RADARBEKASI.ID, BEKASI – Warga Tambun Utara terus berupaya menjaga identitas lokal berupa ikan gabus di tengah pesatnya pembangunan. Lebih dari sekadar menu kuliner, ikan gabus menjadi simbol sejarah ekologis yang membentuk karakter masyarakat setempat.
Tokoh masyarakat Tambun Utara, Drahim Sada, menceritakan Tambun Utara terkenal dengan hamparan rawa dan pepohonan gabusan yang menjadi habitat ikan.
“Bagi warga Tambun Utara, filosofi gabus itu karena emang dulu berawal banyaknya rawa-rawa di sini. Kehidupan warga dulu banyak bergantung pada kegiatan rumah tangga, memasak, dan pohon gabusan banyak tumbuh di sini,” ujarnya, Selasa (10/2).
Menurut Drahim, akar pohon gabusan menjadi tempat berlindung favorit bagi ikan-ikan rawa. Dari situlah masyarakat lokal menyebutnya “ikan gabus”.
“Ikan itu banyak di bawah akarnya pohon gabusan. Orang Bekasi itu pengennya cepat kalau ngomong, jadi disebutlah Ikan Gabus. Dari situ filosofinya muncul,” tambahnya.
Belakangan, patung ikan gabus yang sempat memicu perdebatan warganet karena berada di Gerbang Tol Gabus kini dipindahkan. Patung berwarna hitam itu diletakkan di salahsatu rumah toko (ruko) sekitar 150 meter dari gerbang tol ke arah Tambelang.
Bagi Drahim, ikan gabus bukan sekadar identitas kuliner khas Sayur Gabus Pucung, tetapi juga bukti sejarah ekologi wilayah. Upaya menghidupkan filosofi ini diwujudkan melalui rencana pembangunan pusat kuliner dan souvenir khas Tambun Utara.
“Dipindahin ke ruko yang rencana buat kuliner sama souvenir gabus. Warung gabus nanti lebih mengedepankan kuliner,” katanya.
Drahim optimistis, mengangkat kembali ikon gabus akan berdampak ekonomi nyata. Terlebih, pasca menjadi perbincangan warganet, pembangunan perumahan meningkat, dan penataan jalan serta utilitas dibenahi.
“Ya termasuknya yang kumuh-kumuh dari sepanjang pintu tol sampai ke satu kilo itu udah gak ada lagi. Tentunya ini kan sangat manfaat bagi pengusaha. Pengembang di sini bukan hanya 10 sampai 20, bahkan ratusan pengembang,” terang Drahim.
Namun, upaya menyatukan filosofi gabus ke dalam kebijakan publik menghadapi kendala. Camat Tambun Utara, Najmuddin, menyoroti legalitas lahan di median jalan tempat patung berdiri sebelumnya.
“Di Musrenbang tidak saya usulkan karena status tanahnya belum jelas. Masa di tengah-tengah jalan situ,” ujar Najmuddin.
Saat rawa-rawa telah berganti gerbang tol, kehadiran warung gabus dan pusat souvenir menjadi upaya terakhir agar generasi mendatang tetap mengenal asal-usul tanah kelahiran mereka. Najmuddin juga mempertanyakan seberapa besar dukungan masyarakat terhadap ikon ini.
“Lagipula memangnya masyarakat setuju banget apa dengan gabus itu? Sayur gabus kan masih debatable,” tutupnya. (ris)











