sukawangi. Itu kan tembusannya Perumahan Nebraska dan lainnya. Tinggal dikit lagi kalau itu dicor nyambung ke Sukawangi,” tambahnya.
Najmuddin mengakui, pengusulan pembangunan jalan tersebut sempat menuai polemik. Di sepanjang ruas jalan tersebut berdiri sejumlah kawasan perumahan. Panjang total Jalan Kong Isah mencapai sekitar tiga kilometer.
“Kalau saya bangun jalan tanggul, ada yang bilang ini urusannya perumahan. Padahal ini utilitas warga. Jalan umum, bukan milik perumahan,” ujarnya.
Keberadaan Jalan Kong Isah juga dinilai strategis sebagai jalur alternatif saat banjir melanda Tambun Utara. Jalan yang posisinya lebih tinggi itu kerap menjadi akses evakuasi warga, terutama ketika Sungai Kali Bekasi dan Kali Cikarang Bekasi Laut (CBL) meluap.
“Mohon maaf, dahulu kan kalau meluapnya Kali Bekasi kan Sriamur banjir. Sekarang karena udah diturap Sriamur agak mendingan, gak begitu terendam banjir.
Tapi Kali CBLnya kan meluap tuh. Nah, itu akses yang untuk mempermudah warga untuk keluar, gitu,” tuturnya.
Selain perbaikan jalan, Musrenbang Kecamatan Tambun Utara juga menempatkan normalisasi sungai sebagai prioritas utama. Normalisasi Kali Bekasi, Kali CBL, serta saluran-saluran pembuang dinilai mendesak untuk mencegah banjir berulang.
“Yang utama itu normalisasi dan pembangunan TPT di Kali Bekasi dan Kali CBL. Sungai harus rutin dipelihara supaya banjir tidak terus terulang,” kata Najmuddin.
Di sisi lain, kemacetan lalu lintas yang kerap terjadi di perbatasan Kecamatan Tambun Utara dan Babelan turut menjadi sorotan dalam Musrenbang. Pembangunan jembatan penghubung antara Kebalen dan Kampung Turi diusulkan sebagai solusi untuk memecah kepadatan arus lalu lintas yang sering terjadi pada jam sibuk pagi dan sore hari.
Selain persoalan lalu lintas, masalah sampah juga menjadi perhatian. Najmuddin menyoroti masih banyaknya tumpukan sampah yang tidak tertata di pinggir jalan. Ia mendorong agar setiap RW dilengkapi fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R).
“Yang ketiga soal sampah. Sampah masih banyak, tidak tertata rapi di pinggir-pinggir jalan, kalau bisa setiap RW dikasih TPS3R,” tandas Najmuddin. (ris)











